Pendidikan & Kesehatan

Ada 2 ODP Covid-19 di Ponorogo

Kepala Dinkes drg. Rahayu Kusdarini(foto : Endra Dwiono).

Ponorogo (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo menyebut per Senin (16/3/2020) tercatat ada 303 oranng sehat dalam resiko (ODR). Membludaknya orang yang ODR Covid-19 atau Corona itu, dimungkinkan banyaknya Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang ke kampung halaman.

“Kemungkinan karena mau lebaran, jadi para PMI asal Ponorogo pada pulang. Sehingga orang dengan status ODR ini membludak,” kata Kadinkes Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini, Senin siang.

Selain ODR Covid-19, Kata Rahayu Kusdarini pihaknya juga mencatat ada 2 orang dalam status orang sakit dalam pemantauan (ODP) Covid-19. Dimana satu orang yang yang berstatus ODP itu baru pulang dari Malaysia, dan di rumah mengalami demam, batuk dan pilek. Dan orang ODP lainnya adalah orang yang baru pulang umrah pada tanggal 3 Maret lalu. Sebelumnya statusnya ODR, namun pada hari ke 13 pemantauan, yang bersangkutan mengalami demam, batuk dan pilek. “Orang pulang umrah ini mulanya berobat ke RSU Aisyiyah, namun kemudian dirujuk ke RSUD dr. Harjono untuk pemantauan lebih lanjut,” katanya.

Sekedar diketahui, sesuai intruksi dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes), dalam pencegahan dan perawatan orang dengan Covid-19 ini, kata Irin sapaan akrab Rahayu Kusdarini membagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama orang sehat yang disebut dengan orang sehat dalam resiko atau orang sehat dalam pemantauan (ODR). Dalam kelompok ini, orang tersebut tidak ada gejala sakit, namun dalam 14 hari datang dari negara atau wilayah terjangkit. “Nah saat ini ada 303 orang yang dipantau, masuk dalam kelompok pertama ini,” katanya.

Kemudian kelompok kedua orang yang gejala atau sakit. Dalam kelompok ini masih dijabarkan menjadi 4 kategori. Yakni kategori 2A orang sakit dalam pemantauan (ODP). Dimana yang masuk kategori ini orang yang dalam 14 hari baru datang dari negara atau wilayah terjangkit dan mengalami sakit. Namun tidak ada gejala pneimonia. Kategori 2B yaitu pasien dalam pengawasan (PDP). Orang datang dari negara terjangkit mengalami sakit dengan gejala pneumonia atau tidak tetapi ada riwayat datang dari Provinsi Hubei China. Atau kontak dengan kasus positif covid-19.

Kategori selanjutnya adalah 2C, yakni probable adalah orang sakit tetapi para ahli ragu menyimpulkan hasil labolatorium dan ditemukan pan-beta virus corona. Dan kategori terakhir 2D, konfirmasi yakni orang yang sakit dan hasil laboratorium ditemukan Covid-19. “Istilah suspek dalam pedoman penanganan Covid-19 sudah dihapus, karena orang-orang cenderung panik jika ada kata suspek,” pungkasnya.(end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar