Pendidikan & Kesehatan

Begini Curhat Guru PAUD ke Kejari Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Satu persatu guru yang tergabung dalam Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Banyuwangi mengutarakan uneg-unegnya ke Petugas Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi. Ungkapan mereka tak jauh dari seputar proyek yang ada di sekolahnya.

Percakapan dibuka dengan menunjukkan sejumlah temuan yang tidak sesuai oleh pihak kejaksaan. Pasalnya, ada indikasi penggelembungan anggaran pada proyek pengadaan barang untuk PAUD pada Biaya Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan di 2017.

“Kami tidak mau menerima dan tidak mau membayar barang yang tidak ada kuitansinya. Kami menolak, sampai sekarang belum kami bayar,” kata guru PAUD dari wilayah Kecamatan Giri, Rabu (6/3/2019).

Meski demikian, ada pula yang menerima dengan terpaksa. Bahkan, mereka harus menggunakan barang tersebut meski hasilnya tak sesuai. “Seperti, puzzle pangadaan tahun 2017 sama sekali tidak dapat digunakan. Ini kalau tidak dilempar tidak mau lepas. Seperti ATS juga, ini tidak sesuai harganya,” ungkapnya.

Ada pula yang mengutarakan mengenai pengadaan susu kemasan. “Satu paket itu Rp 7000. Karena takut kami juga ambil, tapi ada juga yang tidak ambil. Seperti alat pemeriksa mata, itu sebenarnya kami memang anjurkan. Tapi kami instruksikan jangan diambil semua, setiap kelas cukup satu saja. Tapi, ya bagaimana lagi, kami ini ya begini keadaannya,” kata Ketua Himpaudi Banyuwangi, Dinovita.

“Tapi kami menyambut baik, komitmen pihak kejaksaan yang akan memberikan pendampingan kepada kami. Kami tidak mau, waktu kami tersita dengan kasus semacam ini, kasihan anak-anak,” ucapnya.

Bahkan, beberapa guru tampak berurai air mata kala mengingat kenyataan yang dilakukan. Mereka teringat, saat penerimaan proyek pengadaan yang tidak sesuai harga, spesifikasi dan peruntukannya. Parahnya lagi, demi kelancaran proyek, menakuti para guru dengan mengatasnamakan kejaksaan.

“Sekarang sudah clear, para guru ini tahu siapa-siapa yang ada di sini. Dam kami jelaskan, kami tidak ada yang terlibat dalam proyek. Bahkan, kami berada di belakang para guru untuk membuka jalan transparansi anggaran,”

“Kedepan kami ingin dunia pendidikan khususnya di Banyuwangi ini lebih baik lagi. Kami juga akan buatkan semacam inovasi, kita akan membuat yang namanya festival anggaran yang satu-satunya digelar di Indonesia. Kita buka di tempat umum, kalau bisa itu nanti di tempel di depan sekolah,” pungkasnya.

Kejaksaan Negeri Banyuwangi mengindikasikan temuan penggelembungan anggaran BOP di PAUD se-Banyuwangi nilainya cukup fantastis. Yakni, antara Rp 700 juta samlai Rp 1 Miliar lebih. [rin/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar