Pendidikan & Kesehatan

Day Dream, Cara Mahasiswa UK Petra Atasi Kebosanan Pandemi

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 telah berlangsung hampir satu tahun, pastinya membuat kejenuhan, tetapi mahasiswa UK Petra punya cara sendiri untuk mengatasi ruang geraknya yang terbatas dan kebosanan itu.

Melalui ‘Day-Dream’, sebuah video pendek karya para mahasiswa UK Petra berhasil meraih juara 2 dalam Lomba Nasional Kreativitas Mahasiswa LO Kreatif 2020 yang diadakan oleh APTISI Wilayah VII Jawa Timur.

Kelompok yang menamakan dirinya ‘ndadakz team’ ini beranggotakan Johanes Yudi Prihadi (prodi Business Management), Nicholas Jason Santoso (prodi Desain Komunikasi Visual), Geraldo Vincent Chandra (prodi Management Perhotelan) dan Jerico Sasmita Adi (prodi International Business Management).

Mereka bersaing dengan 117 tim dari universitas lainnya di seluruh Indonesia yang mendaftar. “Kami sangat bahagia akan prestasi ini. Sebenarnya kami sudah lama mengetahui adanya lomba ini akan tetapi baru mendaftar mendekati hari terakhir penyerahan karya. Makanya nama tim kami ndadakz,” ungkap Johanes, Rabu (2/12/2020).

Menggunakan peralatan pribadi tim ini dalam menyusun konsep membutuhkan waktu dua hari sedangkan untuk proses syuting hanya memakan waktu satu hari saja dan proses editing membutuhkan waktu hingga dua hari.

Video berdurasi dua menit ini bercerita mengenai mahasiswa yang beranjak keluar dari kebosanan akibat pandemi Covid-19. “Dengan adanya pandemi ini banyak orang terpuruk berada di rumah terus menerus. Sehingga kami ingin menyampaikan bahwa meski masa pandemi semua orang bisa beranjak dari penjara kebosanan dan melakukan aktifitas asalkan mematuhi protokol kesehatan,” urai Johanes.

Ndadakz tim juga menghadapi kesulitan yang tak bisa diprediksi sehingga mau tak mau harus mencari akal menyiasatinya. Cuaca yang tidak bisa diprediksi membuat mereka harus mengganti konsep secepatnya. “Waktu yang sangat mepet, kami memang menjadwalkan syuting hanya satu hari saja akan tetapi ternyata tidak ada matahari sehingga kami harus memodifikasi konsep pada saat itu juga,” tutup Johanes.

Ada banyak pesaing yang harus dihadapi mereka. Dari 117 tim hanya 15 tim saja yang dinyatakan sebagai finalis termasuk Ndadakz tim. Tak sia-sia, mereka mendapatkan hadiah sejumlah Rp 2.000.000 dan E-Serifikat. Penasaran videonya? Tonton saja di https://youtu.be/DYx847TvDak. [adg/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar