Pendidikan & Kesehatan

Carrier Difteri Berasal dari Imunisasi yang Tak Sempurna

dr Rasyid Mohammad Tauhid-al-Amien

Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa waktu lalu, Malang sempat dihebohkan dengan ratusan siswa dari MIN 1 Malang dinyatakan sebagai carrier atau pembawa difteri. Sementara itu, Walikota Malang Sutiaji mengatakan bahwa data dari Dinas Kesehatan Kota Malang, wilayahnya terbebas dari kasus difteri.

Dia menegaskan warga luar atau wisatawan untuk tidak takut berkunjung ke Kota Malang. Sebab, kasus yang terjadi di MIN 1 Kota Malang adalah carrier bukan difteri.

“Status Kota Malang sesuai dinas kesehatan aman tidak ada yang terkena difteri. Tidak perlu takut masuk ke Kota Malang. Paling penting adalah imunisasi. Sesungguhnya kita harus waspada karena harus ada imunisasi 7 kali. Bila tidak imunisasi dikhawatirkan mudah terserah penyakit,” ujar Sutiaji.

Sebenarnya apa itu carrier diferi, bagaimana bisa dinyatakan tidak berbahaya? Difteri adalah infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan. Meski tidak selalu menimbulkan gejala, penyakit ini biasanya ditandai oleh munculnya selaput abu-abu yang melapisi tenggorokan dan amandel.

Bila tidak ditangani, bakteri difteri bisa mengeluarkan racun yang dapat merusak sejumlah organ, seperti jantung, ginjal, atau otak. Difteri tergolong penyakit menular berbahaya dan berpotensi mengancam jiwa, namun bisa dicegah melalui imunisasi.

Difteri disebabkan oleh bakteri bernamaCorynebacterium diphtheria, yang dapat menyebar dari orang ke orang. Seseorang bisa tertular difteri bila tidak sengaja menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin.

Penularan juga bisa terjadi melalui benda yang sudah terkontaminasi air liur penderita, seperti gelas atau sendok. Difteri dapat dialami oleh siapa saja. Namun, risiko terserang difteri akan lebih tinggi bila tidak mendapat vaksin difteri secara lengkap.

Menurut dr Rasyid Mohammad Tauhid-al-Amien, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya angkatan 1961, carrier difteri berasal dari ketidak sempurnaan imunisasi.

“Murid-murid itu pernah mengalami imunisasi yang tidak sempurna, sehingga jadinya walaupun mereka mempunyai kekebalan, namun tidak cukup untuk membunuh kuman yang berada di tubuhnya,” ungkap dokter yang akrab disapa dr Tauhid, Sabtu (26/10/2019).

Ia menjelaskan, bisa saja kuman tersebut memang sudah terlemahkan, tetapi belum sampai membunuh kuman itu sendiri. Sehingga bagi anak anak tersebut tidak merasakan sakit nya, tetapi bagi mereka yang tidak mendapat vaksin atau imunisasi akan lansung berdampak dan memunculkan gejala.

“Ketidaksempurnaan imunisasi bukan karena obat atau vaksinnya salah atau tidak mempan, tetapi karena kondisi anak yang saat itu tidak sempurna, seperti kekurangan gizi sehingga pembentukan antibodi tidak sempurna, tidak cukup untuk menyeranf kuman yang masuk ke dalam tubuh,” urai Ketua IDI Surabaya tahun 1996 ini.

Oleh karenanya, bagi carrier difteri harus mendapatkan penanganan yang serius, karena jika dibiarkan carrier akan berubah jadi penyakit.

“Kuman didalam tubuh carrier masih bisa diatasi dengan pemberian antibiotik. Untuk mengatasi komplikasi yang mungkin terjadi, mungkin bisa diberikan serum anti difteri (ADS). Kalau perlu selama perawatan lanjutan yang saat ini dilakukan, baiknya sekolah ditutup atau siswa carrier bisa diliburkan agar tidak menjangkiti siswa lainnya,” tukas dr Tauhid.

Difteri mampu menular melalui udara dan cairan liur, ingus, dan bersin sehingga penularan dapat meluas dengan cepat seperti wabah. Selain itu, difteri mampu mengakibatkan kematian karena kuman yang menyerang tenggorokan menyebabkan kegagalan pernafasan. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar