Pendidikan & Kesehatan

Belum Punya Virusnya Corona, Prof Nidom Minta Bantuan Pemerintah

Prof Dr drh Chairul Anwar Nidom

Surabaya (beritajatim.com) – Empon-empon atau bumbu jangkep atau tanaman curcumin merupakan salah satu herbal yang dipercaya bisa menangkal virus corona (Covid 19).

Berdasarkan penelitian Prof. C.A. Nidom, Guru Besar Unair dan Ketua Tim Riset Corona & Formulasi Vaksin Professor Nidom Foundation (PNF), disebut tumbuhan curcumin seperti jahe, temulawak, sereh, kunyit dan lainnya mampu menangkal flu burung yang menjadi endemi dunia pada 2015 lalu.

Sedangkan virus corona merupakan virus yang masih dalam satu kingdom virus yang sama dengan flu burung dan SARS yang dampak klinisnya jauh lebih mematikan. Berdasarkan dari fakta tersebut maka tamanan curcumin dirasa mampu menjadi formula yang tepat untuk obat virus corona.

“Hasil riset tamanan curcumin pada flu burung tersebut dapat dijadikan rujukan, mengingat efek dari kedua virus tersebut sama yakni menyerang saluran pernafasan, khususnya paru. Maka kami yakin curcumin dapat digunakan pula untuk pengobatan virus corona,” terang Prof Nidom, Kamis (5/3/2020).

Meskipun tanaman curcumin ini sangat dekat dan mudah ditemukan dalam keseharian kita, tetapi sampai saat ini Prof Nidom yang berkerja bersama yayasan yang dikelolanya belum bisa menindaklanjuti formula yang telah dirancang untuk penanggulangan virus corona.

Hal ini dikarenakan formulasi tersebut hanya bisa direalisasikan keakuratan dan kecocokannya jika ada sample spesimen positif terjangkit virus corona.

“Sedangkan riset PNF yang saat ini saya lakukan berkait dengan formulasi empon-empon terhadap fungsi khusus misalnya: formulasi yang cocok untuk flu burung; formulasi empon-empon untuk corona. Namun untuk corona sementara ini belum sempurna karena sample virusnya belum diperoleh,” tukasnya.

Terkait hal itu, Prof Nidom mengatakan bahwa dirinya membutuhkan bantuan pemerintah dalam riset ini. Padahal menurutnya, jika ia bisa mendapatkan akses virus positif maka formula empon-empon nya bisa diuji coba khasiatnya.

“Sampai saat ini kami belum dapat informasi bagaimana memperoleh sample virus corona dari spesimen positif yang terjangkit, sebagai bahan riset untuk formulasi empon-empon atau bahan lain dan bahan seed vaksin,” terangnya.

Terlebih sample virus corona ini digunakan untuk menguji hasil formulasi dari PNF. Karena jika sudah mendapat virusnya, formulasi tersebu dilakukan uji preklinis pada hewan lab khusus. Uji harus dilakukan pada fasilitas Animal BSL3 yang saat ini hanya dimiliki oleh PNF.

Sebelumnya, saat pengujian obat untuk flu burung juga dilakukan di PNF, yakni salah satu pengujian formulasi empon terhadap infeksi virus yang keganasanya lebih dari corona.

“Jadi tolong agar otoritas kesehatan Indonesia bisa terbuka bagi lembaga riset (pemerintah & swasta) khususnya akses untuk sample spesimen pasien positif. Semakin cepat semakin baik. Karena ini menyangkut masalah kesehatan seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar