Pendidikan & Kesehatan

Begini Cara Dokter Yosephine Pratiwi Sembuhkan Pasien Covid-19 di Malang

Malang (beritajatim.com) – Tempat praktek seorang dokter di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang beberapa bulan terakhir dipenuhi pasien berobat. Mayoritas, pasiennya adalah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dan kehabisan tempat tidur di rumah sakit.

Praktek tersebut adalah milik dr. Yosephine Pratiwi. Sayangnya, mulai Selasa (3/8/2021) besok, tempat praktek dokter Yosephine harus tutup sementara. Pasalnya, banyaknya pasien yang berobat justru memunculkan kerumunan. Meski ruang praktek hanya di sebuah ruko, ratusan pasien dari anak-anak hingga orang dewasa, banyak yang sudah disembuhkan.

“Ini hari terakhir saya beroperasi. Karena saya sadar ini berkerumun. Jadi saya putuskan untuk tutup sementara sampai ada tempat yang lebih luas. Sudah dijanjikan memang oleh pihak Lurah dan Camat akan diberi tempat, tapi ini masih koordinasi,” ungkap Yosephine, Senin (2/8/2021).

Yosephine menjelaskan, banyaknya pasien dengan terapinya ini terjadi pada beberapa bulan terakhir. Setiap harinya ada 80 pasien yang berasal dari daerah di Jawa Timur. “Karena kehabisan rumah sakit maka mereka pindah ke sini sebagai pengobatan alternatif. Sekarang sudah Jatim pasien saya ada yang dari Pasuruan, Trenggalek sampai Probolinggo,” tutur dia.

Pasien yang cukup banyak itu pun berbondong-bondong ke sana, karena terapi ala Yosephine ini sudah mampu menyembuhkan 200 pasien lebih. “Dan harganya itu kami relatif murah sekali terapi Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Dan ditambah obat-obatan jika gejalanya parah,” beber Yosephine.

Untuk terapinya sendiri, Yosephine mengaku awalnya nekat. Ada pasien yang kehabisan rumah sakit dan dia pun terpaksa menolong karena keadaan mendesak.

Yosephine menceritakan, waktu itu meramu ramuan uap itu, yakni terdiri dari campuran Dexametashon, Ambroxol sirup, NaCl, dan minya kayu putih. “Karena nekat waktu itu 2020. Ada pasien nekat dan dokter nekat. Tapi akhirnya sembuh karena kondisi memang mendesak,” ucapnya.

Sejak saat itu, dia lalu mengembangkan terapi ini hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang Raya memberikan lampu hijau untuk terapinya. “Iya sudah mendapat respon baik dan lampu hijau dari IDI Malang Raya. Kalau gak ada lampu hijau saya ya disuruh tutup,” tegas Yosephine.

Dengan penutupan terakhir ini pun nampak Yosephine ke pasien yang baru datang untuk belajar ke pasien lainnya yang sudah sembuh. “Pokoknya makan yang banyak kalau bisa makan 8 sampai 10 kali meskipun muntah tidak apa-apa. Karena dengan makan itu virus sulit berkembang karena tubuh ini butuh energi. Coba belajar itu ke pasien yang sudah sembuh itu,” terangnya.

Yosephine pun kerap dijuluki pasiennya dokter uap. Sejumlah pasien Covid yang sempat ia tangani, diberikan terapi berupa penguapan dari meramu obat obatan.

Terpisah, salah satu keluarga pasien yang sudah sembuh, Putri mengaku kakaknya, Rini awalnya terkonfirmasi positif Covid-19 tiga minggu lalu.

Kondisi kakaknya waktu itu adalah sesak nafas sampai ke dada. Tidak bisa bergerak. Duduk pun tidak bisa. Hanya bisa terlentang. Saturasinya pun waktu itu adalah 84. “Saya sudah bawa ke tiga dokter dan swab hasilnya positif Covid-19. Dan diberi obat sama dokter beli obat herbal gak sembuh,” tuturnya.

14 hari kemudian karena kondisinya memburuk, Putri pun membawa Rini ke terapi uap dokter Yosephine di Karangploso itu. “Akhirnya cuma berjalan tiga sampai lima kali sembuh dan sekarang beraktifitas seperti biasa,” tutur Putri yang berasal dari Singosari itu.

Dia pun berharap praktek Yosephine tidak tutup. Putri ingin pemerintah setempat mampu mencarikan tempat praktek yang lebih luas. “Karena sekarang ibu saya yang gantian harus terapi. Dan ini hari terakhir. Jadi bu Yosephine ini orang baik jangan sampai gak punya tempat. Sudah bantu banyak orang mas,” katanya. (yog/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar