Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Webinar Internasional Unhasy Jombang

Bagaiamana Otoritas Keagamaan di Era Media Sosial?

Webinar Internasional yang digelar Program studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang, Rabu (1/12/2021)

Jombang (beritajatim.com) – Program studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang menggelar Webinar Internasional yang mengupas tentang kontestasi politik ideologi keagamaan yang saat ini sedang berlangsung di era media baru digital, Rabu (1/12/2021) sore.

Dialog itu menghadirkan Prof Martin Slama dari Austrian Academy of Sciences, Syahril Siddik, Ph.D dari Leiden University dan Muhammad As’ad, MA. Dosen Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam Unhasy.

Menurut Prof Martin, kontestasi poilitik ideologi keagamaan, khususnya di Indonesia sebenarnya sudah lama terjadi, dan ketika masuk ke era media sosial saat ini lebih masif lagi.

“Ini terjadi ketika media sosial mampu membuka ruang dialog dua arah dan bisa terjadi secara cepat dan langsung tanpa penundaan sebagaimana dulu ketika merespon pesan dari media mainstream,” ungkap peneliti yang pernah berziarah ke makam Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut.

Selanjutnya, kontestasi akan terjadi ketika pesan melalui media (terutama media sosial) dibawa ke ruang publik, dimana setiap orang bisa mendialogkan dan menyampaikan pendapatnya bahkan mendebat bila tidak sepakat. Kontestasi tersebut yang kemudian memunculkan otoritas keagamaan baru.

“Seseorang yang memiliki otoritas tradisional kemudian masuk ke medsos, otoritasnya diuji. Karena mungkin di lingkungan tradisionalnya itu ia diakui otoritasnya, tapi ketika masuk ke ruang medsos itu belum tentu,” ujarnya.

Selanjutnya, otoritas keagamaan baru juga banyak muncul dari hasil konstruksi televisi. Syahril Siddik banyak berbicara tentang aktivitas dakwah kelompok salafi di media televisi yang juga turut berkontestasi memperebutkan otoritas keagamaan baru/alternatif.

Kontruksi itu, Syahril memaparkan, berupa memunculkan rutinitas karisma pendakwah. Seperti, ceramah setiap hari, bertindak sebagai seorang ustaz yang baik yang mendapatkan penghormatan dari penontonnya, memberi nasihat tentang persoalan-persoalan yang dialami penonton, dan terkadang juga untuk urusan politik.

“Para ustaz, penceramah, dan ulama TV tersebut memperoleh karismanya bukan hanya dilihat sebagai tokoh agama atau kealiman ilmu agamanya akan tetapi juga sebagai selebriti,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana otoritas keagamaan dikontestasi di televisi? Syarial memaparkan fakta bahwa setiap acara di televisi itu memiliki idiologinya masing-maisng yang itu dari produsernya masing-masing, kemudian ideologi tersebut bertranformasi menjadi komersialisasi, Islamisme dan salafisme.

Sehingga, platform media menjadi ruang publik yang diperebutkan oleh setiap golongan umat Islam untuk mengkalim tentang true Islam atau Islam yang sesungguhnya. Dan yang perlu direfleksikan juga bahwa kontestasi otoritas keagamaan yang sedang berlangsung saat ini ternyata juga menggambarkan ketidaksiapan ormas-ormas Islam arut utama –seperti NU dan Muhammadiyah- dalam menghadapi tren keislaman masyarakat muslim melalui media baru. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati

Unik dan Lucu, Lomba Sugar Glider di Surabaya

Aryo Seno Bicara Organisasi Sayap PDI Perjuangan