Pendidikan & Kesehatan

Desain Jembatan Ombak Antarkan Mahasiswa ITS Jadi Jawara

Surabaya (beritajatim.com) – Mendesain sebuah jembatan khusus pejalan kaki harus memperhatikan beberapa hal, di samping faktor estetis, rancangan yang dibuat juga harus mempertimbangkan ketepatan dan kekokohan jembatan. Tantangan inilah yang berusaha dipecahkan oleh tiga mahasiswa dari Departemen Teknik Sipil ITS hingga berhasil menyabet first runner up dalam kompetisi National Bridge Competition di Universitas Gadjah mada (UGM), beberapa waktu lalu.

Kompetisi rancang bangun jembatan berskala nasional tersebut menantang peserta untuk mendesain sebuah jembatan yang inovatif sekaligus estetis, untuk bisa diterapkan di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Tim yang beranggotakan Rain Sultan Al Hadiid, Nugraha Alfanda Wildan dan Cita Nanda Kusuma tersebut mencetuskan ide untuk menggunakan desain ornamen ombak sebagai tema jembatan.

Tim ITS membuat desain jembatan ombak

Rain Sultan Al Hadiid menjelaskan, desain ombak sengaja dipilih karena menunjukkan ciri khas geografis dari Kabupaten Kulon Progo. Menurutnya, untuk menonjolkan ikon dari suatu daerah tidak harus diangkat dari kebudayaan setempat, sebagaimana yang dilakukan banyak tim lainnya. “Kebanyakan tim lain memilih ornamen batik sebagai ikon Kulon Progo yang ingin diangkat, jadinya malah terlihat mainstream karena banyak yang pakai,” ungkap mahasiswa yang akrab disapa Sultan ini.

Pada desain jembatannya tersebut, lanjut Sultan, timnya juga menyertakan elemen pemecah gelombang berupa struktur beton berkaki empat atau tetrapod. Diakuinya, struktur beton ini memang lebih banyak digunakan pada jembatan pejalan kaki dibandingkan untuk jembatan penyeberangan kendaraan bermotor. “Sesuai dengan fungsinya, rancangan ini juga dilengkapi dengan pengaman berupa pegangan di sepanjang jembatan,” ujar mahasiswa angkatan 2017 ini.

Di samping unggul dari segi desain, jembatan karya tim yang bernama Gareng 86 ini juga unggul dalam aspek efisiensi segmen. Sultan mengaku timnya hanya memerlukan empat buah segmen untuk merakit jembatannya. Jumlah ini sekaligus tercatat sebagai penggunaan segmen paling sedikit di antara tim lain.

Sementara itu, waktu yang diperlukan tim Gareng 86 untuk bisa merampungkan rakitan jembatan ini juga terbilang singkat, yakni hanya sekitar 2,5 jam. Tim ini berharap ke depannya, jembatan rancangan mereka ini bisa diterapkan penggunaannya di masyarakat agar lebih berguna. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar