Pendidikan & Kesehatan

BPMTPK Kampanyekan Video Konten Positif

Sidoarjo (beritajatim.com) – Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan dan Kebudayaan (BPMTPK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Surabaya adakan Seminar Nasional Hasil Pengembangan Media Video Pembelajaran bagi Siswa SMK-TKR 2019.

Pemateri dalam seminar di antaranya Kepala Pusat Teknologi dan Komunikasi (Kapustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Gogot Suharwoto. Gogot menyebut salah satu cara memerangi konten negatif yang berseliweran di dunia internet yakni dengan cara membuat konten positif.

“Salah satunya untuk memerangi kontrn negatif itu dengan konten tentang pendidikan dan kebudayaan,” kata Gogot Suharwoto dalam materinya tentang Pemanfaatan Tekhnologi dalam Pendidikan Vokasi: Khususnya di SMK-TKR yang digelar di Hotel Utami Juanda Sidoarjo, Kamis (28/11/2019).

Gogot menyebut, Menkominfo RI pernah merilis pada 2017 lalu tentang konten di internet. Hasilnya, dari 1,05 juta konten yang ada, 800 ribu konten masuk dalam kategori konten Negatif.

Seperti Pornografi, Radikalisme, Narkoba, dan lainnya. Sementara, seperempatnya masuk dalam konten positif. Salah satunya konten tentang pendidikan dan kebudayaan. “Makanya, motivasi terbesar kami adalah memerangi konten negatif dengan memperbanyak konten positif,” tambahnya.

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, lanjut dia, seorang guru sudah tidak lagi menjadi sumber informasi. Peranan guru nantinya lebih kepada memberikan motivasi, menginisiasi, membuat anak berfikir kritis, rektor, dan kolaboratif.

“Bagaimana peran guru dalam menyampaikan materi dikelas sudah harus menggunakan tekhnologi. Alasannya, teknologi mudah dihafal kalangan pelajar saat ini,” jelasnya.

Disamping itu, peranan guru nantinya tidak hanya sekadar mengajar di kelas, melainkan mendidik, memberikan problem solving, dan mampu berkomunikasi dengan baik.

“Jadi, video yang dibuat oleh balai pengembangan yang ada di Surabaya bisa dipakai guru seluruh Indonesia. Teknologi yang dibuat ini untuk membantu peranan guru di kelas. Supaya guru tidak hanya mendeliver konten, tapi lebih kepada mendidik,” jelasnya.

Masih kata Gogot, kelemahan guru saat ini adalah membuat konten. Hasil dari riset dari 28 ribu guru yang ada, hanya 46 persen yang mampu menggunakan tekhnologi. Sedangkan guru yang sudah menggunakan tekhnologi sebagai system’ pembelajaran dikelas ada sekitar 18-20 persen.

“Nah, hanya 10 persen guru yang MOU membuat konten. Nah, tujuan pembuatan konten ini agar bisa belajar dengan menggunakan teknologi. Jadi, tidak usah susah susah membuat konten. Dengan harapan, tekhnologi ini semakin menguatkan peranan guru yang ada di Indonesia dalam menyambut era revolusi industri 4.0,” tandasnya. [isa/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar