Pendidikan & Kesehatan

Co-Founder Riliv, Salah Satu Nama di Forbes Beri Motivasi Calon Maba Unair

Surabaya (beritajatim.com) – Salah satu alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah berhasil mengharumkan nama almamaternya. Pasalnya Audrey Maximilian Herli, alumnus dari program studi S1 Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) angkatan 2011, berhasil memasukkan namanya dalan jajaran 30 Under 30 Forbes Indonesia.

Maxi sapaan akrabnya diundang untuk berbagi pengalaman kepada ratusan siswa SMA. Sharing pengalaman itu berlangsung dalam rabgkaian acara Airlangga Education Expo (AEE) 2020 hari kedua, Sabtu (22/2/2020).

Maxi adalah CEO sekaligus Co-founder dari start-up Riliv, sebuah aplikasi meditasi dan konseling berbasis online. Konseling yang diberikan oleh psikolog itu menopang gaya hidup sehat mental para penggunannya.

Tidak hanya membanggakan Unair dengan hasil karyanya, laki-laki yang sudah menekuni bidang IT sejak SMA ini pada Februari 2020 ini berhasil masuk dalam daftar 30 Under 30 Forbes Indonesia sebagai salah satu dari 30 tokoh muda berpengaruh di Indonesia. Hal tersebut merupakan sebuah pencapaian yang sangat membanggakan karena tidak semua orang bisa masuk dalam daftar Forbes.

Dalam talkshow tersebut Maxi bercerita awal terciptanya aplikasi Riliv. Yakni, berawal dari dirinya yang pernah mendapatkan kiriman foto dari salah satu temannya yang melakukan self harm atau melukai diri sendiri karena mengalami depresi. Selain itu, anggapan masyarakat saat ini ketika seseorang datang ke psikolog dianggap gila menjadikan motivasi bagi diri untuk menciptakan Riliv.

“Jadi dulu itu saya pernah mendapat kiriman foto dari tema yang mengalami depresi hingga melakukan self harm. Saya berinisiatif untuk membuat aplikasi online yang dapat diakses dimanapun dengan chat ataupun video call untuk melakukan konseling kepada psikolog secara langsung,” tuturnya.

Sebelum terciptanya Riliv, Maxi mengaku telah mengalami tiga kali kegagalan dalam membangun start-up. Ia mengungkapkan bahwa kegagalannya tersebut adalah karena kesalahan dalam menata niat untuk mendirikan sebuah start-up.

“Membangun sebuah start-up itu seharusnya solve the problem. Jangan mikirin provit dulu. Kesalahan saya waktu itu karena berfikir tentang provit dan provit. Setelah gagal untuk ketiga kalinya dalam membangun start-up, pola fikir saya kemudian saya ubah hingga terciptanya Riliv ini,” ungkap Maxi.

Pesan dari Maxim untuk seluruh siswa adalah agar segera menemukan passion dalam diri mereka. “Segera temukan passion dari dalam diri, dan terus lakukan apa yang kalian suka dan kalian bisa hingga hal tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya. (kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar