Pendidikan & Kesehatan

Dekan FK Unej Soroti Penanganan Risiko Kematian Ibu dan Bayi di Jember

Jember (beritajatim.com) – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember Supangat soroti angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Sampai Mei 2019, angka kematian ibu dan bayi di Jember sudah mencapai 10 per 1000 kelahiran hidup. “Ini jadi sorotan luar biasa,” kata Supangat, dalam acara dialog publik putaran kedua yang digelar Universitas Jember dan Persatuan Wartawan Indonesia, di Gedung Kauje, Selasa (10/8/2019).

Supangat menyarankan agar pergeseran fokus kerja Pemerintah Kabupaten Jember. Saat ini sudah ada sistem yang menghubungkan data kehamilan berisiko dengan tenaga medis setelah lahir.

“Sementara penyebab kematian bayi, sebagian besar justru terjadi sebelum lahir,” kata Supangat, dalam acara dialog publik putaran kedua yang digelar Universitas Jember dan Persatuan Wartawan Indonesia, di Gedung Kauje, Selasa (10/8/2019).

“Selama ini fokusnya hanya setelah lahir. Sementara bayi yang lahir dengan kepala cacat, jantung cacat, perut cacat, mau ditolong seperti apapun, tak akan lama hidup di dunia,” kata Supangat.

Supangat juga menyarankan agar kehidupan para petani di Jember juga mendapat perhatian. Menurutnya, ada korelasi kuat antara kondisi pertanian dan kesehatan.

“Fokus (perbaikan kesehatan) perlu diperlebar ke arah sebelum lahir. Bahkan ke arah sebelum menikah. Paparan pestisida misalnya akan berpengaruh,” kata Supangat.

Pestisida yang memapar suami yang bekerja sebagai petani bisa menurunkan kualitas sperma. “Ketika menghasilkan bayi, bayinya berisiko cacat,” kata Supangat. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar