Pendidikan & Kesehatan

Angka Kematian Bayi karena Pneumonia Tinggi, IDAI Imbau Pemberian Vaksin PCV pada Bayi

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 81 persen penyakit Pneumonia atau yang biasa disebut radang paru menyebabkan kematian bayi. Pneumonia adalah kondisi di mana seseorang mengalami infeksi yang terjadi pada kantung-kantung udara dalam paru-paru yang disebabkan oleh Infeksi virus, bakteri, ataupun jamur.

Tingginya penyakit pneumonia ini masih menjadi momok yang menakutkan di Indonesia, pasalnya sering kali gejala pneumonia terlihat tidak berbahaya. Padahal pneumonia menjadi salah satu pembunuh terbesar bayi dibawah usia 2 tahun dengan angka kematian di Indonesia sendiri, pada tahun 2018 terdapat 19.000 kasus. Artinya lebih dari dua anak meninggal setiap jam akibat pneumonia.

Bakteri penyebab pneumonia yang paling sering adalah pneumokokus (Streptococcus pneumonia) dan Hib (Hemophilus influenza tipe B). Sementara itu, virus penyebab pneumonia tersering yaitu respiratory syncytial virus (RSV), selain virus influenza, rhinovirus, dan virus campak (morbili) yang dapat menyebabkan komplikasi berupa pneumonia.

Gejala yang ditimbulkan ternyata tidak terlalu terlihat berbahaya, yakni demam, batuk, pilek, dan nafas terasa berat. Masa inkubasi penyakit ini terbilang cukup cepat. Jika kondisi badan drop atau tidak fit infeksi akan menyerang berbagai organ lainnya.

Oleh karenanya banyak menyebabkan kematian pada bayi dan balita, karena invansi bakteri atau virusnya yang cepat dan kemampuan komunikasi anak yang belum berkembang.

“Pada dasarnya dada akan terasa sakit dan sesak, tetapi bayi kan belum bisa ngomong apalagi kemampuan imunitas yang belum sempurna menyebabkan invansi virusnya cepat,” ujar dr. Dini Adityarini, SpA, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) & Paediatrician, Sabtu (7/12/2019).

Penyakit pneumonia ini sangat mudah menjangkiti siapa saja, tetapi karena kemampuan tubuh bayi belum sempurna dalam membentuk sistem imun dan antibodi maka bayi menjadi sangat rawan terpapar pneumonia. Selain itu, sebenarnya ada banyak anak dibawah lima tahun yang menjadi carier penyakit ini karena bakteri pneumonia dapat tetap tinggal dan hidup di hidung dan tenggorokan tanpa adanya invansi apapun. Oleh karenanya, penularannya menjadi sangat tinggi.

Pneumonia ditularkan dari, udara dan cairan ingus yang dikeluarkan dari batuk, bersin, pilek dan bahkan bercakap cakap. Begitu mudahnya pneumonia ini ditularkan, dr. Dini Adityarini, SpA, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) & Paediatrician mengatakan bahwa Ikatan Dokter telah merekomendasikan vaksin pneumonia.

Vaksinansi atau imunisasi menjadi hal terpenting nomer 2 yang mampu mengendalikan penyakit pneumonia ini. Menurut Dr Dini yang menjadi primer pertama adalah pemberian Air Susu Ibu secara ekslusif.

“Pemberitaan asi ekslusif menjadi primer atau landasam dalam menghindari pneumonia. Asi membuat imun bayi menjadi sempurna dalam menangkis virus dan bakteri berbahaya sekaligus,” ujar dr Dini.

Selain pemberian ASI eksklusif, orang tua juga harus sadar pentingnya imunisasi dasar lengkap dan memberikan vaksinasi PVC (pneumococal vaccine) yang khusus memberikan antibodi membasmi pneumonia. Saat ini vaksin PCV belum dicover pemerintah padahal Indonesia menduduki peringkat ke 8 dengan kematian balita dibawah 5 tahun dan 17 persen dikarenakan pneumonia.

Hal tersebut dikarenakan pneumonia dapat menginvansi organ tubuh lainnya seperti telinga, paru-paru, darah dan otak yang dapat menyebabkan ketulian, gagal pernafasan, hydrocapalus hingga meningitis.

“Pneumonia bisa menyebabkan mental retardation, hydrocapalus, paralys, learning disability, hearing loss, behavior problem, hingga death atau kematian. Oleh karenanya penting membangun kesadaran preventif dari pemberian asi ekslusif dan imunisasi vaksin PCV,” tukas dr Dini.

Pada bayi usia kurang dari 2 tahun, Vaksinasi PCV dilakukan sebanyak 4 kali. Terlebih vaksin ini juga dapat diberikan kepada orang dewasa karena pneumonia tidak hanya dapat menyerang balita, tetapi juga rentan bagi orang berusia lanjut atau diatas 65 tahun. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar