Pendidikan & Kesehatan

Deklarasi Bioetika dan Human Right Gagas Kemanusiaan Pada Keilmuan Multi Disipliner

Siti Pariani, dr MS MSc PhD, selaku Ketua UI-UCB Unit Indonesia

Surabaya (beritajatim.com) – Berkembangnya zaman menuju modernitas ternyata tidak meninggalkan aspek luhurnya kehidupan di belakang. Terlebih saat ini Bioetika menjadi isu hangat yang sedang digagas di berbagai negara di dunia.

Begitu pula dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya hari ini menggelar Seminar ‘Respect For Cultural Diversity’ World Bioethics Day 2019, Selasa (5/11/2019). Bekerjasama dengan UNESCO Chair in Bioethics (UI-UCB) kegiatan ini mendatangkan berbagai narasumber dari beberapa disiplin ilmu.

Bioetika merupakan studi interdisipliner dari filsafat, etika, sosial, hukum, ekonomi, pengobatan medis, etnologis, agama, lingkungan, dan keterkaitan isu-isu interdisipliner tersebut yang timbul dari ilmu pengetahuan dan teknologi biologi, dan aplikasinya didalam masyarakat dan biosfer.

Bioetika pada awalnya digunakan dalam dunia medis atau kedokteran tetapi saat ini hampir semua disiplin ilmu menerapkan asas kehidupan dalam memastikan bahwa kemajuan IPTEK memberikan kontribusi terhadap keadilan, kesetaraan, dan kepentingan umat manusia.

Dekan Fakultas Kedokteran Unair, Prof Dr dr Soetojo, SpU mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan peringatan Hari Bioethics serta memperkuat asas Bioetika dalam keberagaman.

“Dalam peringatan hari Bioetika, kita merayakannya juga memperkenalkan Bioetika Center yang ada di Unair. Untuk kegiatannya kita membahas perbedaan agar tidak menjadikan hambatan. Bioethics diversity kita kembalikan lagi sesuai asas kita bhineka tunggal Ika,” ujar Prof Soetojo.

Menurut, Dr Peter J Manopo, Ketua Indonesia Bioetik Forum, Pada intinya adalah bagaimana kita bersikap pada kehidupan bukan hanya pada kedokteran melainkan pada semua sisi kehidupan manusia.

“Bioetik bagaimana dasar moral kita bersikap seharusnya kepada sesama makhluk hidup, baik manusia, hewan maupun tumbuhan,” ungkap dr Peter.

Bioetik dalam bentuk legal sebenarnya baru berkembang tahun 2000-an di Indonesia tetapi dalam bentuk lain sudah ada sebelumnya seperti dalam bentuk sumpah kedokteran, akad nikah, etika persidangan dan sebagainya. Saat ini Bioetika tidak hanya difokuskan pada bagaimana cara bersikap ke sesama makhluk hidup tetapi juga menyangkut Hak Asasi.

Dr Peter mencontohkan dalam kasus di dunia medis saat ini tuntutan masyarakat lebih tinggi. Kalau dulu masyarakat apa kata dokter, sekarang masyarakat bisa mengajukan keberatan dan pasien berhak memilih opsi pengobatannya sendiri.

“Pasien sekarang bisa mengajukan tuntutan dan dokter harus menuruti pasien mencari jalan mewujudkan kemauan pasien tapi pengobatan tetap bisa dilakukan dan penyakit bisa sembuh. Sekarang pasien itu subjek bukan objek lagi. Pasien itu diatas yang sebelumnya berada di bawah dokter. Bioetik inilah yang membalikkan fungsi pasien,” terangnya.

Siti Pariani, dr MS MSc PhD, selaku Ketua  UI-UCB Unit Indonesoa mengatakan bahwa dengan diusungnya kegiatan ini dalam seminar nasional diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang mampu mengangkat harkat dan martabat makhluk hidup dan hak asasi manusia. Oleh karenanya kegiatan ini juga berisikan Deklarasi Bioetika dan Hak Asasi Manusia.

“Mewakili UNESCO di pendidikan, kita itu ada deklarasi Human Right dan Bioethics. Dari deklarasi itu diimplementasikan menjadi kurikulum untuk matakuliah departemen yang bersinggungan dengan Bioetika. Harapannya bioetika harus masuk ke semua jurusan,” pungkas dr Siti Pariani. [adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar