Pendidikan & Kesehatan

Bupati Jember: Kami Butuh Tambahan 200 Tenaga Kesehatan

Kondisi di tenda darurat RS Paru. [foto: istimewa]

Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto meminta bantuan tambahan tenaga kesehatan untuk Kabupaten Jember, Jawa Timur, karena jumlah tenaga kesehatan saat ini tak memadai untuk menangani pasien Covid.

“Kita butuh sampai 200 orang untuk membantu (pasien) yang berisiko kematian. Saking banyaknya, perawat kita kurang. Kami sudah bekerjasama dengan PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia),” kata Hendy.

Hendy juga minta bantuan kepada Rektor Universitas Jember Iwan Taruna dan Fakultas Kedokteran Universitas Jember. “Tanggal 28 Juli ada wisuda dokter muda. Dokter-dokter yang ikut internship sebanyak 40 orang, mau saya minta semua supaya internship di Jember saja, mengabdikan diri ke Jember dulu. Kalau itu diizinkan, waduh alhamdulillah. Ada 40 dokter tambahan,” katanya.

Hendy mengatakan, ini panggilan hati untuk semua warga Jember. “Apalagi yang berprofesi perawat dan dokter. Ini adalah panggilan hati, bukan tugas lagi. Hati yang memanggil, bahwa pekerjaan ini pekerjaan penyelamatan. Semua wajib prihatin, bahu-membahu, dan gotong royong. Tanpa itu sulit pemerintantah memutus mata rantai Covid-19,” katanya.

“Harapan saya mari sama-sama bertanggungjawab. Yang bertanggungjawab kita semua, karena Covid tidak tahu di mana tempatnya,” kata Hendy.

Rumah Sakit Paru dan Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi sama-sama membutuhkan tambahan tenaga kesehatan. Direktur Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Hendro Soelistijono mengatakan, pihaknya membutuhkan 90 relawan. “Tapi ternyata tidak mudah mencari relawan. Ada yang sudah daftar, (belakangan) dilarang orang tua, dilarang suami. Tidak semua orang mau. Kan ya takut juga. Saya paham,” katanya.

RS Paru terpaksa mengurangi jumlah tempat tidur untuk isolasi pasien Covid-19. Gara-gara jumlah tenaga kesehatan (nakes) tak mencukupi. RS Paru sebenarnya memiliki 96 tempat tidur di dalam ruangan dan 16 tempat tidur di tenda darurat untuk melayani pasien Covid. “Tapi saat ini kami hanya mampu melayani 53 tempat tidur untuk Covid,” kata Direktur RS Paru Sigit Kusuma Jati.

Saat ini ada RS Paru menghadapi dua kendala. Pertama, sejumlah tenaga kesehatan di RS Paru terpapar Covid-19. Salah satu analis laboratorium bahkan gugur karena Covid, yakni Diah Kusuma Wardani.

Kedua, dari seratus orang lebih perawat di RS Paru, di antaranya memiliki komorbid (penyakit bawaan) dan berusia di atas 50 tahun dengan gangguan fungsi jantung, kencing manis, dan asma. “Jadi kami tidak bisa menugaskan perawat dengan komorbid di ruang isolasi Covid,” katanya.

Di tengah kekurangan perawat, RS Paru memiliki dokter dengan jumlah mencukupi. “Khusus perawat dan analis laboratorium yang kami kewalahan,” kata Sigit. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar