Pendidikan & Kesehatan

Cara Ubaya Sambut Natal, Buat Gaun Santa Claus dan Snowman

Surabaya (beritajatim.com) – Dalam rangka menyambut perayaan Natal pada tanggal 25 Desember 2020 mendatang, mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) membuat Pohon Natal, Santa Claus, dan Snowman berbentuk gaun. Kegiatan ini merupakan ujian akhir semester (UAS) Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK) Ubaya semester satu yang tergabung dalam mata kuliah Kreativitas. Tiga karya hasil kreasi mahasiswa FIK Ubaya ditampilkan di Perpustakaan Lantai 5, Kampus Ubaya Tenggilis, Selasa (15/12/2020).

Masa pandemi Covid-19 membuat perayaan Natal tahun ini terasa berbeda. Pada tahun ini, tema Natal yang diusung adalah “Spirit of Christmas”. Sesuai dengan tema tahun ini, mahasiswa FIK Ubaya ingin menghadirkan semangat Natal 2020 melalui kreativitas mereka dengan membuat karya tiga ikon natal yang unik dalam bentuk gaun. Tiga karya yang dibuat ini juga ingin memberikan inspirasi bagi masyarakat dengan membuat kreasi pohon natal, santa claus dan snowman yang berbeda dari biasanya dalam bentuk produk fashion. Rencananya tiga karya hasil kreasi mahasiswa ini akan ditampilkan saat Graduation Show FIK Ubaya pada akhir bulan Januari 2021 mendatang.

“Sebetulnya ini adalah project dari ujian akhir semester (UAS) mata kuliah Kreativitas. Pada mata kuliah ini, sebelumnya telah dibahas mengenai teori fashion collaboration yang berkaitan erat dengan adanya team work. Oleh karena itu, project ujian akhir semester dibuat secara berkelompok dan mengambil tema bernuansa Natal karena kebetulan juga berbenturan dengan perayaan Christmas,” jelas Viviany, S.Ds. selaku Dosen Mata Kuliah Kreativitas FIK Ubaya.

Vivi, sapaan akrab Dosen FIK Ubaya ini menambahkan jika mahasiwa FIK Ubaya yang terdiri dari 29 orang ini dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok yang terdiri dari 9-10 orang mendapatkan tugas dalam membuat Pohon Natal, Santa Claus dan Snowman berbentuk gaun. Sebelumnya masing-masing kelompok bertugas mencari inspirasi atau ide untuk membuat konsep desain yang ingin dibuat. Bahan utama yang digunakan oleh mahasiswa dalam membuat tiga karya desain ini adalah kain tile.

“Mereka menggunakan metode pengembangan desain yang disebut SCAMPER. Metode SCAMPER ini merupakan singkatan dari Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, dan Reverse. Jadi kurang lebih mahasiswa menggunakan metode-metode ini untuk menghasilkan desain dengan inspirasi tersebut,” ucapnya.

Menurut Vivi, melalui project UAS mata kuliah Kreativitas ini mahasiswa dapat belajar dasar-dasar menjadi seorang desainer seperti mengembangkan ide hingga mengaplikasikannya menjadi sebuah karya. Dirinya menegaskan jika salah satu poin penting yang perlu dimiliki untuk menjadi seorang desainer adalah mampu berpikir kreatif secara ide maupun praktikal. Pada mata kuliah di semester awal ini mahasiswa juga belajar pemahaman konstruksi, teknik menjahit, problem solving, hingga manajemen waktu dalam membuat sebuah produk fashion. Nantinya kemampuan dasar ini akan berguna sebagai bekal mahasiswa sampai lulus maupun di dunia kerja bidang fashion yang membutuhkan kreativitas.

“Saat ini mereka working in team di masa pandemi. Jadi mahasiswa harus bisa berpikir kreatif bagaimana cara membagi tugas dengan teman-teman mereka yang berada di luar kota atau berbeda pulau. Disini tentu akan terasa proses kreatif dan kebersamaannya meskipun tidak bisa berkumpul semua di satu tempat tetapi mereka saling terhubung serta mampu bekerjasama dengan baik. Suasana dan semangat Natal juga dapat dirasakan oleh mahasiswa melalui project ini,” jelas Vivi.

Salah satu mahasiswa FIK Ubaya, Steffie Nadyne Feliciona Towoliu mengungkapkan jika project UAS ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengenal teman satu angkatan, merasakan suasana kampus, dan dapat mempraktikan secara langsung materi yang didapat dalam mata kuliah Kreativitas. Steffie menceritakan bahwa suasana dan semangat Natal di tengah pandemi tetap bisa dihadirkan di lingkungan keluarga atau teman-teman melalui beragam kreativitas.

“Makna Natal di tahun ini sangat berarti bagi saya. Jika tahun-tahun sebelumnya bisa merayakan dengan leluasa, di tahun ini dibatasi karena ada pandemi. Jadi saya sangat menghargai setiap waktu bersama keluarga atau bertemu dengan teman walaupun sebentar saja,” tutup Steffie. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar