Pendidikan & Kesehatan

Almarhum dr Miftah Jadi Representasi Perjuangan Dokter Melawan Covid-19

Foto Almarhum dr Miftah Fawzy Sarengat semasa hidup.

Surabaya (beritajatim.com) – Covid-19 kembali memakan korban dari kalangan dokter, ialah dr. Miftah Fawzy Sarengat seorang PPDS Penyakit Dalam FK Unair RSUD Dr Soetomo. Dokter berusia 34 tahun (kelahiran 1986) itu dinyatakan meninggal hari ini 10 Juni 2020.

Almarhum dr Miftah diberikan penghormatan terakhir dan prosesi pelepasan jenazah di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) yang dihadiri oleh Ketua IDI Surabaya dr Brahmana Askandar, Dekan FK Unair Prof Soetojo, dan segenap keluarga dan kerabat.

Meskipun demikian, pelaksanaannya sesuai dengan protokol pemulasaraan Covid-19, yakni jenazah tetap berada di dalam mobil ambulans dan prosesi penghormatan terakhir dilakukan secara terbatas dan dilepas langsung oleh Prof Soetojo.

Dr Brahmana mengatakan bahwa dr Miftah merupakan dokter ketiga yang gugur sebagai penjuang medis dalam melawan Covid.

“Dr Miftah merupakan dokter yang ke-3 yang gugur di Surabaya. Kami harap mudah mudahan ini menjadi yang terakhir. Perjuangan beliau harus kami lanjutkan karena perjuangan belum selesai, mudah mudahan Covid-19 segera berakhir,” ujar dr Brahmana, Rabu (10/6/2020).

Dr Bhramana tidak menjelaskan secara rinci kronologi terpaparnya dr Miftah karena sampai sekarang penyebab pastinya belum diketahui dan masih dilakukan tracing. Dr Brahmana pun mengatakan bahwa IDI terus melakukan imbauan dan mengevaluasi ulang bagaimana pencegahan penularan di kalangan dokter dan tenaga medis.

“Kami terus melakukan evaluasi dan upgrade alat pelindung diri, prosedur prosedur kami perbaiki dan diperketat, agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” tambahnya.

Prof Soetojo yang menjadi pemimpin prosesi pelepasan ini mengakui bahwa sosok dr Miftah merupakan dokter pembelajar dan pekerja keras.

“Kami merasa kehilangan sekali, karena dokter Miftah merupakan dokter yang rajin, pekerja keras, calon dokter terbaik kami. Karena saat ini almarhum masih menempuh pendidikan spesialis. Memang beliaunya tidak menyerah dalam mengobati pasien Covid-19, tapi Tuhan berkehendak lain. Jadi semoga almarhum diterima di sisi Nya dan diampuni semua dosanya,” ungkap Prof Soetojo haru.

Prof Soetojo pun mengatakan bahwa risiko menjadi dokter memang sangat tinggi di masa pandemi ini, oleh karenanya FK dan Unair memberikan penghormatan yang sebesar besarnya atas perjuangan dr Miftah, dan menjadikannya sebagai representasi perjuangan ikhlas dokter mengobati pasien Covid-19.

“Meskipun di tengah belajar, dr Miftah tidak gentar jika harus melakukan tugasnya mengobati pasien Covid-19. Oleh karenanya dr Miftah menjadi representasi perjuangan dokter yang ikhlas dan berdedikasi dalam penanggulangan Covid-19 ini,” pungkasnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar