Pendidikan & Kesehatan

Cerita Penjual Pentol Keliling di Mojokerto Jadi Tim Pemakaman Jenazah Covid-19

Sentot Wibowo (kanan) menunjukkan hasil foto rontgen. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Salah satu anggota Tim Pemulasaran dan Pemakaman Jenasah Covid-19 Kabupaten Mojokerto mengaku tak kapok membantu proses pemakaman pasien virus corona meski sepekan lalu, kaki kirinya keseleo otot usai terperosok melakukan pemakaman pasien di Kota Mojokerto.

Ya, Dialah Sentot Wibowo. Pria berusia 43 tahun ini merupakan warga Dusun Ngingasrembyong, Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Setelah menjalani perawatan RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Ini lantaran luka di bagian kaki kirinya masih sakit.

Penjual pentol keliling ini masih dalam masa pemulihan usai dokter menyatakan jika ia mengalami cidera otot sewaktu membantu pemulasaran dan pemakaman jenazah. Kejadian tersebut dialaminya saat proses pemulasaran dan pemakaman di pemakaman umum Losari, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto awal bulan Juli 2020 lalu.

“Saat itu, pihak keluarga pasien ikut pemakaman. Sewaktu menggeser peti jenazah dikira mau maju terus akhirnya di dorong pihak keluarga mengenai saya. Saya terjatuh miring ke kanan, terus kaki kanan ke bawah tergelantung, nah kaki kiri ada di atas,” ungkapnya, Jumat (17/7/2020).

Masih kata suami dari Chursotin (34) ini, akibatnya kaki kirinya keseleo sehingga ia harus menjalani perawatan di rumah sakit milik Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto dalam beberapa hari. Sentot menceritakan, jika peristiwa tersebut terjadi saat pemakaman jenazah yang ke empat dalam satu hari.

“Setelah itu, saya masih ikut sampai proses pemakaman selesai tapi besoknya besoknya kok kaki kiri saya sakit, bengkak dan sempat tak bisa berjalan. Jadi saya langsung telpon Dinkes Kota Mojokerto, terus saya di bawa ke RSUD (RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo, red) untuk di rontgen lalu dirawat selama tiga harian,” katanya.

Peristiwa yang dialaminya tersebut terjadi setelah ia bergabung dengan Tim Pemulasaran dan Pemakaman merupakan pemakaman yang ke sembilan yang sudah ia lakukan. Meski sudah menjalani perawatan di rumah sakit selama tiga hari, namun sang istri dengan rutin memberikannya baluran ramuan beras kencur.

Sentot Wibowo (kanan) menunjukkan hasil foto rontgen. [Foto: misti/bj.com]
“Katanya ramuan herbal tradisional ini lebih cepat membantu pemulihan bengkak di kaki, jadi setiap hari istri saya membuatkan ramuan ini. Setiap hari ya jualan pentol tapi sejak bergabung di Tim Pemulasaran dan Pemakaman, kalau ada panggilan mendadak ya harus berangkat meski pentol masih banyak,” tuturnya.

Yang berat itu, lanjut Sentot, saat memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap selama 2,5 jam. Jika memakai APD lengkap setengah jam saja keringat sudah bercucuran keluar. Sementara proses pemakaman dari awal pengambilan peti jenazah sampai di masukkan ke liang lahat bisa 2 sampai 3,5 jam.

“Apalagi yang paling sedih itu, ketika warga sekitar menolak dan tidak mau menerima jenazah dimakamkan di pemakaman umum. Padahal yang dimakamkan juga bukan positif Covid-19, itu bikin sedih. Seperti ada penolakan warga Kota di pemakaman umum di wilayah Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto,” urainya.

Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto menawarkan di pemakaman Covid-19 Kota Mojokerto, namun pihak keluarga takut dikucilkan warga. Lemahnya informasi atau ketidak tahuan masyarakat secara luas terkait proses penanganan Pemulasaran dan Pemakaman Covid-19, dinilai sangat rendah.

“Padahal saat di rumah sakit sudah dilakukan penerapan protokol kesehatan pemulasaran jenazah, seperti dikemas dengan menggunakan plastik sebelum dimasukkan ke peti jenazah. Kami berharap masyarakat tidak melakukan penolakan-penolakan lagi, masyarakat juga harus tertib, disiplin dan patuhi protokol kesehatan,” tegasnya.

Sehingga tidak ada pengucilan terhadap keluarga pasien. Sentot menambahkan, jika kakinya sudah sembuh dan ia sudah bisa berjalan, ia akan kembali ikut bergabung dalam Tin Pemulasan dan Pemakanan Covid-19. Menurutnya, kejadian yang menimpanya tersebut hanya salah komunikasi saja. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar