Pendidikan & Kesehatan

Badan Bahasa Teliti Hak Demokrasi Masyarakat Samin di Bojonegoro

Tim peneliti Bahan Bahasa sedang melakukan wawancara kepada Mbah Harjo Kardi Generasi Keempat dari pengikut ajaran Samin Surosentiko di Kabupaten Bojonegoro.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan riset terhadap keterlibatan hak demokrasi masyarakat minoritas di seluruh Indonesia. Salah satu objek yang diteliti adalah masyarakat Samin di Desa Jepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (4/2/2021).

Dari hasil riset yang dilakukan tim peneliti tersebut akan dijadikan sebagai model dan modul pembelajaran penguatan demokrasi dari segi kesusastraan, khususnya bagi masyarakat minoritas dan masyarakat luas secara umum. Selain itu, diharapkan bisa memunculkan bakat masyarakat Samin dalam menciptakan karya sastra.

“Atau bisa jadi dari penelitian ini bisa memunculkan bakat masyarakat Samin menciptakan karya sastra,” ujar Peneliti Muda Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Abdul Rohim.

Sejauh ini, kata Rohim, dari 40 karya sastra khususnya novel dan cerpen yang dijadikan landasan penelitian menyebut bahwa masyarakat minoritas masih jauh dari penggunaan hak demokrasi dan tertindas. Dalam karya sastra yang dianalisa, sebagian besar menyebut bahwa masih banyak masyarakat minoritas yang masih tertindas.

“Jadi kami ingin kroscek apakah betul minoritas itu tidak terpenuhi hak-hak mereka sebagai warga negara setelah masa reformasi,” jelasnya.

Dari hasil penelitian di lapangan, Rohim menilai bahwa sejauh ini, realitas masyarakat yang menganut ajaran Samin telah hidup berdampingan dengan masyarakat secara mayoritas dan tidak merasa terpinggirkan. Hak-hak demokrasi sebagai warga negara juga terpenuhi termasuk dalam gelaran pesta demokrasi lima tahunan.

“Samin sendiri sekarang juga sudah difasilitasi pemerintah dengan diterbitkannya warisan budaya tak benda (WBTB) sebagai komunitas adat,” ungkapnya.

Sementara Ketua Masyarakat Adat Samin Bojonegoro Mbah Harjo Kardi mengatakan, sejauh ini apa yang dilakukan sedulur sikep atau sebutan bagi masyarakat Samin adalah membaur dengan masyarakat pada umumnya. Membangun kerukunan dan gotong royong antarsesama.

Sesuai dengan nilai-nilai ajaran Samin Surosentiko, bersama-sama dan tidak membeda-bedakan (sami-sami). “Dalam bermasyarakat Samin memiliki ugeman atau pegangan yakni, jujur, sabar, srokal (terus berusaha), neriman (menerima keadaan). Jangan sampai iri dengki dan bicara yang jujur,” ujarnya.

Sementara dalam sikap politik, sedulur sikep yang yang ada di daerah Bojonegoro yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Ngawi itu tidak boleh secara langsung terjun ke partai politik. Namun, Mbah Harjo menyebut, untuk menggunakan hak demokrasi, masyarakat Samin diberikan kebebasan memilih dalam proses pilkada.

Awalnya ajaran Samin Surosentiko itu dibawa oleh Raden Qohar atau Samin Surosentiko yang melawan pemerintahan Belanda tanpa melakukan kekerasan, seperti diaplikasikan dari sikap-sikap yang jujur dan terbuka terhadap musuh dengan tidak membayar pajak dan tidak mau sekolah yang notabene adalah perintah dari kolonial Belanda.

Sikap tersebut dilakukan karena masyarakat Samin tidak ingin memberi maupun menerima apapun dari penjajah. “Tapi dalam ajaran Samin, jika sudah ada pemimpin dari orang Jawa yang memimpin bangsanya, berarti masyarakat sudah merdeka. Dan harus mengikuti peraturan yang berlaku,” tambah Bambang Sutrisno, anak terakhir dari Mbah Harjo Kardi. [lus/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar