Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Belum Genap Seminggu, DBD di Ponorogo Sudah Ada 21 Kasus

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Ponorogo, Heni Lastari(foto/Dok.beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) – Tahun baru belum genap seminggu, warga Ponorogo yang terjangkit penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue (DBD) sudah mencapai puluhan. Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo, dari tanggal 1 hingga 5 Januari 2022, tercatat sudah ada 21 orang yang terjangkit penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk aedes aegypti itu.

“Pasien DBD dari tanggal 1 hingga 5 Januari ini sudah ada 21 orang,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Ponorogo, Heni Lastari, Kamis (6/1/2022).

Temuan fakta di lapangan, kata Heni memang banyak ditemukan yang bergejala. Namun, pihaknya tidak bisa langsung memutuskan yang bergejala tersebut sebagai pasien DBD. Dinkes Ponorogo harus melakukan serangkaian pemeriksaan, untuk memastikan seseorang itu terjangkit penyakit DBD. Yakni dilakukan pemeriksaan klinis dan labolatoris. “Kalau bergejala ya belum bisa dikatakan DBD, harus ada pemeriksaan klinis dan labolatoris,” ungkap dokter gigi tersebut.

Heni menyebut jika kasus DBD saat ini meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun lalu dengan bulan yang sama. Kali ini yang memeriksakan ke fasilitas kesehatan cenderung tinggi. Hal tersebut dimungkinkan karena kesadaran masyarakat untuk periksa tinggi dibandingkan tahun lalu. “Dulu mungkin takut periksa ke layanan kesehatan, mungkin takut ada covid-19. Sedangkan saat ini sudah landai, mereka tidak takut lagi,” katanya.

Sementara itu, adanya peningkatan kasus DBD di Ponorogo ini, membuat bupati Sugiri Sancoko menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menekan persebaran virus dengue itu. Dirinya menghimbau masyarakat untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serentak di bumi reyog.

Langkah yang dilakukan Sugiri lainnya, salah satunya dengan berkoordinasi dengan Kepala Dinkes Jawa Timur Kohar Hari Santoso. Dia ingin meminjam atau meminta bahan untuk melakukan fogging. Hal itu dilakukan untuk antisipasi, jika ada gerakan fogging. “Sementara kita pinjam bahan atau obat untuk fogging ke Dinkes Jatim, ya kalau boleh minta karena stok juga menipis,” ungkap Sugiri.(end/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar