Pendidikan & Kesehatan

Belajar Daring, Anak-anak Pinggiran Hutan Berburu Wifi Milik Tetangga

Empat murid SDN Marmoyo, Kecamatan Kabuh, sedang mengerjakan tugas sekolah melalui pembelajaran daring, Rabu (22/7/2020)

Jombang (beritajatim.com) – Jam dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB, Rabu (22/7/2020). Anak-anak SD sudah ramai berkumpul di rumah Sumandi (36), Sekdes (Sekretaris Desa) Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Jombang. Murid SD itu duduk di atas kursi, melingkar sekitar lima orang. Semuanya mengenakan masker. Di depan mereka, satu unit smartphone tergeletak di atas meja.

Anak-anak kelas II SD itu memperhatikan tulisan dan gambar yang muncul di layar HP (Hand Phone) tersebut. Setelah itu, mereka sibuk menulis sesuatu di lembaran buku tulis. Semuanya mengerjakan. Itulah rutinitas yang dilakukan anak-anak Desa Marmoyo setiap pagi semenjak pandemi Covid-19. Mereka terpaksa menumpang di rumah tetangga untuk mendapatkan wifi gratis.

Pembelajaran online atau daring (dalam jaringan) menjadi permasalahan tersendiri bagi anak-anak yang di Desa Marmoyo. Betapa tidak, desa yang berada di pinggiran hutan dan perbukitan kapur ini tak ada sinyal (jaringan HP) untuk android. Setelah selesai mengerjakan tugas, mereka kembali ke rumah masing-masing.

Sumandi menceritakan, semenjak diterapkan belajar daring, anak-anak usia sekolah yang ada di Desa Marmoyo belajar di balai desa. Pasalnya, di kantor tersebut terdapat wifi gratis. Namun karena banyaknya anak-anak yang belajar di balai desa, akses internet bergerak seperti siput. Sangat lemot.

Nah, semenjak dimulainya tahun ajaran baru, pihak desa akhirnya meluaskan jaringan wifi tersebut. Dalam satu RT diberikan satu pemancar wifi yang merelai (memancar ulang) dari kantor desa. “Sekarang sudah ada sepuluh titik wifi di desa ini. Kalau awal-awal merebaknya Covid-19, anak-anak numpang wifi di balai desa,” kata Sekdes Marmoyo.

Sumandi mengatakan, karena letaknya yang berada di kawasan hutan dan perbukitan, sinyal HP sangat minim di Desa Marmoyo. Hal itu pula yang menjadi kendala bagi anak-anak sekolah yang melakukan pembelajaran daring. “Mereka akhirnya menumpang di tetangga saat belajar daring. Termasuk di rumah saya ini,” katanya berkisah.

Bahkan Sumandi juga merelakan smartphone miliknya dipinjam oleh anak-anak. Praktis, nomor WhatsApp milik perangkat desa ini dimasukkan dalam WAG (WhatsApp Grup) sekolah dasar setempat. Sehingga ketika ada tugas dari sekolah, terlebih dulu mampir di WA milik Sumandi. “Sekaligus membantu anak-anak agar mudah belajar. Karena tidak semuanya memiliki HP,” sambungnya.

Murid kelas 2 SDN Marmoyo sedang mengerjakan tugas pembelajaran daring di rumah tetangganya, Rabu (22/7/2020)

Sumandi mengatakan, yang numpang belajar di rumahnya bukan hanya murid SD. Namun juga tingkat SMP dan SMA. Namun untuk anak SMP dan SMA datang, mengunduh tugas lewat smartphone, kemudian dibawa pulang kembali ke rumah. Oleh karena itu, dari pagi sampai malam selalu ada yang belajar.

“Kalau ramai-ramai yang anak SD, karena didampingi orangtua. Kalau anak SMP dan SMA biasanya setelah pukul dua belas siang. Pokoknya dari pagi sampai malam selalu ada yang datang untuk numpang wifi gratis,” kata Sumandi sembari mengatakan bahwa seluruh jaringan operator seluler tidak ada yang ‘nyantol’ di Desa Marmoyo.

Sekadar diketahui, Marmoyo merupakan salah satu desa pelosok di wilayah utara Sungai Brantas Kabupaten Jombang.

Sebagian wilayahnya berupa hutan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro. Jika musim kemarau, desa yang penduduknya mayoritas bertani tembakau ini selalu kesulitan air.

Kepala SDN Marmoyo, Liwon membenarkan bahwa murid-muridnya belajar secara menumpang di wifi tetangga. Menurut Liwon, pembelajaran daring itu ditetapkan sejak beberapa bulan lalu. Yakni semenjak terjadinya pandemi Covid-19.

Awalnya, lanjut Liwon, pihak sekolah berencana melakukan pembelajaran daring dilengkapi kunjungan guru kepada kelompok di rumah salah satu siswa. Hal itu karena ada kendala teknis jika dilaksanakan pembelajaran daring, yaitu tidak ada jaringan HP di Marmoyo.

“Namun ada surat edaran dari dinas yang melarang pembelajaran kelompok. Tidak boleh melakukan pembelajaran tatap muka. Akhirnya pembelajaran dilakukan murni daring. Tidak ada kunjungan guru ke kelompok murid. Padahal sebelumnya kita sudah membentuk kelompok-kelompok murid,” ujar Liwon.

Liwon tidak memungkiri, meski pembelajaran secara daring, namun murid SDN Marmoyo masih berkelompok ketika mengerjakan tugas. “Sekali lagi, itu terbatasnya akses internet serta minimnya warga Desa Marmoyo yang memiliki handphone,” kata Liwon sembari meminta agar para walimurid benar-benar memperhatikan anak-anaknya ketika pembelajaran. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar