Pendidikan & Kesehatan

Alumnus Ubaya Sharing Pengalaman Profesi dan Karir di Luar Negeri

Surabaya (beritajatim.com) – Program studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya) gelar Bukan Cuman Uang : Hybrid Webinar Series episode perdana bersama alumni. Alumni Akuntansi Ubaya berbagi kisah inspiratif mereka selama berprofesi dan berkarir di luar negeri.

Webinar ini bertajuk “Sharing Alumni : Tantangan dan Peluang Berkarir di Luar Negeri”. Yosaphat Puspo D. selaku Manager Assurance of PwC Houston, Texas dan Syenny Yu selaku Head of Corporate Finance & Development Vallianz Holdings Ltd., Singapore hadir sebagai pembicara dalam webinar series yang diadakan secara live streaming di akun channel YouTube Bukan Cuman Uang.

Bukan Cuman Uang merupakan channel YouTube, program baru dari prodi Akuntansi Ubaya yang hadir dengan berbagai macam topik menarik seputar dunia akuntansi yang tidak hanya membahas soal uang. Program dikemas dengan konsep hybrid webinar series. Webinar ini terbuka untuk umum secara gratis dan peserta yang mengikuti bisa memperoleh e-certificate di akhir acara. Rangkaian program Bukan Cuman Uang : Hybrid webinar series dipandu langsung oleh Ketua Prodi Akuntansi Ubaya, Dr. Dedhy Sulistiawan, S.E., M.Sc., Ak., CA. dan ditemani mahasiswa aktif Prodi Akuntansi Ubaya, Valentina Elim serta Jonathan Valentine sebagai Co-Host.

Pada kesempatan ini, Yosaphat Puspo D. menceritakan pengalaman dan perjalanan karirnya mulai dari awal hingga menjadi Manager Assurance of PwC Houston, Texas. Dirinya mengaku bahwa sempat mengalami culture shock saat pertama kali datang ke US. Menurut Yosaphat, tantangan berprofesi dan berkarir di luar negeri yaitu harus mampu beradaptasi dengan adanya cultural differences. Tidak hanya dalam berbahasa, tetapi juga penting untuk memahami budaya di luar negeri.

“Budaya kerja di Indonesia dan luar negeri terutama di US (United States) itu berbeda. Mulai dari cara manage pekerjaan lebih detail dan orangnya secara personal cenderung lebih vokal. Mereka terbiasa untuk mengungkapkan ide atau opininya, meskipun itu masih internship,” ucap alumnus Akuntansi Ubaya lulusan tahun 2012, Selasa (20/4/2021).

Perbedaan budaya lain yang dirasakan Yosaphat yaitu adanya separation cut antara working time dan personal time yang lebih terasa. Orang-orang di US menganggap personal time itu penting sehingga mereka bisa memilih tanggal di kalender untuk melakukan kegiatan atau hobi yang diinginkan. Semua anggota tim harus respect dengan personal time tersebut. Jika di US, personal time ditunjukkan lewat catatan di kalender agar semua orang tahu.

Selain menceritakan perbedaan budaya yang dirasakan selama bekerja di luar negeri, Yosaphat juga memberikan pesan dan beberapa poin mengenai important qualities agar sukses saat berkarir. Ada lima important qualities yang perlu diperhatikan dalam berkarir yaitu memiliki adaptability, courage and confidence, perseverance, result briefen and integrity, dan gratitude.

Sementara itu, Syenny Yu yang merupakan alumnus Akuntansi Ubaya tahun 2003 ini mengatakan jika pengalaman berkarir di luar negeri sedikit berbeda dengan Yosaphat yang sudah bekerja di Jakarta dan akhirnya ditransfer ke Texas, US. Dengan modal tekad dan percaya diri yang tinggi, Syenny Yu yang berhasil lulus dari Magister Akuntansi Ubaya langsung pindah ke Singapura. Saat itu, dirinya belum memiliki pekerjaan apapun.

Setelah pindah ke luar negeri, Syenny Yu menyadari jika sangat sulit menemukan pekerjaan baru terutama bagi lulusan Indonesia. Dirinya menyampaikan bahwa kompetitor pekerja bukan berasal dari warga asli Singapura saja, tetapi banyak dari negara lain seperti Malaysia, Tiongkok, Amerika dan negara-negara Eropa. Hal tersebut menjadi tantangan bagi lulusan Indonesia yang ingin bekerja di luar negeri terutama di Singapura.

Syenny Yu berpesan meskipun pandemi Covid-19, lulusan Indonesia tidak boleh berkecil hati. Menurutnya pasti masih ada kesempatan untuk berkarir di Singapura. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, mulai dari mencari perusahaan multinasional di Indonesia yang nantinya bisa ditransfer ke perusahaan luar negeri atau perbanyak pengalaman dengan bekerja di perusahaan Indonesia beberapa tahun sekaligus mengambil edukasi, gelar, atau sertifikat lain yang diakui di Singapura. Syenny Yu menegaskan bahwa perlu adanya competitive advantage yang dibawa oleh lulusan Indonesia.

“Jangan ambil CPA (Certified Public Accountant) Indonesia, kalian bisa ambil CPA Australia yang diakui di Singapore. Kemudian cari sertifikat-sertifikat yang lain, seperti CFA (Chartered Financial Analyst) yang sangat berpengaruh di Singapore. Jika kalian sudah bekerja di luar negeri, adaptasi budaya menjadi penting karena budaya disini cukup berbeda. Selain berani berbicara juga harus bisa menunjukkan ambisi dan kemampuan agar mendapat promosi atau kenaikan jabatan,” kata Syenny Yu, Head of Corporate Finance & Development Vallianz Holdings Ltd., Singapore. [adg/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar