Pendidikan & Kesehatan

BMS Luncurkan Antologi Lulusan Kelas Penulisan Puisi

Ribut Wijoto bersama Laily Juana selaku Narasumber dan Moderator peluncuran Antologi puisi

Surabaya (beritajatim.com) – Bengkel Muda Surabaya (BMS) kembali mengadakan diskusi dan pembacaan buku puisi ‘Dan Digenggaman ini Mengalir Sihir’ yang merupakan antologi puisi dari 10 pensyair muda Surabaya, Jumat (23/8/2019) di Depan Sekretariat BMS Balai Pemuda Surabaya.

Diskusi malam ini merupakan hasil kelas pembelajaran penulisan puisi selama 6 bulan yang menjadi program BMS. Diskusi ini pun dipimpin oleh Ribut Wijoto selaku Guru atau pengajar kelas penulisan puisi BMS.

Sedangkan pembacaan puisi dilakukan oleh pensyair muda Syrabaya yang juga sebagai penulis puisi di antologi ‘Dan Digenggaman ini Mengalir Sihir’ yakni, Azhar Bashir, Budi Astuti, Devi Ismayanti, Dian Putri, Intan Jihane, Otoks, Tri Agung, Vanessa Helen, Wanti, Wulan Purnami.

Sebanyak 50 puisi terkumpul dalam antologi ini dan pensyair muda Surabaya, Menurut Ribut tidak selalu merujuk pada batasan usia, para pensyair muda ini merujuk pada mereka yang baru belajar menulis puisi.

“Pensyair muda kali ini ada yang berusia 60 tahunan ada juga yang masih duduk di bangku SMP” terang redaktur senior di beritajatim.com.

10 pensyair muda yang merupakan lulusan kelas penulisan puisi ini sepakat untuk mengatakan bahwa hasil kelas penulisan puisi ini mampu meningkatkan produktivitas berkarya. Seperti Azhar Bashir yang merasa sangat terbantu dalam mempertahankan stamina menulis puisi berkat kelas penulisan puisi BMS.

“Karena berada dilingkungan yang memaksa kita (murid kelas penulisan puisi, red) sehingga kita mampu mempertahankan stamina produktivitas menulis puisi,” ujar alumnus Sastra Indonesia UNAIR ini.

Selain itu, Intan Jihane juga menambahkan bahwa di kelas penulisan puisi ini selain diajak untuk terus produktif, siswanya juga diajarkan berbagai teknik penulisan yang digunakan oleh pensyair nasional.

“Kami diajarkan membedah teknik penulisan puisi pensyair-pensyair besar Indonesia, dikupas kemudian diajak untuk meniru teknik tersebut sebelum kami menemukan teknik kami sendiri,” ungkap perempuan yang aktif berkarya di no-exit theatre ini.

Sebagai Guru Kelas Penulisan Puisi BMS, Ribut Wijoto mengatakan bahwa sebenarnya puisi masih banyak peminatnya di Surabaya, terbukti yang mengikuti kelas penulisan ini pun datang dari beragam rentang usia. Dalam kelas penulisan targetnya adalah memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar menulis puisi.

“Motif masing-masing orang dalam menulis puisi bermacam-macam, kami memfasilitasi dan memberikan sarana bagi mereka yang ingin belajar menulis. Baik dan buruk hasilnya tidak bisa dijadikan patokan. Jika hari ini mereka dapat dikatakan lulusan tetapi untuk menjadi pensyair yang mumpuni harus belajar dan melalui proses dialektik yang suntuk terlebih dahulu,” terang Ribut yang juga dikenal sebagai kritikus sastra dari Jawa Timur ini. [adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar