Pendidikan & Kesehatan

Budikdamber, Alternatif Ketersediaan Lauk Pangan Mandiri

Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah pandemi Covid-19 banyak masyarakat yang kehilangan penghasilan dan kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pangan hariannya.

Oleh karenanya, Green Leaf bekerja sama dengan Yayasan Manarul Ilmi (YMI) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) dan Laznas LMI memberikan edukasi kepada Paguyupan Nelayan Sumber Rejeki Medokan Ayu terkait Budikdamber (Budi Daya Ikan Dalam Ember), Rabu (20/5/2020).

Pengetahuan tentang Budikdamber ini dibagikan kepada para nelayan sebagai upaya pendayagunaan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang efisien dan bernilai guna. Direktur Pelaksana Green Leaf, Trisuginato, mengatakan Budikdamber dipilih agar nelayan dapat menghasilkan lauk mandiri.

“Selama pandemi, banyak yang pendapatannya berkurang, bahkan menjadi pengangguran. Nah Budikdamber ini mampu menjadi solusi yang murah dan berkualitas dalam menghasilkan lauk pangan mandiri,” ujar Trisuginato.

Budikdamber ini pengaplikasiannya sangat mudah, tinggal menyiapkan ember, gelas plastik, kawat besi, kapas, benang wol, air, bibit lele, dan benih atau tunas kangkung. Pertama, disiapkan gelas plastik yang sudah diberi lubang kecil kecil dan kawat besi untuk menggantungkan gelas plastik di bibir ember.

Kedua, memasukkan benang wol yang menjuntai melewati lubang kecil gelas plastik, kemudian isi gelas dengan kapas sampai permukaan dasar gelas tertutupi. Ketiga, mearuh benih atau tunas kangkung di gelas plastik yang sudah diberi benang wol dan kapas. (Bila tidak ada benih, bisa menggunakan sisa kangkung yang dibeli dipasar, gunakan 5 cm di atas akar)

Keempat, mengisi ember dengan air hingga menyentuh dasar gelas plastik lalu masukkan benih ikan lele berusia 1 minggu sebanyak maksimal 20 ekor. Persiapan Budikdamber pun siap. Ikan bisa diberi makan palet ataupun makanan sisa selama 3 hari sekali. Sedangkan kangkung bisa dipanen seminggu sekali, ikan lele bisa dipanen sebulan sekali.

“Nanti kalau sudah 1 kali putaran panen atau sekitar 1-2 bulan, baik kangkung dan lele. Bisa dipanen seminggu sekali. Tidak perlu vitamin, cukup air biasa, perawatannya pun tidak susah. Ikan kalau tidak punya uang bisa diberi makanan sisa,” terang Trisuginato.

Selain itu, Tryanto, Ketua YMI juga menambahkan bahwa Budikdamber ini selain untuk menjamin ketersediaan lauk pangan mandiri, juga menyediakan makanan sehat dan bergizi. “Kalau kita nanam sendirikan organik, terjamin sehat dan bergizi. Tidak perlu mahal, kalau berhasil setiap hari bisa makan sayur dan ikan meskipun tidak punya uang,” ujar Tryanto.

Muhammad Wahyudi, Nelayan (42) mengaku antusias dengan edukasi Budikdamber ini. Pasalnya ia tidak pernah mendapat pembelajaran budidaya seperti ini sebelumnya. “Kelihatannya mudah, juga menarik bisa nanam dan pelihara ikan buat makan. Kalau ndak punya uang bisa tetap bertahan kalau buat budidaya ini,” ujar Wahyudi.

Selain memberikan edukasi Budikdamber, YMI, Green Leaf, dan LMI juga memberikan bantuan paket sembako kepada 25 nelayan Paguyupan Sumber Rejeki Medokan Ayu, juga memberikan 175 paket sembako bagi warga sekitar medokan ayu.

Budikdamber ini selain bermanfaat dan sebagai alternatif lauk mandiri bagi masyarakat terdampak, kegiatan ini juga menarik dilakukan bagi yang memiliki banyak waktu luang di rumah selama Work From Home (WFH). [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar