Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Azimat 3M Bagi Anak-anak

Sidoarjo (beritajatim.com) – Sepanjang tahun 2021, Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) mengerjakan beberapa pogram. Terdiri dari (1) Pertemuan Sastrawan Sidoarjo, (2) Sayembara Penulisan Puisi, (3) Festival Sastra Sidoarjo, (4) Pertunjukan Sastra Jawa, (5) Diskusi dan Pelatihan Kritik Sastra, (6) Pemeran Buku dan Penerbit, (7) Rujakan dan Tausiah Sastra.

Sasaran semua program Komite Sastra lebih didominasi khalayak usia umum (dewasa). Tidak ada program yang secara khusus bergerak di khalayak anak.

Berdasar pada latar belakang tersebut, Komite Sastra sangat senang dalam mengerjakan program Kidung Anak Sidoarjo, Azimat 3M Melawan Covid-19. Sebuah program kerja bersama Akatara Jurnalis Sahabat Anak dan Unicef Indonesia. Pada program ini, Komite Sastra terlibat dalam perencanaan maupun pelaksanaan. Utamanya sebagai fasilitator.

Ketika pendaftaran Kidung Anak Sidoarjo dimulai pada tanggal 23 Agustus 2021 antusias anak-anak sangat tinggi. Kami mendapat banyak pertanyaan terkait teknis pelaksanaan sayembara. Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami menjawab sesuai visi, misi, dan petunjuk teknis program.

Adapun visi program adalah mendorong kepada anak-anak untuk berpartisipasi dalam gerak kehidupan. Mendorong sekaligus memberi ruang partisipasi. Pendapat maupaun impian anak-anak perlu diketahui oleh publik secara luas. Ruang partisipasi tersebut berupa puisi.

Pada situasi pandemi Covid-19 seperti saat sekarang, kesehatan anak-anak juga harus dilindungi. Perlindungan pertama tentu saja dari diri anak-anak sendiri. Oleh sebab itu, anak-anak perlu mendapatkan pemahaman tentang menjaga kesehatan selama pandemi Covid-19. Senjata dalam menjaga kesehatan adalah Azimat 3 M, yakni tradisi memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Jadi, program Kidung Anak Sidoarjo bukanlah sekadar lomba. Ada aspek pendidikan (edukasi) yang melekat di dalamnya.

Ketika pendaftaran ditutup pada tanggal 3 September 2021, ada 183 pendaftar. Jumlah ini jauh melampaui target dari panitia, yaitu 75 peserta. Pendaftar dikumpulkan dalam wadah grup WhatsApp agar bisa saling berkomunikasi.

Hari berikutnya, tanggal 4 September 2021, diadakan pelatihan bagi peserta. Pelatihan dilaksanakan melalui zoom meeting dan live Youtube. Pelatihan melalui zoom meeting diikuti oleh 120 peserta. Sedangkan sisanya mengikuti atau menyimak melalui video tayangan di Youtube.

Materi pelatihan pertama, pemahaman tentang Covid-19 dan pentingnya menerapkan Azimat 3M bagi anak-anak dan remaja. Materi ini disampaikan oleh Dr dr Atoillah Isfandi, M.Kes, seorang epidemologi dari Universitas Airlangga. Materi kedua tentang teknik menulis puisi. Disampaikan oleh Niswa Hikmah, penyair muda yang memenangi Sayembara Penulisan Puisi Sidoarjo. Materi ketiga tentang teknis pembacaan puisi yang disampaikan oleh Nurmutiara Lintang Sari (juara pertama Pekan Seni Mahasiswa Nasional bidang Pembacaan Puisi).

Sayangnya banyak peserta yang ternyata tidak mengirimkan karya puisi dan karya video pembacaan puisi. Jumlah peserta yang mengirimkan karya hanya 81 peserta. Padahal fasilitator bersama panitia lain sudah berulangkali mengingatkan kepada peserta. Tidak hanya mengingatkan, fasilitator dan panitia terus mendorong agar peserta bersemangat dalam berkarya.

Kami menduga, setelah mengikuti pelatihan, peserta menjadi sadar bahwa menulis puisi tidak bisa sembarangan. Membaca puisi juga tidak bisa asal-asalan. Mencipta dan membaca puisi membutuhkan ilmu dan teknik tertentu yang harus dikuasai. Apalagi forumnya berupa sayembara atau perlombaan. Peserta yang kurang memahami teknik mencipta dan membaca puisi menjadi tidak yakin bisa menang. Mereka akhirnya kesulitan dalam berkarya (mencipta dan membaca puisi).

Pelatihan menjadi bumerang. Jumlah peserta menurun drastis akibat adanya pelatihan. Peserta justru kesulitan mencipta puisi setelah diberi ilmu dan teknik penciptaan puisi.

Tetapi memang pilihan sulit ini harus dijalankan. Tanpa pelatihan yang memberi pemahaman tentang pemahaman Azimat 3M dalam melawan Covid-19, tentang teknik mencipta puisi, dan teknik pembacaan puisi; program Kidung Anak Sidoarjo bakal terasa hampa. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak terpapar Covid-19 hanya gara-gara tidak paham Azimat 3M. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak menciptakan puisi tanpa dibekali teknik penciptaan puisi. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak secara asal-asalan membaca puisi. Kita hanya berharap, setelah mendapatkan ilmu dan tekniknya, anak-anak secara perlahan akan terus mencoba mencipta dan membaca puisi. Kelak jika ada lomba lagi, mereka bisa lebih percaya diri.

Rendahnya pemahaman anak-anak dalam mencipta dan membaca puisi sebenarnya bisa dimaklumi. Pada situasi pandemi Covid-19 ini, setahun lebih mereka tidak masuk sekolah. Anak-anak mengikuti pelajaran secara online. Kondisi ini tentu membuat proses belajar mengajar kurang maksimal. Apalagi terhadap materi pelajaran yang bersifat tambahan, yakni sastra dan puisi. Artinya, pelajaran sastra (dan di dalamnya termasuk puisi) menjadi satu hal yang terabaikan dari proses belajar mengajar secara daring. Sekolah atau guru lebih fokus pada materi pelajaran utama. Seperti Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan lain-lain.

Lepas dari jumlah peserta yang menyusut, seperti yang kami sampaikan di muka, panitia sejak awal memang hanya menargetkan 75 peserta. Sehingga realisasi sebanyak 81 perserta sebenarnya sudah melampaui target.

Yang sangat menggembirakan, dari 81 perserta tersebut, seluruh karya puisinya menunjukkan bahwa anak-anak telah memahami pentingnya 3M sebagai azimat melawan Covid-19. Melalui puisi, anak-anak bersuara tentang pentingnya memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Mereka juga memahami bahaya besar jika sampai mengabaikan Azimat 3M.

Puisi karya anak-anak, secara umum, cukup indah. Mereka mampu menyusun kata-kata secara lugas dan lancar. Pesan dari puisi tersampaikan kepada pembaca.

Begitu pula dengan pembacaan puisi. Anak-anak terlihat sangat antusias dalam membacakan karya puisinya. Suara mereka bergelombang kadang lantang, kadang lirih, dan kadang cepat. Beberapa pembacaan bahkan mampu membuat penontonn terkesima.

Puncak program Kidung Anak Sidoarjo, Azimat 3M Melawan Covid-19, dilangsungkan melalui acara Pentas Padang Bulan, di Aula Dekesda Art Center, Jl Erlangga No 67 Sidoarjo. Acara ini berlangsung secara daring dan luring. Karya puisi dan pembacaan puisi, sebagai bentuk partisipasi dari anak-anak, pun akhirnya menemukan panggung yang tepat. [but]

Ribut Wijoto adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo


Apa Reaksi Anda?

Komentar