Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Berikut Sebaran 72 Kasus PMK di Magetan

Salah satu kandang yang harus lockdown pasca sapi di dalamnya dinyatakan positif terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) .

Magetan (beritajatim.com) – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang tercatat dalam data Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan bertambah jadi 72 kasus.

Total tersebar di 19 desa di 10 kecamatan di Magetan. Masyarakat diminta waspada terlebih bagi yang memiliki hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, dan babi.

Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan Drh Budi Nurrohman merinci 19 desa di 10 kecamatan tersebut meliputi satu ekor sapi simental dan 2 sapi limosin di Desa Pencol Kecamatan Kartoharjo, seekor sapi simental di Desa Baluk Kecamatan Karangrejo.

Berikutnya di wilayah Kecamatan Parang yakni seekor sapi limosin dan simental di Desa Ngaglik, 5 ekor sapi simental dan 10 ekor sapi limosin di Desa Pragak, serta dua sapi simental dan seekor sapi limosin di Desa Tamanarum.

Kemudian di wilayah Kecamatan Poncol terdapat dua ekor sapi limosin di Desa Genilangit, seekor sapi limosin di Desa Gonggang, dan seekor sapi limosin di Desa Poncol. Berikutnya di wilayah Kecamatan Panekan, untuk Desa Turi ada empat sapi limosin dan seekor sapi PO, kemudian seekor sapi PO di Sidowayah dan seekor sapi limosin di Banjarejo yang terjangkit PMK.

Kemudian untuk wilayah Magetan ada satu sapi limosin yang dinyatakan positif. Untuk wilayah Plaosan yakni dua ekor sapi limosin di Desa Puntukdoro dan 5 ekor sapi limosin di Desa Bogoarum. Untuk wilayah Kecamatan Sukomoro ada seekor sapi PO di Desa Sukomoro dan seekor sapi limosin di Desa Bibis.

Termasuk di Kecamatan Nguntoronadi ada seekor sapi simental dan dua ekor sapi limosin yang terjangkit di Desa Sukowidi. Kemudian ada seekor sapi limosin di Desa Ginuk, Karas yang terjangkit.

Terakhir, di Kecamatan Kawedanan tepatnya di Desa Sugihrejo yakni sebanyak 9 sapi PO, 4 sapi simental, dan 8 sapi limosin yang terjangkit.

”Kami sudah melakukan lockdown kandang. Kami masih terus melakukan perawatan pada sapi-sapi yang terjangkit PMK. Kami tidak memungut biaya untuk pengobatan ternak ini,” kata Budi, Jumat (20/5/2022).

Dia menyebut kalau akan terus melakukan pelacakan terhadap ternak yang terindikasi terjangkit PMK. Pihaknya, terus mengimbau masyarakat agar tidak panik dan segera melapor ke dinas jika ada ternak yang sakit. Dia meminta pada para peternak untuk terus melakukan desinfeksi secara mandiri dan teratur.

”Semoga dengan pendampingan intensif, bisa segera disembuhkan. Dilema dengan kondisi ini, di satu sisi pedagang berharap banyak dengan Iduladha ini, di satu sisi, kami harus menutup pasar dan membatasi tata niaga ternak,” katanya.

Untuk diketahui, sebelumnya ada 24 ekor sapi yang dinyatakan positif PMK di dua desa di wilayah Kecamatan Panekan dan Kawedanan. Namun, kini bertambah jadi 72 ekor yang tersebar di 16 Desa dan 10 Kecamatan di Magetan. Penutupan pasar hewan berpotensi diperpanjang sama kasus PMK di Magetan jadi nol kasus. (fiq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar