Pendidikan & Kesehatan

Australia Tuduh Indonesia Tangani Covid-19 dengan Buruk, Pakar Epidemilogi Membantah

Dr. Andriyanto, SH, MKes, Ahli Kesehatan Masyarakat (Epidemiologi) dan Ahli Gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa waktu yang lalu, Media Australia yakni Sidney Morning Herald (SMH) memprediksikan dengan berbagai variable bahwa Indonesia bisa saja menjadi Hotspot Covid-19.

“The world’s next coronavirus hotspot is emerging next door,” bunyi judul Sydney Morning Herald (SMH) dalam laporannya yang diterbitkan 19 Juni 2020.

Dalam laporannya tersebut the emerging next door merujuk pada Indonesia. Yang mana SMH memaparkan beberapa variable yang menunjukkan bahwa Indonesia bisa saja menjadi Hotspot atau pusat penyebaran baru Covid-19, yakni; banyaknya orang terpapar yang tidak terdeteksi, tingginya angka kematian, tingkat test Covid-19 yang rendah, relaksasi kegiatan masyarakat yang memungkinkan terjadinya gelombang ke dua, hingga tingginya prevelensi anak anak yang terpapar Covid-19.

“Hampir sejak awal, pemerintah Indonesia telah menangani pandemi ini dengan buruk,” kritik SMH.

Terkait hal itu, Dr. Andriyanto, SH, MKes, Ahli Kesehatan Masyarakat (Epidemiologi) dan Ahli Gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, mengatakan bahwa masih ada jalan terang untuk kesembuhan Indonesia dari Covid-19.

“Dari sudut pandang epidemilogi, Indonesia tidak sampai lah menjadi Hotspot Covid-19. Masih besar peluangnya untuk sembuh,” ujar Dr Andriyanto, kepada beritajatim.com, Selasa (23/6/2020).

Dr Andriyanto menerangkan bahwa segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah sudah on the track (sesuai jalurnya), serta jika upaya upaya tersebut dilakukan secara maksimal dan terdapat akuntabilitas dari masyarakat, maka pandemi ini akan segera selesai.

“Apa yang dilakukan pemerintah ini sudah sesuai, sudah ada test meskipun tidak terlalu banyak, tapi dilakukan secara masif. Kalau di Epidemilogi itu bukan seberapa banyak tes nya tapi prosentase dari yang positif,” terangnya.

Foto ilustrasi.

Ia pun menerangkan Jika dari prosentase yang di tes, hasilnya yang positif rendah yakni di bawah 10 persen, maka bisa dikatakan baik. Dan jika dari yang dites ada yang positif maka dilakukan tracing dan dilakukan pengkategorian, kemudian dilakukan treatment. Terlebih Indonesia juga sudah menyiapkan rumah sakit darurat dan rujukan khusus Covid-19.

“Semua itu skema penanganan pandemi menurut sudut pandang epidemilogi itu sudah sesuai. Untuk angka kematian itu kematian yang asli karena Covid-19 cenderung kecil, sedangkan kematian terbanyak karena adanya komorbit, bukan berarti itu jadi nilai pemaafnya bukan, tapi itu tidak bisa dijadikan patokan untuk mengatakan Indonesia jadi pusat penyakit atau Hotspot,” tambahnya.

Iapun mengatakan bahwa dalam penanganan Covid-19 ini, Indonesia cukup berbeda dalam penerimaan masyarakatnya. Hal itu karena budaya Indonesia. Dr Andriyanto mengatakan bahwa kunci suksesnya semua usaha penanggulangan ini adalah sinergisitas antara komitmen pemerintah dan masyarakat.

“Memang Indonesia tidak bisa disamakan dengan Italia, Korea, Jepang bahkan Australia, budayanya saja sudah berbeda. Indonesia punya wilayah dan budaya yang spesifik juga. Kalau di luar orang bisa merasa nyaman tanpa sentuhan fisik, tapi di Indonesia, bahkan habis salat, sowan ke orang tua juga sungkan gak salaman. Perlahan lah kita pastu bisa. Masyarakat juga pasti akan mulai menerapkan protokol kesehatan secara perlahan karena mulai mengerti pentingnya itu. Itu juga jadi pertimbangan di ranah epidimologis,” ungkapnya.

Ia pun mengatakan bahwa dalam penanggulangan suatu endemi dan pandemi ada dua hal dalam eradikasi atau penghapusan secara massal Covid-19 ini, yakni Komitmen Penanggulangan Pemerintah dan Behavior Change Community atau perubahan pola perilaku masyarakat.

“Kita tidak patah semangat, pemerintah sudah on track dan komitmen, selebihnya adalah komitmen masyarakat. Saat masyarakat sudah mau berperan untuk tertib dan sesuai protokol, saya yakin akan cepat selesai,” ungkapnya.

Ia pun mengatakan bahwa Indonesia sudah mulai ke arah yang lebih baik, dan momen New Normal harus dimanfaatkan untuk mulai berfikir dan bertindak sesuai protokol kesehatan, menerapkan pola hidup sehat dan bersih.

“Kita bisa optimis, saat ini sudah mulai ada wilayah yang orange bahkan sudah ada yang hijau, ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai sadar dan berperan aktif dalam penanggulangan Covid-19. Tentunya kita bisa sembuh, dan tidaklah sampai jadi Hotspot,” pungkasnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar