Pendidikan & Kesehatan

Cegah Stunting, Gelar Bidik Nutrisi

Jurnalis yang menjadi peserta workshop berpose bersama usai mengikuti kegiatan, Rabu (11/12/2019)

Malang (beritajatim.com) – Anak-anak di Indonesia, tidak terkecuali di kota maupun di pelosok, masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang dapat berpengaruh besar terhadap kehidupannya di masa depan. Sebut saja masalah kesehatan seperti gizi kurang, gizi buruk, kekurangan mikronutrien, obesitas, hingga kondisi stunting.

Dalam upaya memperluas pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk mencegah terjadinya stunting, Danone Indonesia menyelenggarakan program Bidik Nutrisi. Di tahun pertama, Bidik Nutrisi diawali dengan kegiatan Workshop Fotografi ‘Lensa Bercerita: Raih Masa Depan Tanpa Stunting’ bagi pewarta foto di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Anak dengan kondisi stunting beresiko lebih tinggi memiliki penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, dan lainnya di masa depan. Selain itu, menurut Bappenas, anak dengan kondisi stunting diprediksi akan berpenghasilan 20% lebih rendah dari anak yang tumbuh optimal. Kondisi ini diperkirakan akan berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga 2-3% dari APBN atau setara dengan sekitar 400 Trilyun Rupiah.

Dampak permanen dari kondisi stunting dapat menghambat visi pemerintah Indonesia dalam memajukan kualitas sumber daya manusia. Maka dari itu, dibutuhkan terobosan pencegahan stunting melalui kerjasama lintas sektor sebagai upaya efektif untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Indonesia.

Desytha Utami, External Communication Manager Danone for Specialized Nutrition Indonesia mengungkapkan, bisnis yang ia jalankan untuk dapat berkontribusi positif pada kesehatan ibu dan anak. Misi Danone adalah ingin terus dapat membawa kesehatan melalui makanan dan minuman ke sebanyak mungkin masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia.

“Untuk mewujudkan misi tersebut, kami rutin mengadakan beragam penelitian ilmiah, inovasi produk, program berkelanjutan, hingga kegiatan edukasi ke berbagai pihak. Kami berinisiatif melakukan kegiatan Workshop dan Kompetisi Foto ‘Bidik Nutrisi’ guna meningkatkan pengetahuan pewarta foto baik tentang kondisi stunting itu sendiri maupun tentang teknis fotografi dan storytelling terkait human interest agar memperkuat penyampaian informasi para pewarta foto tentang isu ini ke masyarakat,” ujarnya.

Jurnalis foto, Arbain Rambey, saat menyampaikan materi di depan peserta workshop, Rabu (11/12/2019)

Bidik Nutrisi merupakan sarana edukasi kepada pewarta foto yang berfokus kepada penguatan kapasitas jurnalis foto terutama terkait isu nutrisi seperti pencegahan stunting. Pada awal pelaksanaannya, Bidik Nutrisi akan diselenggarakan di Jawa Barat dan Jawa Timur sepanjang bulan Desember 2019 hingga Januari 2020 bagi para pewarta foto dan pewarta foto lepas. Kegiatan ini akan ditutup dengan kompetisi foto yang terbagi atas kategori jurnalistik dan sosial media.

dr. Tonny Sundjaya, Research & Innovation Manager for Danone Specialized Nutrition Indonesia, dalam pemaparannya di Workshop Bidik Nutrisi di sebuah toko kawasan Alun-alun Kota Malang, Rabu (11/12/2019), menjelaskan, berbagai data dan penelitian menunjukkan bahwa masih banyak tantangan di bidang gizi dan kesehatan yang dihadapi ibu dan anak di Indonesia.

“Untuk memahami berbagai tantangan gizi ini secara menyeluruh Danone mengembangkan rangkaian infografis NUTRIPLANET yang mengumpulkan dan menganalisa gambaran lengkap tentang data status gizi masyarakat yang sering terpisah-pisah,” kata dr Tonny di hadapan puluhan jurnalis yang menjadi peserta workshop tersebut.

Fakta dan data di NUTRIPLANET antara lain menunjukkan bahwa prevalensi balita di Indonesia mencapai 30,8% untuk stunting dan 17,7% untuk kekurangan berat badan (Riskesdas 2018). Selain itu, ditemukan pula bahwa 55% balita kekurangan energi (SKMI 2014), sepertiga dari mereka beresiko menghadapi anemia (Riskesdas 2013).

Di sisi kesehatan ibu hamil, 1 dari 2 ibu mengalami anemia (Riskesdas 2018), 1 dari 5 ibu hamil mengalami kekurangan energi kronis (Riskesdas 2018) dan 1 dari 2 ibu kekurangan asupan protein (SKMI 2014, PSG 2016). Di Jawa Timur sendiri tercatat angka prevalensi stunting mencapai 32,81%, lebih tinggi dari prevalensi nasional.

“Stunting adalah kondisi permanen, dan memberikan dampak jangka pendek seperti gangguan pada perkembangan otak, pertumbuhan masa tubuh dan komposisi badan dan metabolisme tubuh. Secara jangka panjang kondisi ini akan mengganggu kemampuan kognitif anak dan prestasi belajar hingga kekebalan tubuh dan membuat anak rawan terhadap berbagai penyakit hingga mereka dewasa kelak,” jelas Tonny.

Dia mengungkapkan, dalam upaya pencegahan stunting, dibutuhkan perubahan perilaku berkelanjutan terkait intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif mulai dari individu, kelompok, hingga masyarakat luas.

Salah satunya adalah dengan meningkatkan kesadaran berbagai lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai hal-hal yang dapat berpengaruh pada kondisi stunting, mulai dari pentingnya nutrisi pada periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (termasuk masa kehamilan), pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat, serta ketersediaan pangan dan lingkungan yang sehat.

Upaya pencegahan melalui intervensi gizi spesifik meliputi asupan gizi, tata laksana, pemeriksaan rutin, dan lainnya. Sedangkan intervensi gizi sensitif terdiri dari penyediaan air bersih dan sanitasi, lingkungan, pendidikan, dan lainnya. “Kondisi stunting harus dicegah sejak masa 1000 hari pertama kehidupan agar tidak menjadi permasalahan berulang pada generasi yang akan datang,” tambah Tonny.

Di kesempatan yang sama, Bidik Nutrisi juga mendatangkan jurnalis foto senior, Arbain Rambey, yang melengkapi pembekalan peserta terkait pencegahan stunting bagi masyarakat melalui foto tunggal bertema human interest. Arbain mengungkapkan, yang dibutuhkan seorang pewarta foto bukan hanya skill fotografer, tetapi juga kemampuan untuk mengambil momen yang bisa bercerita.

“Foto yang baik harus bagus (sesuai dengan tema), indah (memiliki komposisi yang baik), dan menarik (mampu bercerita). Beberapa tips dalam memotret human interest photo adalah harus memahami pokok-pokok masalahnya, lalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahasa visualnya,” ujar Arbain. [luc/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar