Pendidikan & Kesehatan

Begini Tanggapan Warga Surabaya Soal Vaksin Berbayar

50 ribu warga Surabaya melakukan vaksin bersama di Stadion Gelora 10 November Surabaya yang di gelar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya., Selasa (6/7/2021)

Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah melalui klinik Kimia Farma memberikan layanan vaksin individu atau mandiri bagi masyarakat. Layanan ini rencananya akan dibuka mulai Senin (12/7/2021) hari  ini.

Pro dan kontra di kalangan masyarakat pun mengundang spekulasi akan vaksin individu yang dikeluarkan. Bukan hanya memeberikan dukungan program Pemerintah,  tak jarang pula menolak dengan keputusan vaksin yang diperjual belikan.

Salah satunya Ely Prabowo warga Semolowaru ini yang mengaku senang mendengar kabar baik jika vaksin gotong royong sudah bisa dibeli karena ini bentuk upaya mensukseskan program vaksinasi. Setidaknya bagi mereka yang mampu dan mau beli ada pilihan dan segera melalukan tanpa harus menunggu bantuan dari Pemerintah.

“Jadi vaksinasi gotong royong ini melengkapi program vaksin gratis dari pemerintah agar di Indonesia segera tercapai herd immunity. Dan ini bisa menjadi pilihan masyarakat untuk vaksin,” ungkapnya.

Sementara ketika ditanya soal harga, ia menilai dengan harga hampir Rp700 ribu dua kali vaksin ini sebenarnya relatif,meskipun tidak mudah untuk dijangkau oleh semua kalangan.

Bahkan pemerintah memberikan harga tentu sudah aturan seperti halnya prosedur yang jelas dalam pemberian vaksin yang harus dilakukan di tempat.

“Kalo soal harga itu relatif ya walaupun saya juga lebih memilih menunggu vaksin gratis dari Pemerintah. Setidaknya bagi mereka yang memang “mampu dan mau” beli, mereka ada pilihan dan bisa segera melakukannya tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah,”imbuhnya.

Berbeda dengan Meirita Muktiana, warga Bronggalan Sawah (30) ini yang keberatan dengan program layanan vaksin berbayar yang akan diberlakukan.

Menurut ibu dua anak ini selain harga yang terlalu tinggi bagi masyarakat golongan menengah dan bawah, ia masih meragukan tindakan Pemerintah dengan membayar vaksin.

“Menurutku terlalu mahal, lagian larinya uang kemana juga belum jelas malah disalah gunakan yang ada lagi-lagi masyarakat kecil jadi korban saya ngga setuju,” ungkap Mei.

Sebelumnya Kementerian Kesehatan menetapkan tarif vaksin individu melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4643/2021 tentang Penetapan Besaran Harga Pembelian Vaksin Produksi Sinopharma.

Dalam keputusan ini tarif pembelian vaksin ditetapkan sebesar Rp 321.660 per dosis. Sehingga jika dua kali suntik maka membutuhkan dua dosis.

Kemudian tarif maksimal pelayanan vaksinasi ditetapkan pemerintah sebesar Rp 117.910 per dosis. Artinya untuk menyelesaikan tahapan vaksinasi harus melakukan dua kali penyuntikan.

Dengan tarif tersebut maka setiap masyarakat yang ingin melakukan vaksin individu harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 879.140 untuk menyelesaikan tahapan vaksinasinya. Biaya tersebut terdiri dari harga vaksin Rp 643.320 untuk dua dosis dan tarif vaksinasi Rp 235.820 untuk dua kali penyuntikan.[way/ted] 



Apa Reaksi Anda?

Komentar