Pendidikan & Kesehatan

Cerita Penyintas Covid-19 Saat Isolasi di Asrama Haji Sukolilo

Wildan Penyintas Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 tak kunjung usai, jumlah pasien yang dinyatakan positif terus meningkat dari hari ke hari. Salah satu penyintas (korban) positif virus corona, Mohammad Wildan Fariz berbagi cerita usahanya sampai dinyatakan negatif virus corona.

Awalnya Wildan bepergian keluar kota karena suatu pekerjaan, Setelah pulang Wildan mengaku badannya langsung drop merasa kurang fit, flu dan hidung mulai buntu.

Dua harin kemudian Wildan mulai kehilangan indra penciuman, mencium bau apapun tidak bisa disertai dengan badan yang mudah lelah.

“Bahkan dipancing dengan minyak kayu putih hingga parfum yang menyengat sekalipun tetap tidak bisa mencium bau apapun,” ujar Mohammad Wildan Fariz yang akrab dipanggil Wildan, Senin (26/10/2020).

Kebetulan kantor mewajibkan semua pegawainya untuk swab, saat swab pun tindak bisa mencium bau apapun. Setelah kondisinya tidak kunjung membaik selama dua hari, ia memutuskan untuk konsultasi ke halodoc.

“Alhamdulillah, setelah diberi obat dan vitamin, indra penciuman saya mulai kembali, dan badan mulai bugar seperti tidak ada apa-apa,” ujar wildan.

Namun Wildan terkejut dan tidak percaya ketika seminggu kemudian hasil swab tes sudah keluar, ia dan beberapa rekan kerjanya dinyatakan positif Covid-19.

“Saya kaget, tidak menyangka saya bisa kena, karena badan saya waktu itu lagi fit-fitnya dan sudah bisa mencium bau, tidak ada gejala apapun,” tegasnya.

Setelah dinyatakan positif, ia langsung melaporkan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan kamar isolasi di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

“Sebelum ke Asrama Haji, saya dirujuk ke RS Soewandhie untuk check up , karena saya ada masalah di berat badan, obesitas kelas satu. Hasil thorax pun menunjukan tingkat covid sangat tipis, bercak sangat sedikit, hampir nggak ada,” ceritanya.

Ia kemudian ditempatkan di Hotel Asrama haji bukan di RS Haji, bersama pasien OTG dengan gejala ringan lainnya.

“Prosedurnya dapat kamar, cek kesehatan untuk penghuni baru, cek tekanan darah, cek kadar oksigen dalam darah sama diperiksa obat apa yang sudah didapatkan,” ujar Wildan.

Suasana selama karantina di Asrama Haji juga sangat menyenangkan, karena dituntut untuk tidak stres. Karena semakin banyak pikiran imun di tubuh akan semakin menurun.

“Di sana ada Bu Lurah dan Bu RW, untuk memantau teman-teman sesama penyandang positif corona, tiap hari bercanda. Bahkan mereka mengadakan lomba kepit balon hingga kelereng dan uniknya hadiah utamanya ayam bakar,” cerita Wildan dengan tertawa.

Selain itu, ia memutuskan berhenti membaca berita-berita tentang covid yang menyeramkan dan menyedihkan untuk menjaga kewarasan diri.

Setelah empat hari di Asrama Haji dilakukan swab antigen dan hasilnya negatif, ia pun boleh pulang dengan catatan harus karantina mandiri selama tujuh hari.(asg/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar