Pendidikan & Kesehatan

Segera Launching

Beragam Produk Penanggulangan Covid-19 dari Unair, Termasuk 2 Jenis Vaksin

Surabaya (beritajatim.com)- Universitas Airlangga (Unair) akan melaunching beberapa produknya terkait dengan upaya penanggulangan Covid-19. Launching tersebut dilaksanakan pada 9 November 2020 bertepatan dengan Dies Natalis ke 66 Unair.

Rektor Unair, Prof Muh Nasih mengatakan bahwa launching berbagai produk ini bukan ditujukan untuk segera digunakan, tetapi untuk melanjutkan tahap selajutnya. Beberapa produk yang akan dilaunching tersebut yakni; Vaksin Merah Putih dan penandatanganan izin dengan PT Biotis, Biofarma dan Kemenristekdikti untuk uji coba pada manusia.

Vaksin Oral Kolaborasi bersama London School of Hygine and Tropical Medicine (LSHTM) di London Inggris yang merupakan Universitas peringkat 1 di dunia untuk bidang Kedokteran Tropis. “Prediksi kita kalau sekarang November (dilakukan uji klinis, red), Maret-April keliatannya tuntas,” ujar Prof Nasih, Kamis (5/11/2020).

Prof Nasih menjelaskan, dari segi proses pembuatan vaksin oral dinilai lebih mudah dibandingkan vaksin “Merah Putih”, karena berbentuk tablet yang dapat diminum. Vaksin oral tersebut bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia (imunitas) dalam melawan virus.

Sedikit berbeda dengan obat yang menargetkan virusnya secara langsung. Vaksin tersebut dikembangkan kerja sama Institute of Tropical Disease (ITD) Unair dan London School of Hygiene and Tropical Medicine, Inggris. Kendati begitu, jika hal tersebut sudah siap pihaknya akan tetap melakukan evaluasi efek samping dan sebgainya agar tetap aman jika digunakan.

Dalam pembuatan vaksin oral ini, pihaknya bekerjasam dengan The London School of Hygiene and Tropical Medicine.
“Melihat model dan lain-lain, tampaknya vaksin oral lebih mudah. Sedangkan vaksin “Merah Putih” ini butuh aktifitas termasuk banyak tenaga dan persiapan-persiapan lainnya,” ujar dia.

Sementara untuk pengembangan virus oral, ia mengatakan jika hal tersebut dilakukan di Indonesia, termasuk ahli yang telah disiapkan. “Tentu jika ada teknologi tertentu persiapan juga kita siapkan di Inggris. Yang jelas bukan yang dinonaktifasi kan ya,” tandasnya.

Meski begitu, Prof Nasih menekankan bahwa proses pengembangan vaksin tidak mudah dan singkat. Beragam vaksin membutuhkan waktu tahunan bahkan belasan dan puluhan tahun dari proses eksplorasi virus hingga tersertifikasi untuk digunakan secara massal.

Namun dengan pesatnya perkembangan teknologi IR 4.0 bahkan 5.0, khususnya di bidang bio-molecule engineering, medical engineering, dan bioinformatics, maka kemungkinan pengembangan vaksin saat ini menjadi lebih cepat dibanding era 3.0 atau sebelumnya.

“Dalam pengembangan dua vaksin ini, dipimpin dua tim yang berbeda. Di platform pertama yakni viral vektor diketuai Prof. Dr Fedik Abdul Ratam, drh. Sedangkan di tim kedua diketuai Prof. Dr. Budi Santoso, dr., SpOG(K) dengan platform peptide, namun kedua tim peneliti ini tetap saling membantu,” jelasnya.

Tim pengembangan vaksin di Unair ini melibatkan berbagai praktisi, para peneliti, akademisi dan stakeholder. Tak hanya itu, berbagai pusat riset Unair juga terlibat dalam pengembangan vaksin. Seperti PUI-PT Institute Tropical Disease, PUI-PT Pusat Riset Molekul Hayati (UniversityCoE-Research center for Bio-Molecule Engineering atau BIOME), dan AIRC. Saat ini pengembangan vaksin di Unair sudah memasuki tahap ketiga dari keseluruhan tahapan pengembangan vaksin. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar