Pendidikan & Kesehatan

Data WHO: Setiap 40 Detik, 1 Orang Meninggal Bunuh Diri

Dr Nalini Muhdi saat memaparkan Surabaya Suicide Update 2019

Surabaya (beritajatim.com) – Bunuh diri merupakan masalah kesehatan mental masyarakat global yang multi-faktorial dan kompleks. Kasus bunuh diri ternyata tidak hanya terjadi di kota-kota besar yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, tetapi juga banyak terjadi bahkan di pedesaan.

Menurut WHO, bunuh diri telah menjadi momok dunia, data menyebutkan setidaknya kasus bunuh diri yang tercatat sekitar 800.000 orang di seluruh dunia meninggal akibat bunuh diri. Artinya, setiap 40 detik terdapat 1 orang yang meninggal karena bunuh diri.

The Indonesian National Representatif of International Association for Suicide Prevention (IASP) diwakili oleh Nalini Muhdi, dr SpKJ K dari Kedokteran Jiwa Unair memberikan pemaparan terkait kompleksitas alasan bunuh diri dan status kasus bunuh diri di Indonesia dalam tema Surabaya Suicide Update 2019, Rabu (4/9/2019) di Gedung Daldiri FK Unair.

dr Nalini mengatakan bahwa sejak 2003 Indonesia sudah berada di zona merah rawan upaya bunuh diri. Rentang usia rawan bunuh diri pun ternyata di tataran remaja hingga dewasa awal, atau dalam usia sekolah hingga usia produktif (15-29 tahun).

“Masa remaja hingga dewasa awal itu sangat rentan terhadap depresi yang memicu upaya bunuh diri. Sehingga sebenarnya kasus bunuh diri ini seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat dipermukaan saja. Sedangkan kebanyakan kasus underreported,” ungkap Nalini.

Nalini juga mengatakan bahwa alasan seseorang memutuskan untuk bunuh diri tidaklah bisa atau boleh disimplifikasi atau disederhanakan. Karena saat ini upaya bunuh diri tidak hanya terbesit dibenak orang dewasa, tetapi juga kerap ditemui terjadi pada anak anak dan remaja.

“Alasan bunuh diri itu tidak sederhana, tidak boleh juga disimplifikasikan. Jika bunuh diri menjadi jalan terakhir yang dipilih bukan berarti orang tersebut tidak berfikir panjang atau berlatar belakang tidak berpendidikan tinggi. Keputusan tersebut sangatlah kompleks,” tutur Nalini.

Pemicu bunuh diri adalah adanya sumber-sumber stres yang tidak segera ditangani sehingga menyebabkan timbulnya stresshore yang dalam. Sumber-sumber stres tersebut adalah konflik, tekanan, krisis dan frustasi.

Stresshore di Indonesia itu lengkap, keempatnya ada. Sehingga kalau kita tidak memiliki cara atau kekuatan mental untuk menghadapi hal tersebut, ditambah kita riskan atau termasuk dalam golongan resiko tinggi kita akan rentan untuk depresi dan depresi kalau tidak teratasi akan menyebabkan orang berpikir tentang kematian,” jelasnya.

Selain itu, penyebab bunuh diri adalah reaksi atau resultante dari tekanan lingkungan ekonomi atau kehidupan yang biasanya berkaitan dengan lost atau kehilangan. Bisa jadi kehilangan uang, kehilangan pekerjaan, kehilangan prestis
atau harga diri dan bisa juga kehilangan orang yang dicintai, yang mana kehilangan itu signifikan bagi orang tersebut.

“Tetapi kembali lagi, bahwa keputusan bunuh diri dan alasannya itu sangat kompleks, tidak boleh disimplikasikan. Oleh karenanya, bagi korban bunuh diri yang selamat tidak hanya perlu dirawat dan diobati luka fisiknya, melainkan juga luka dijiwanya,” terang Nalini.

“Harusnya kejadian bunuh diri baik yang meninggal maupun masih tertolong juga harus dilaporkan ke departemen kedokteran jiwa atau psikiater. Karena meskipun telah sembuh luka fisiknya belum tentu luka jiwanya juga ikut sembuh. Hal itu tentu akan sangat memungkinkan untuk upaya bunuh diri terulang kembali,” tukasnya.

Bunuh diri pada dasarnya merupakan masalah mental disorder yang membutuhkan penanganan yang serius, merupakan kembangan dari depresi dan mood disorder sehingga tidak tepat jika korban bunuh diri dikategorikan sebagai korban kecelakaan, bahkan kecelakaan lalu lintas.

“Selama ini tidak banyak catatan khusus terkait kasus bunuh diri, para korban bunuh diri dicatat menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Sehingga penanganan preventif dan postventif menjadi sangat kurang,” tambahnya.

Untuk itu, Nalini berharap stakeholder atau pemangku kebijakan dalam hal ini Kementerian Kesehatan harus memiliki peran dalam suicide preventive. Paling tidak bagaimana upaya untuk mendekati angka catatan kasus bunuh diri yang lebih valid karena saat ini menurut Nalini angka yang tercatat untuk kasus bunuh diri sama sekali tidak valid.

“Mungkin dengan upaya yang komprehensif dari Kemenkes dan rumah sakit untuk setidaknya ada pendataan pasien terkait kecelakaan yang dialami pasien IGD, adakah kemungkinan upaya bunuh diri,” ujar Nalini.

“Angka kasus bunuh diri ini sangat tidak valid, bahkan data yang dicatat WHO saja belum tentu mencakup seluruh kejadian bunuh diri. Banyak kematian karena bunuh diri yang underreported, apalagi yang tidak mati atau masih tertolong, malah tidak tercatat,” tambahnya.

Hal tersebut dikarenakan kasus bunuh diri ini masih bertabrakan dengan stigma masyarakat bahkan agama. Kebanyakan orang mungkin malu atau malah menutupi jika anggota keluarga ada yang berupaya bunuh diri. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar