Pendidikan & Kesehatan

Datang dari Luar Jember, 5 Orang Langsung Karantina di Stadion JSG

Bupati Faida saat meninjau Stadion Jember Sport Garden (JSG). (foto: Humas Pemkab Jember)

Jember (beritajatim.com) – Tempat karantina untuk penanganan wabah Covid-19 di Stadion Jember Sport Garden (JSG), Kabupaten Jember, Jawa Timur, akhirnya terisi. Ada lima orang yang baru datang dari daerah zona merah dimasukkan ke sana oleh Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember.

“Informasinya ada lima orang sudah masuk,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jember Gatot Triyono, Sabtu (11/4/2020). Ia tak bisa menjelaskan profil lima orang tersebut, termasuk asal lokasi zona merah mereka.

Dua dari lima orang itu dikirimkan oleh pos Satgas Covid-19 yang berjaga di Kecamatan Silo yang berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi. Camat Silo Nunung Agus Andriyan mengatakan, tidak semua warga yang baru datang dari zona merah langsung dimasukkan ke JSG. “Kalau semua ke JSG ya penuh JSG. Daya tampung JSG berapa? Jumlah pemudik dari Banyuwangi dan Bali berapa per hari?” katanya.

Rata-rata per hari ada 300-600 orang yang Bali dan Banyuwangi yang melewati pos penjagaan di Silo. Namun tidak semuanya menetap di Jember. Ada sebagian yang hanya berkunjung beberapa jam dan kemudian kembali ke kota asal, sehingga mereka tidak dipasangi gelang tangan berwarna kuning atau merah sebagai penanda.

Mereka yang saat diperiksa petugas medis di pos perbatasan menunjukkan suhu tubuh 38 derajat celcius atau lebih akan dipasangi gelang berwarna merah. “Yang dikirim ke JSG itu karena suhu tubuhnya 38 derajat, dan selama observasi di Puskesmas Silo 1 tidak juga turun. Itu salah satu indikasi. Dari sini (pos) kalau suhu 38 derajat tidak juga turun setelah setengah jam, kami kirim ke puskesmas dengan ambulans. Itu tanda-tanda awal. Dari puskesmas setelah didiagnosis lebih mendalam lagi, kronologi (riwayat perjalanan) dari mana ketemu siapa, baru dirujuk ke JSG,” kata Nunung.

Sementara itu, warga Jember yang baru pulang bepergian dari zona merah seperti Banyuwangi dan Bali dan tidak menunjukkan gejala sakit akan dipasangi gelang berwarna kuning. “Mereka harus mengisolasi diri di rumah selama 14 hari, karena sekarang membawa virus tidak harus sakit dan mereka semua berasal dari zona merah. Bali dan Banyuwangi sudah masuk zona merah. Mereka harus memakai gelang kuning semua,” kata Nunung. Gelang kuning adalah tanda untuk warga yang masuk kategori ODR (Orang dalam Risiko).

Pemantauan terhadap warga yang baru datang dari zona merah ini melibatkan perangkat desa, bintara TNI pembina desa, dan bhayangkara polisi keamanan dan ketertiban masyarakat. “Jadi yang luput di sini, dilaporkan RT dan RW, dan otomatis kesehatannya dipantau petugas puskesmas,” kata Nunung.

Bagaimana jika ada warga yang mencopot gelang tersebut? “Di luar kemampuan kami untuk mengawasi mereka yang mencopot itu. Sebenarnya tidak boleh dicopot sebelum 14 hari. Sebenarnya (yang memantau) perangkat desa melalui babinsa dan bhabinkamtibmas. Tapi sejauh mana jumlah mereka yang datang dan jumlah perangkat kami,” kata Nunung. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar