Pendidikan & Kesehatan

Ciptakan Masyarakat Inklusi dengan Belajar Etika Komunikasi Disabilitas

Surabaya (beritajatim.com) – Anak berkebutuhan khusus atau disabilitas masih dipandang susah dimengerti oleh mayoritas masyarakat.

Beberapa orang berkebutuhan khusus justru dikucilkan dari lingkungannya. Berbagai alasan melatarbelakanginya, salah satunya adalah banyak yang enggan memahami dunia dan pemikiran anak berkebutuhan khusus karena dirasa terlalu merepotkan. Akhirnya disabilitas hanya dipandang sebelah mata.

Disabilitas sebenarnya memiliki daya dan kemampuan berpikir dengan ritme dan pola tertentu yang tidak sama dengan orang lain, tetapi bukan tidak mungkin mereka memahami apa maksud kita. Melihat hal tersebut Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus (PKABK) mengadakan Seminar Pra-Surabaya Disability Expo yang bertajuk Interaksi dengan Disabilitas, Minggu (24/11/2019) di Amec FK Unair.

Kegiatan ini menurut Sawitri, Ketua Yayasan PKABK merupakan upaya untuk mengajak masyarakat untuk lebih memahami pola interaksi anak kebutuhan  khusus, baik anak tuna netra, tuna wicara, tuna daksa, autisme, cerebal palsy, down syndrome dan sebagainya.

“Interaksi dengan disabilitas bukan tidak mungkin terjadi, bukan tidak bisa kita memahami mereka atau mereka memahami kita, kita hanya perlu tahu etika komunikasinya,” ujar Sawitri.

Etika berkomunikasi menjadi sangat penting karena setiap disabilitas memiliki keunikan dan cara tersendiri. Sebab itu ada beberapa hal yang diajarkan dalam seminar ini, mulai dari Etika Komunikasi dengan Disabilitas, Huruf Braile, dan Bahasa Isyarat.

Selain itu, peserta seminar juga diajarkan bagimana seharusnya jika menjadi orang tua, kerabat ataupun pendamping disabilitas. Karena sikap orang disekitar disabilitas sangat mempengaruhi tumbuh kembang psikologis dan intelektualitas disabilitas.

“Etika berkomunikasi sangat diperlukan dengan penyandang disabilitas maupun dengan orang tuanya atau dengan anaknya apalagi terutama kalau sedang anaknya tantrum,” ujar Sawitri.

Orang terdekat berperan penting karena jika penyandang disabilitas terrekan atau merasa tidak dipahami, otaknya akan merespon hal tersebut secara negatif hingga yang terjadi adalah penyandang disabilitas menjadi telat bicara atau malah tidak mampu bicara dan berkomunikasi sama sekali sehingga yang terjadi adalah tantrum atau luapan emosi yang tidak disampaikan biasanya menjadikan penyandang disabilitas sering teriak teriak dan marah seperti tanpa alasan.

Hal tersebut sering terjadi, menurut Sawitri pada penyandang disabilitas dari latar belakang keluarga tidak mampu secara ekonomi dan tidak berpendidikan.

“kami lebih menghighlight kepada disabilitas dari latar belakang kurang mampu biasanya yang kebutuhan gizi tidak terpenuhi dan yang wawasan orang tua yang minim. Penyandang disabilitas akan lebih banyak disembunyikan dari dunia, justru itu tidak baik,” terang Sawitri.

Penyandang Disabilitas yang terkungkung akan memperparah keadaannya. Oleh kerenanya Sawitri berharap tidak hanya orang tua, keluarga maupun mendamping yang mau belajar etika berkomunikasi dengan disabilitas tetapi lingkungan secara luas juga harus mulai mau memahami disabilitas dan etika berkomunikasinya.

“Dengan banyaknya orang mau belajar bahasa isyarat itu ya kan jadi membuat stimulus untuk mau belajar mau mendekat sehingga terjadi masyarakat yang inklusi masyarakat yang saling bantu masyarakat yang peduli dan akhirnya terciptalah masyarakat yang lebih baik daripada yang sebelumnya,” terangnya.

“Karena tidak ada makhluk yang sia-sia pasti ada kelebihan dan kekurangan masing-masing,” pungkas Sawitri.

Dalam seminar inipun Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Cabang Surabaya pun hadir untuk memberikan dukungan kepada Yayasan PKABK dalam terus mensosialisasikan masyarakat inklusi dan  memberikan ilmu kepada awam terkait pola interaksi penyandang disabilitas dengan memberikan donasi sebesar Rp.10.000.000.

Enny Handayani, Wakil ketua KCBI mengatakan bahwa dana yang dikeluarkan oleh KCBI Cabang Surabaya untuk donasi ini adalah dari hasil open garage atau menjual pakaian layak pakai dari para anggotanya. Ia pun mengatakan bahwa dipilihnya yayasan PKABK karena dianggap sesuai  ideologi KCBI yang tidak mau memberikan bantuan hanya karena alasan agama, ras atau alasan apapun yang bersifat terkotak kotak.

“Kami melihat ABK itu agak kurang dapat perhatian. Kalau boleh dibilang kan kalau orang nyumbang biasanya itu ke panti asuhan, anak yatim, atau rumah ibadah tapi yang ngelihat ABK jarang banget. Itulah yang membuat kami langsung fokus ke ABK,” ungkap Enny yang sehari hari memakai kain dan kebaya yang menyimbolkan Bhinneka Tunggal Ika di ideologinya.

Open garage tersebut tidak hanya baju bekas, tetapi juga sepatu, tas, aksesoris hingga peralatan dapur yang semuanya telah dicuci bersih di binatu terlebih dahulu. Hasil dari penjualan open garage itu tidak hanya didonasikan kepada yayasan PKABK tetapi juga korban bencana Papua dan Maluku. [adg/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar