Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Belajar Kasus China, Waspada Balas Dendam Berwisata di Tengah Pandemi

Foto: Ilustrasi

Surabaya  (beritajatim.com) – Pantai Sanur dan Kuta dipenuhi wisatawan pada akhir pekan minggu lalu seiring dengan penurunan level PPKM dari level 4 menjadi 3. Industri pariwisata pun mulai menggeliat, namun pemulihan ekonomi ini masih dibayangi oleh bahaya penyebaran virus Covid-19.

Peningkatan mobilitas dan aktivitas masyarakat tersebut dikhawatirkan mengarah ke fenomena revenge travel, yang baru-baru ini juga sempat disebut-sebut oleh tokoh politik di Indonesia.

Para pakar pun mengungkapkan kekhawatiran yang sama. Ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane, mengaku khawatir terjadi revenge travel akibat pembatasan ketat selama beberapa bulan yang menyebabkan perasaan euforia atau bebas.

Meski demikian, Pane menjelaskan bahwa fenomena tersebut umum terjadi, terutama ketika kita tersandera kesibukan sampai jenuh kita ingin balas dendam. Yang menjadi permasalahan adalah risiko penularan virus menjadi lebih tinggi dengan adanya kerumunan akibat revenge travel.

Pane mengatakan jika protokol kesehatan diterapkan secara optimal, tentu risiko transmisi bisa ditekan. Namun, pengawasan pada kerumunan kerap menjadi tantangan.

Revenge travel, lanjut dia, tak akan menjadi masalah ketika dibarengi dengan kelengkapan persyaratan perjalanan dan protokol kesehatan yang ketat dan dilakukan dengan disiplin. Masalah utamanya, siapa yang mengawasi atau mengontrol kerumunan yang tercipta ini.

Hal senada diungkapkan Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban. Dia menyebutkan bahwa pelonggaran aktivitas masyarakat selama PPKM membuat mereka ingin sekali melakukan perjalanan wisata.

Meskipun hal tersebut kini tidak dilarang di wilayah level 1-3, tetapi tampaknya hal ini masih mengkhawatirkan. Sebab, pandemi benar-benar masih belum bisa dikendalikan di sebagian besar negara.

Efek bola salju

Revenge travel juga memiliki semacam efek bola salju, yang berpotensi terus menyebar hingga terjadi secara masif. Apalagi, transaksi dan pertukaran informasi lebih mudah dengan bantuan internet, termasuk untuk mengakses hiburan dan merencanakan perjalanan wisata.

Situs web perjalanan MakeMyTrip menemukan lonjakan pemesanan hotel hingga 200% sejak pembatasan mulai dilonggarkan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Booking.com pun menyatakan, 72% orang merasa bahwa bepergian tahun ini lebih penting bagi mereka daripada sebelum pandemi.

Bahaya dari revenge travel juga disebutkan dalam sebuah fakta menarik yang diunggah di akun Instagram @pandemictalks. Pandemic Talks menjabarkan kalau revenge travel disebabkan oleh kebosanan di rumah sampai iri melihat kerabat yang bebas bepergian di tengah pandemi.

Selain itu, Pandemic Talks juga menggarisbawahi, unggahan foto atau video di media sosial selama seseorang melakukan revenge travel akan mengundang orang lain yang pemahaman mengenai pandeminya rendah.

Orang tersebut bisa saja ikut berkegiatan yang kurang esensial di luar rumah. Ada pula wisatawan revenge travel yang merasa “pongah” karena dirinya mungkin belum pernah terpapar virus corona atau sudah pernah mengalami lalu sembuh, atau merasa aman karena telah mendapat vaksinasi penuh.

Kasus revenge travel sebenarnya pernah terjadi di Indonesia, yakni saat libur Lebaran 2021. Objek wisata penuh, dan mayoritas masyarakat melakukan mudik secara masif. Hasilnya, Indonesia harus mengalami gelombang kedua pandemi.

Pandemic Talks juga menulis, kerumunan tidak dapat dihindari saat berwisata. Orang yang sering bepergian, apalagi yang kurang menjaga protokol kesehatan, tentu saja lebih berisiko terpapar virus corona saat berwisata.

Belajar dari China
Di luar negeri, fenomena revenge travel juga pernah terjadi. Pada akhir 2020 misalnya, pemerintah China justru mengampanyekan revenge travel guna memulihkan kondisi ekonomi melalui pariwisata.

Jutaan penduduk China pun dilaporkan melakukan perjalanan ke berbagai penjuru negeri setelah hampir setahun dalam karantina yang membatasi pergerakan mereka.

Alhasil, pada pertengahan 2020 lalu, tingkat pariwisata domestik China mengalami peningkatan hingga 60% dibanding saat masa karantina. Pemerintah setempat percaya diri karena China memang menjadi salah satu negara yang cukup berhasil mengendalikan kasus Covid-19.

Namun perlu dipahami, meski revenge travel dianggap ampuh dalam meningkatkan kembali perekonomian negara, fenomena tersebut hanya berhasil pada negara- negara yang telah berhasil mengendalikan jumlah kasus positif.

Fenomena revenge travel bisa menjadi risiko yang berbahaya bagi negara dengan tingkat kasus positif yang belum terkendali. Pasalnya, jumlah pelancong domestik yang tinggi di negara tersebut tetap memiliki risiko penularan.

Hal tersebut dikhawatirkan dapat memicu munculnya gelombang pandemi lanjutan dalam negara tersebut. China sendiri diketahui kembali melakukan lockdown karena jumlah kasus covid-19 yang kembali meningkat.

Sejak Agustus 2021, China kembali dibayangi peningkatan penyebaran virus Covid- 19 hingga terpaksa kembali melakukan pengetatan. Mereka menghentikan aktivitas penerbangan dan kereta api, dan membatalkan liga basket.

Pemerintah China juga sempat mengumumkan tes massal di Wuhan lantaran virus dengan varian delta menyebar di wilayah tersebut. Para warga pun kembali diminta untuk diam di rumah.

Indonesia Tempati 10 Besar Negara dengan Jumlah Suntikan Vaksin Covid-19 

Indonesia telah mencapai target 40 persen pemberian dosis pertama dan 22,73 persen dosis kedua vaksin Covid-19 dari 208.265.720 sasaran vaksinasi di Indonesia. Pencapaian tersebut menempatkan Indonesia ke dalam 10 besar negara dengan jumlah suntikan vaksinasi Covid-19 terbanyak di dunia.

Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr. Reisa Broto Asmoro, dalam keterangan persnya pada Jumat, 24 September 2021, di Kantor Presiden, Jakarta, yang ditayangkan langsung pada kanal YouTube Sekretariat Presiden.

“Alhamdulillah, puji Tuhan, Indonesia sudah melampaui target 10 persen, bahkan sudah mencapai benchmark atau target 40 persen pemberian dosis pertama di minggu ini,” ujar Reisa.

“Hal ini dimungkinkan karena pemerintah Indonesia dengan gencar menyediakan stok vaksin dan mendistribusikannya,” sambung Reisa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan target vaksinasi sebesar 10 persen populasi di setiap negara pada bulan September 2021, 40 persen populasi di setiap negara pada akhir 2021, dan 70 persen populasi dunia pada pertengahan tahun 2022.

Reisa mengungkapkan bahwa secara keseluruhan, 43,9 persen populasi dunia telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19. Sebanyak 6,03 miliar dosis telah diberikan secara global, dan 28,15 juta vaksin telah disuntikan kepada penduduk dunia setiap harinya.

Reisa juga menjelaskan bahwa per 24 September 2021, pemerintah telah menerima lebih dari 273,6 juta dosis vaksin baik melalui jalur pembelian langsung, kerja sama global atau Covax Facility, dan hibah dari negara-negara sahabat.

“Dari Januari sampai dengan September 2021, pemerintah sudah menyalurkan lebih dari 179,8 juta dosis ke seluruh penjuru Indonesia,” jelas Reisa.

Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru juga menekankan bahwa upaya pengendalian Covid-19, terutama vaksinasi Covid-19, bukan hanya mengenai angka belaka melainkan kerja keras banyak pihak.

“Dua ratus juta lebih dosis yang sudah datang ke Indonesia melalui 79 kedatangan sampai dengan pagi tadi jam 10.00 WIB, adalah kerja keras dan gotong royong dari banyak orang,” tegas Reisa.

Reisa pun mengajak masyarakat untuk segera mendapatkan vaksin tanpa perlu menunggu untuk memilih vaksin. Hal tersebut dinilai sebagai cara untuk menghargai kerja keras semua pihak yang terlibat dalam upaya untuk mengakhiri pandemi Covid-19.

“Vaksin yang terbaik adalah yang saat ini tersedia, tidak perlu menunggu untuk memilih-milih,” tandas Reisa. (ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar