Pendidikan & Kesehatan

Solekhan Raih Doktor di ITS

Berkat Modifikasi Spike pada Audio Musik Gamelan

Surabaya (beritajatim.com) – Mengacu pada kemajuan teknologi saat ini, terutama dalam bidang pengolahan audio sinyal, Solekhan, mahasiswa program doktor (S3) Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meneliti tentang modifikasi spike pada audio musik gamelan. Penelitian dari disertasinya tersebut dipresentasikan pada sidang terbuka promosi doktor, Selasa (19/2/2019).

Dijelaskan Solekhan, penelitiannya tersebut bertujuan untuk memahami fitur dan karakteristik dari spike itu sendiri. Pria yang juga merupakan dosen Teknik Elektro Universitas Muria Kudus (UMK) menjelaskan, dalam modifikasi spike ini digunakan metode Modification Spike Harmonic-Percussive Source Separation (ME-HPSS). Metode tersebut sudah terbukti sangat efektif untuk melakukan pemisahan komponen harmonik dan perkusif pada audio.

Solekhan menjelaskan, spike pada audio musik sendiri merupakan suatu gejala lonjakan alami pada awal onset. Dalam kamus Oxford, istilah spike dijelaskan sebagai durasi denyut yang sangat singkat dengan peningkatan yang cepat diikuti oleh penurunan yang cepat.

Pada instrumen musik gamelan, kemunculan spike juga tergantung dari kelompok instrumen musik gamelan. Keberadaan spike yang sering muncul pada hasil rekaman instrumen musik gamelan, khususnya pada kelompok gamelan bakungan (pukul) merupakan fitur alami yang terjadi.

Modifikasi terhadap spike yang dilakukan adalah dengan jalan mengurangi, menghilangkan, dan juga meningkatkan spike. “Namun untuk itu, tidak bisa dilakukan secara sembarangan, harus mengikuti ketentuan tertentu untuknya,” terang pria yang menjadi doktor pertama di Fakultas Teknik UMK tersebut.

Pria kelahiran Pati Jawa Tengah itu juga menyebutkan bahwa dari evaluasi persepsi modifikasi spike dengan metode MS-HPPS pada variasi Modification Factor (MF) 0.8 hingga 1.2 nilai persepsi (imperceptible), MF 0.6 hingga 0.4, dan 1.4 hingga 1.6 nilai persepsi (perceptible but not anonnoying), MF 0.2 dan juga 1.8 nilai persepsi (slightly annoying). Sedangkan pada MF 2 ke atas hasil perceptual sudah dalam kategori mengganggu. Sehingga untuk MF mendekati 1, evaluasi persepsi semakin baik.

Pada akhir presentasi disertasinya yang berjudul Modifikasi Spike pada Audio Musik Gamelan Menggunakan Harmonic-Percussive Source Separation, Solekhan menyebutkan bahwa penelitian ini diharapkan untuk terus dilanjutkan. Harapannya, juga bisa sampai mendetail terhadap deteksi notasi musik gamelan, pengubah notasi musik gamelan ke suara audio gamelan, dan pengubah suara gamelan ke bentuk notasi musik. “Kami juga akan terus terbuka lebar bagi para peneliti lain untuk ikut bergabung bersama kami,” ujarnya. [adg/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar