Pendidikan & Kesehatan

Anak Buruh Setrika Ini Jadi Juara I Olimpiade Fisika Tingkat Nasional

Akbar Maula (berseragam SMA), bersama ibunya, Siti Aisyah

Sumenep (beritajatim.com) – Akbar Maulana (18), siswa SMA Negeri 1 Sumenep meraih prestasi membanggakan tingkat Nasional. Siswa kelas XII ini berhasil menjadi Juara I dalam Olimpiade Sains Primagama Mencari Juara bidang studi fisika. Ajang bergengsi tingkat nasional tersebut digelar di Yogyakarta.

“Alhamdulillah, saya bisa menjadi Juara I tingkat nasional untuk olimpiade Fisika, setelah di babak penyisihan se-Madura, saya lolos bersama dua siswa dari Pamekasan,” kata Akbar, Selasa (04/02/2020).

Meski Akbar bisa disebut unggul hampir di semua bidang studi eksakta, namun ia menjatuhkan pilihan untuk menekuni ilmu fisika dibanding yang lain. Baginya, fisika itu ada di setiap sendi kehidupan.

“Misalnya saja saat kita naik sepeda motor, itu kan ada ilmu fisika yang digunakan. Semakin saya belajar banyak tentang fisika, semakin saya tahu kalau sistem dunia bekerja dengan ilmu fisika,” tandasnya.

Ia mengaku mempelajari fisika secara otodidak, selain dari bimbingan guru di sekolahnya. Ia tidak pernah mengikuti bimbingan belajar di lembaga tertentu, karena keterbatasan biaya.

“Paling saya belajar secara online dengan memanfaatkan konten gratis. Pokoknya saya mencari yang tanpa biaya lah untuk belajar fisika,” ujarnya.

Siswa yang kerap dipanggil profesor oleh teman-teman kelasnya ini mengaku ingin menorehkan prestasi sebaik-baiknya dan sekolah setinggi-tingginya.

“Saya ingin membahagiakan mama. Saya ingin melihat mama bangga. Saya ingin sekolah tinggi, supaya bisa jadi orang, dan membantu ekonomi keluarga” ujarnya.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku tidak tega dengan kondisi Siti Aisyah, ibunya. Apalagi sejak ayahnya meninggal, ibunya harus bekerja keras menghidupi dirinya bersama kakak dan adiknya.

“Mama itu kerja jadi tukang cuci baju dan setrika baju milik orang-orang. Setiap hari mama kerja keras untuk saya dan adik,” tuturnya.

Namun sejak 1 bulan lalu, ibunya tidak bisa lagi bekerja, karena penyakit diabetes dan jantung menyerangnya. Bahkan ibunya harus kehilangan satu kakinya.

“Saya tidak tega dengan kondisi mama. Saya ingin bisa membahagiakan mama,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. [tem/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar