Pendidikan & Kesehatan

Cerita Ibu Saat Pandemi, Belajar Online Hingga Jaga Keutuhan Keluarga

Ilustrasi masa pandemi membuat ibu harus bekerja ekstra mendidik, berkarir, dan melayani keluarga di rumah.(manik priyo prabowo)

Surabaya (beritajatim.com) – Tentu kita masih ingat sebuah pepatah lama, ‘Surga Berada di Telapak Kaki Ibu’. Pepatah ini tak pernah bisa hilang dari ingatan, lenyap dari mata, bahkan sunyi dari telinga. Karena kita tahu bahwa kasih sayang ibu sepanjang masa.

Begitu pula saat pandemi virus Corona melanda dunia dan juga Indonesia. Peran seorang ibu menjadi garda terdepan keselamatan dan pendidikan keluarga saat pandemi. Natalia Diah Kelana (32) ibu rumahtangga sekaligus wanita karir di Surabaya ini bisa menjadi salah satu cerita peran kaum hawa. Bekerja di sebuah bank swasta, ia tetap lakukan yang terbaik buat keluarganya.

Bagaimana tidak, saat pagi hari ia harus membagi waktu untuk menyediakan sarapan, merawat anak dan usai waktu berangkat kerja ia tetap bekerja. Terlebih ibu muda ini juga dalam kondisi hamil muda. Maka proteksi virus untuk diri sendiri dan janin, anaknya yang masih 4 tahun hingga sang suami yang bekerja di lapangan pun tak pernah luput.

Hingga ia dan suaminya pun harus mempersiapkan desinfektan, handsainitizer, masker dan juga menjaga jarak bersama suami. Terutama usai suami bekerja di zona merah virus Corona.

“Saya selalu ingatkan ke suami bagaimana dia sebelum masuk rumah harus semprot desinfektan. Bahkan suami saya wajib menjaga jarak usai saya tahu kalau saya hamil. Profesi dia mewajibkan untuk mendatangi zona merah, makam, kamar mayat bahkan kerumunan massa,” ucapnya kepada beritajatim.com, Jumat (30/10/2020).

Tak hanya harus menjaga kesehatan untuk berolahraga dan pentingnya protokol kesehatan. Sebagai ibu muda ia juga harus mendampingi anaknya yang duduk dikelas TK dengan sistem belajar online. Perannya sangat penting, karena keselamatan keluarga kecilnya menjadi hal utama.

Sebagai istri jurnalis, ia mewajibkan agar program kerja suami tak mengganggu kebersamaan. Meski pandemi membuat keluarganya harus terpisah sejenak, kondisi itu menjadi ‘hallal’ demi keselamatan bersama. Bahkan saat keluar rumah, sang anak dan suami selalu diingatkan supaya memakai masker.

“Harapan saya pandemi virus segera berlalu, biar anak bisa mendapatkan pendidikan lebih baik lagi. Banyak kekurangan dari mendidik anak di rumah, maka saya selalu mengingatkan ke anggota keluarga supaya menaati protokol kesehatan,” tandas wanita yang mengandung enam bulan ini.

Perjalanan ibu tangguh di masa pandemi membuat ibu Lia harus pandai mengatur waktu, tenaga dan pikiran. Meski terkadang lepas emosi karena suami dan anak mengabaikan prokes. Terlebih jika anaknya tak mendengarkan saat diajari belajar. Rasa ingin ‘meladakan’ emosi pun tetap ia tahan, lelah bekerja dan mengajari juga ia tahan.

Semua itu ia lakukan demi kesehatan, keselamatan dan pendidikan keluarga kecil yang ia lalui memasuki tahun ke enam ini. Meski pernikahannya belum berumur dewasa, ia tetap tegar karena harus mempelajari sifat dan psikologis anak serta suaminya. Ditambah lagi pandemi sempat membuatnya merasa berat dan susah.

“Perekonomian menurun dan pekerjaan bertambah. Rasa lelah, emosi dan ingin teriak itu pasti. Sebisa saya tahan meski kadang saya luapkan ke suami supaya bisa menjalin komunikasi juga,” ujarnya sembari duduk di teras rumah yang masih menjadi satu atap bersama keluarga besarnya.

Hal berat dan menghabiskan tenaga ia rasakan. Oleh sebab itu ia selalu mengingatkan ke anak dan suaminya, supaya 3M itu dilakukan demi keluarga. Sebab keutuhan keluarga membuat hidup menjadi lebih sempurna dan indah. “Ingat pesan ibu jaga jarak, pakai masker dan rajin cuci tangan,” ucapnya sebelum anak dan suaminya beraktivitas di luar ruman. (man/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar