Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Antisipasi Nataru dan Varian Omicron, Pakar Epidemiologi Unair: Tetap Protkes dan Vaksinasi

Ilustrasi penggunaan masker di belahan dunia sudah dibebaskan. (Foto: Unplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Menghadapi natal dan tahun baru sejumlah daerah menggencarkan vaksinasi kepada warga masyrakat agar terhindari dari Covid-19 atau varian baru Omicorn yang saat ini juga menghantui wilayah NKRI.

Kapolres Probolinggo, AKBP Teuku Arsya Khadafi mengingatkan masyarakat tentang kesadaran terhadap pentingnya vaksinasi di masa pandemi Covid-19, terlebih di masa menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

“Hari ini Polres Probolinggo menggelar vaksinasi lansia jelang Nataru, harapannya semakin banyak masyarakat lansia yang melaksanakan vaksinasi. InsyaAllah untuk Kabupaten Probolinggo bisa lebih aman, sehat dan masyarakatnya lebih kuat terhindar dari bahaya Covid-19,” katanya saat memantau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat lansia di Desa Kalirejo Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Jum’at (10/12/2021) pagi.

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, Arsya menghimbau masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan  dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan tidak melakukan kegiatan yang mengundang kerumunan pada saat perayaan Nataru demi menjaga kesehatan bersama dan mencegah penyebaran Covid-19.

“Jelang perayaan Nataru kali ini, kami imbau masyarakat untuk menerapkan prokes dan apabila tidak ada kegiatan yang sangat mendesak, lebih baik tetap tinggal dirumah, menghindari berpergian karena bahaya Covid-19 masih mengintai,” pungkas Kapolres. 

Sementara itu Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, bahwa apapun varian virusnya, masyarakat diharapkan menerapkan 100% protokol kesehatan dan melengkapi vaksinasi sebagai upaya pencegahan.

Hal tersebut ditegaskan Windhu dalam Dialog Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN Selasa (7/12/2021).

Windhu menjelaskan, Omicron memunculkan gejala yang kurang lebih sama, yakni seperti influenza pada umumnya, yang membedakan adalah tempat mutasinya. Cara penularan juga tidak jauh berbeda, yaitu melalui droplet dan bisa sebagai airborne (penyakit yang menyebar lewat udara) di tempat tertutup.

Selama masih terjadi penularan, ujarnya, maka mutasi akan selalu dapat terjadi. “Jadi prokes tetap nomor satu untuk mencegah tertular atau menulari orang lain, dan mencegah terjadinya mutasi baru,” tandas Windhu, “kalau ingin mencegah mutasi, jangan sampai terjadi transmisi,” lanjutnya.

Terkait percepatan vaksinasi, ia meminta masyarakat tidak pilih-pilih vaksin atau bahkan menolak vaksin. Sebab, ujarnya, vaksin memberikan perlindungan ketika kita terpapar virus, agar tidak sakit berat bahkan risiko yang lebih buruk lainnya.

“Kalau bisa 100% vaksinasi dosis lengkap, kita akan lebih aman,” tandas Windhu.

Apabila upaya-upaya tersebut dapat berlangsung baik, Windhu mengatakan cukup optimis dengan situasi pandemi saat ini, di mana Indonesia sedang dalam proses.

“Endemi adalah sasaran antara, goal kita adalah terkendalinya COVID-19 sehingga nyaris nol (kasus),” tuturnya.

Kesempatan yang sama, Deputi Eksternal Junior Doctors Network (JDN) Indonesia, Makhyan Jibril menambahkan bahwa selain prokes dan vaksinasi, sangat penting untuk membiasakan hidup sehat, agar seandainya terpapar virus, kita dapat terhindar dari sakit berat. Ia menjelaskan bahwa virus COVID-19 memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa dan penelitian masih terus dilakukan pada varian Omicron, termasuk tentang kemampuan virus tersebut menghindari sistem imun manusia. Sembari menunggu, masyarakat diharapkan terus menjalankan ikhtiar guna perlindungan kesehatan.

Jibril menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam melaksanakan upaya-upaya tersebut, sehingga komunikasi dan edukasi harus selalu digencarkan melalui berbagai cara.

“Pendekatan berbasis kultural dan komunitas juga harus dilakukan untuk vaksinasi dan prokes,” lanjutnya.

Menghadapi ancaman varian virus baru, Jibril meminta masyarakat jangan panik, sebaiknya bertindak rasional dengan cara menerapkan prokes serta melengkapi vaksinasi, khususnya percepatan vaksinasi lansia. Ujian terbesar new normal, dikatakan Jibril, adalah akhir tahun ini.

“Kalau kita bisa melewati ujian ini,semoga situasi terkendali ini bisa dipertahankan,” tuturnya. (ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar