Pendidikan & Kesehatan

Desa Sudah di Bojonegoro, Namanya Tertulis dalam Prasasti Canggu

Bojonegoro (beritajatim.com) – Temuan barang-barang bersejarah di Desa Sudah, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro menguatkan bahwa daerah tersebut termasuk daerah permukiman tua. Beberapa barang yang ditemukan dan masih disimpan warga di antaranya guci, piring, tenong dan piringan berbahan dasar tembaga.

Pemerhati Cagar Budaya Kabupaten Bojonegoro, Harry Nugroho mengatakan, Desa Sudah sebelumnya sudah tertulis dalam Prasasti Canggu di era kerajaan Majapahit saat masa kepemimpinan Hayam Wuruk antara tahun 1350 – 1389 Masehi. Dalam prasasti tersebut Desa Sudah masuk salah satu pelabuhan Sungai Bengawan Solo.

“Selain temuan artefak, di Desa Sudah juga memiliki ciri tanaman pohon tua seperti asem dan solobin,” ujar Harry Nugroho, Sabtu (4/1/2020).

Dengan adanya pelabuhan tua di Desa Sudah itu, sehingga diperkirakan pada masanya, kawasan tersebut menjadi pusat keramaian. Mulai dari perdagangan maupun hasil bumi. Hanya saja, kata pria berusia 55 tahun itu, sekarang masih kesulitan mencari titik pelabuhan karena abrasi Bengawan Solo selama ratusan tahun.

“Juga lahannya sudah banyak beralih menjadi lahan pertanian maupun permukiman, sehingga sulit untuk melacaknya,” jelasnya.

Sementara diketahui, melihat bentuk corak ukiran dalam guci keramik, piring dan tenong tersebut diduga pemiliknya memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Selain itu, Bengawan Solo di sekitar juga dulunya sering digunakan untuk berburu emas oleh orang-orang dari luar Bojonegoro. Warga sekitar juga banyak yang menemukan perhiasan emas.

“Temuan itu merupakan hasil niaga yang di barter dengan hasil bumi. Wilayah sekitar Bengawan ini dulunya juga banyak digunakan sebagai tempat untuk mencari emas,” tambahnya.

Sementara Kasi Pelayanan Desa Sudah, Abdul Karim mengungkapkan dengan adanya temuan-temuan benda sejarah itu, sehingga Desa Sudah memiliki potensi wisata edukasi. Pihaknya berencana untuk memberikan edukasi kepada warga agar menyimpan barang-barang sejarah yang ditemukan sebagai bukti.

“Jika temuan itu sudah terkumpul bisa menjadi wisata edukasi dengan mendirikan museum di desa. Sehingga perputaran ekonomi masyarakat sekitar juga terangkat,” ungkapnya. [lus/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar