Pendidikan & Kesehatan

Ahli Fisika Unair Pastikan Thermo Gun Tak Berbahaya

Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa waktu yang lalu, ramai dibicarakan oleh warganet terkait Thermo gun yang diduga merusak otak. Thermo Gun digunakan sebagai salah satu protokol kesehatan di masa pandemi hampir semua ruang publik memastikan pengunjungnya memiliki suhu tubuh tidak lebih dari 37,5 celcius dengan pengukuran menggunakan thermo gun.

Herri Trilaksana, M.Si., Ph.D. Staf pengajar di Departemen Fisika Universitas Airlangga pun memaparkan, kegunaan sebenarnya thermo gun serta cara kerjanya.

Thermo Gun sendiri merupakan alat pengukur suhu obyek dengan metode non-invasive atau tidak menyentuh obyek. Teknologi yang digunakan dalam pengukuran ini adalah dengan menggunakan pengukuran radiasi Infra Merah (IR) yang dipancarkan oleh obyek.

Setiap obyek yang berada pada suhu di atas nol mutlak (nol kelvin), atom atom penyusunnya pasti akan bergerak relatif satu sama lain. Semakin tinggi temperatur yang dimiliki suatu obyek, maka akan semakin besar getaran atom penyusunnya.

Getaran ini sering dikenal sebagai vibrasi atomik. Di dalam teori radiasi gelombang elektromagnetik, maka vibrasi atomik tersebut akan menghasilkan sebuah emisi gelombang elektromagnetik dalam rentang gelombang Infra Red (IR). Semakin tinggi energi yang dimiliki suatu obyek atau sistem, maka semakin tinggi vibrasi atomiknya atau semakin kuat intensitas radiasi gelombang Infra Merah yang diemisikan (dipancarkan) oleh suatu obyek.

Sensor di dalam alat ukur Thermo Gun memiliki bagian yang dinamakan thermopile yang berfungsi untuk menangkap radiasi infra red (IR) dari obyek yang ada di depannya, lalu mengubahnya menjadi panas. Panas yang dihasilkan ini akan diubah menjadi tegangan listrik sehingga kita dapat menampilkan pada layar (display).

Panas yang terukur inilah yang digunakan sebagai temperatur dari obyek yang diukur. Sehingga sensor IR berupa thermopile inilah yang merupakan bagian terpenting dalam thermos gun.

“Jadi, adalah tidak benar jika dikatakan bahwa alat ukur thermo gun yang digunakan dalam pengukuran temperatur suhu bandan manusia dalam kondisi pandemi covid ini berbahaya untuk kesehatan dan berakibat buruk pada kerusakan otak,” ujar Herri, Rabu (22/7/2020), kepada beritajatim.com.

Hal ini karena alat ukur thermo gun adalah alat ukur yang secara aktif menerima radiasi infra merah yang dipancarkan oleh obyek. Alat Thermo gun bukanlah alat ukur yang memancarkan radiasi ke obyek yang akan diukur lalu menerima pantulan radiasi yang dipancarkan kembali dari obyek.

Analogi yang sama terjadi pada indera mata atau telinga manusia. Mata dan telinga adalah indra yang menangkap rangsang dari lingkungan, bukan memancarkan sinyal tertentu ke lingkungan lalu menangkap pantulannya.

Dalam hal ini indra mata manusia menangkap cahaya atau foton yang datang dan masuk ke retina mata manusia, sehingga manusia dapat melihat obyek yang ada di depan matanya. Pun juga demikian dengan telinga manusia.

Genderang telinga manusia adalah jaringan tubuh yang sangat sensitif terhadap rangsangan mekanik berupa suara yang di dalam fisika dinyatakan sebagai rapatan udara saat gelombang longitudinal bunyi merambat. Gelombang mekanik ini diubah oleh genderang telinga manusia menjadi sinyal listrik.

Semakin besar amplitude simpangan yang dihasilkan, semakin besar pula tegangan listrik yang dihasilkan yang mengindikasikan semakin tinggi intensitas gelombang mekanik yang di dengar.

Lalu cahaya apa yang terlihat menyala pada alat thermo gun saat alat tersebut diaktifkan? Untuk alat ukur thermo gun dengan jangkauan yang tidak jauh, maka itu adalah berkas sinar LED koheren yang digunakan untuk membidik daerah yang akan diukur temperatur nya.

Tetapi untuk thermo gun yang memiliki jangkauan obyek yang jauh, biasanya dia dilengkapi dengan sebuah titik atau laser spot seperti yang terdapat pada alat penunjuk atau laser pointer.

“Jadi dia hanya digunakan untuk menginformasikan kepada kita sebagai pengguna bahwa daerah yang akan diukur adalah daerah yang ditunjuk oleh spot cahaya tersebut. Perubahan luasan daerah sensing thermo gun untuk jarak obyek yang berbeda,” terangnya.

Untuk cahaya LED, intensitas cahaya ini kecil dan tidak berbahaya bagi manusia. Akan tetapi untuk cahaya laser, hal ini berbahaya untuk mata manusia karena intesitas nya biasanya lebih tinggi.

“maka untuk mendapatkan hasil pengukuran yang teliti maka diusahakan jarak antara obyek dengan thermo gun tidak terlalu jauh sehingga dapat mengukur dengan teliti suhu tubuh manusia jika diterapkan pada pengukuran suhu tubuh manusia,” tambah Herry.

Lalu ada pendapat bahwa thermo gun itu sebenarnya digunakan untuk mengukur mesin, reaktor, dan benda-benda teknik yang bertemperatur tinggi, sehingga sebenarnya tidak aman bila digunakan untuk mengukur temperatur tubuh manusia.

“Opini ini tidak benar. Karena kerja thermo gun bisa berentang antara 0 sampai ratusan derajat celcius. Artinya dia dapat bekerja untuk mengukur suhu tubuh manusia, tetapi juga dapat digunakan untuk mengukur besi yang membara,” tukasnya.

Ketelitian thermopile dalam mengonversi gelombang IR menjadi panas inilah yang menjadikan alat ukur thermo gun ini memiliki ketelitian yang tinggi dan jangkauan pengukuran suhu lebar.

“Berbeda dengan termometer zat cair dengan bahan aktif alkohol maupun raksa. Demikian sekilas pengetahuan tentang cara kerja thermo gun, sehingga kita mengerti bahwa alat ukur suhu thermo gun adalah aman bagi tubuh manusia,” pungkas Herry. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar