Pendidikan & Kesehatan

Ary Sunantiyo, Usia Tidak Halangi Hasrat Lanjutkan Pendidikan

Surabaya (beritajatim.com) – Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Ary Sunantiyo merasa beruntung masih diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan S1 di Program Studi Teknik Sipil Universitas Narotama Surabaya secara transfer sambil bekerja di Unit Planning and Development Universitas Kristen Petra Surabaya. Pria kelahiran 3 Januari 1968 itu pun berhasil menyelesaikan studinya dengan waktu yang tergolong cepat dan mengikuti prosesi wisuda online yang diadakan pada tanggal 24 Oktober 2020 lalu.

Dengan pengalamannya di bidang perencanaan dan pengembangan selama kurang lebih 20 tahun, ternyata tidak mudah juga bagi Ary untuk menentukan tema skripsi. “Waktu itu diskusi dengan Pak Ronny (Ronny Durrotun Nasihien, S.T.,M.T) dan oleh beliau disarankan untuk mengangkat tema BIM (Building Information Modelling) yang selama ini sedang saya dalami,” ceritanya.

BIM adalah suatu sistem yang mempermudah perencanaan pengembangan suatu bangunan. Misalnya saja jika ingin membuat proyek bangunan biasanya para arsitek menggunakan gambar 2 dimensi. Gambar 2 dimensi tersebut bisa membuat terjadinya bentrok antara arsitek dan ahli struktur.

“Kenapa terjadi kebingungan bahkan bisa sampai bentrok? Karena gambar kita hanya bisa melihat satu sisi bangunan dengan gambar 2 dimensi. Ketika ada perubahan sedikit yang harus dilakukan, gambar itu harus dirombak total. Dan penggunaan BIM ini akan mempermudah pekerjaan perencanaan dan pengembangan,” tuturnya.

Dengan sistem BIM yang menggunakan bentuk 3 dimensi, gambar keseluruhan bangunan yang akan dikerjakan bisa terlihat semuanya. Termasuk sambungan listrik dan pipa, sehingga ahli struktur dan mekanikal tidak kesulitan jika harus mengubah letak sambungan tersebut.

“Ketika ada yang harus diubah, maka keseluruhan gambar juga langsung berubah secara otomatis. Tentunya penggunaan sistem BIM ini akan sangat membantu pekerjaan bidang perencanaan dan pengembangan bangunan. Namun sayangnya belum banyak digunakan di Surabaya,” kata lulusan D3 UK Petra itu.

Oleh karena itu, Ary mengerjakan skripsinya sambil membagikan ilmu dan pengalamannya pada sesama teman mahasiswa. Dengan harapan bahwa sistem BIM akan banyak digunakan di proyek-proyek bangunan Surabaya di masa depan.

“Memang sistem ini tidak mudah dan itu yang membuat mahasiswa kebanyakan kurang tertarik karena terlalu rumit. Padahal jika sudah menguasai, sistem BIM akan sangat mempermudah pekerjaan. Rata-rata mereka yang mau belajar dan mulai menguasai sistem BIM ini karena tuntutan pekerjaan di bidang konstruksi dan perencanaan. Kalau nantinya juga dituntut untuk memahaminya, kenapa tidak mempelajarinya dari sekarang,” kata Ary.

Ary berharap dalam 2-3 tahun ke depan akan semakin banyak mahasiswa Teknik Sipil dan Arsitek di Surabaya yang mendalami sistem BIM. “Karena sistem BIM ini sebenarnya sudah tidak asing lagi di Indonesia, terutama di Jakarta. Sudah saatnya Surabaya juga mulai menerapkannya,” tutupnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar