Pendidikan & Kesehatan

Belajar di Rumah, Puluhan Siswa SMA Swasta Membuat Miniatur Khas Gresik

Gresik (beritajatim.com) – Imbas pandemi Covid-19, puluhan siswa SMA swasta membuat miniatur karya seni rupa tiga dimensi khas Kota Gresik.

Mereka mengerjakan miniatur itu, di rumah masing-masing sambil belajar mengenai ikon-ikon bersejarah di Kabupaten Gresik.

Kris Aji salah satu seniman sekaligus guri seni rupa menuturkan, tema ini sengaja dipilih sebagai upaya untuk memperkenalkan lebih dalam kepada para siswa tentang ikon Gresik.

Jadi tak heran jika karya-karya miniatur yang diciptakan para siswa berbentuk bangunan cagar budaya yang cukup populer.

“Miniatur karyanya ada Gardu Suling, Gedung Nasional Indonesia (GNI), Kantor Pos, Gedung Wisma Ahmad Yani, Rumah Gajah Mungkur, Makam Siti Fatimah Binti Maimun, Klenteng Kim Him Kiong, hingga rumah-rumah bersejarah di kampung Kemasan Gresik,” tuturnya, Senin (4/05/2020).

Ia menambahkan, dirinya sengaja memberi penugasan bagi siswa jurusan Ilmu pengetahuan alam (IPA) untuk membuat karya tiga dimensi supaya karya yang diciptakan mempunyai korelasi dengan disiplin keilmuan yang dipelajari oleh para siswa.

“Siswa IPA itu identik dengan ilmu-ilmu yang bersifat eksak. Sehingga, dalam tugas ini mereka akan bertemu dengan hal-hal teknis mulai dari proyeksi ortogonal, proyeksi sentral, prespektif dan sebagainya. Sebab, karya-karya seni berhubungan langsung dengan unsur teknik sipil dan arsitektur,” tambahnya.

Sementara untuk tugas seni rupa bagi siswa Jurusan IPS dan Bahasa cenderung diberikan tugas karya seni rupa dua dimensi seperti seni lukis dan grafis.

“Beda dengan siswa jurusan IPS dan Bahasa kami berikan tugas dua dimensi supaya bisa lebih ekspresif,” ungkap Kris Adji.

Adapun karya-karya yang telah terkumpul di sekolah akan dipamerkan secara virtual melalui instagram dan facebook Smanusa pada 4 Mei 2020 dengan tema Save Cagar Budaya Gresik 2020 agar karya-karya tersebut tetap dapat dinikmati masyarakat umum.

Sebagai panduan untuk menikmati karya, para siswa telah menyertakan Quick Response Code (QR Code) yang bila diakses akan muncul caption atau informasi mengenai karya tersebut.

“Awalnya saya hanya tahu bentuk rumahnya saja. Namun setelah saya mengerjakan tugas ini saya jadi tahu sejarah Rumah Gajah Mungkur,” ujar Kemas Nizarul Fikri, salah seorang siswa.

Hal yang sama dituturkan oleh Agus Syamsudin, salah satu pendamping siswa mengaku bangga dan sangat mengapresiasi berbagai macam karya yang telah dihasilkan oleh para siswanya selama proses belajar di tengah pandemi Covid-19.

“Karya ini telah membuktikan bahwa siswa telah berhasil menerapkan pembelajaran daring atau online,” paparnya.

Agus menjelaskan, sebagai bentuk apresiasinya kepada karya para siswanya, pihak sekolah berencana membuat museum bagi miniatur cagar budaya Gresik sebagai pelengkap media literasi di perpustakan di sekolahnya. (dny/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar