Pendidikan & Kesehatan

65 Persen Walisantri Setuju Putra-putrinya Kembali ke Tebuireng

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Pesantren Tebuireng Jombang terus memantapkan kesiapan seluruh elemen dalam memenuhi protokol kesehatan. Pesantren yang didirikan pada 1899 ini juga melakukan serap aspirasi dengan walisantri. Hasilnya, 65 persen walisantri setuju putra-putrinya kembali ke pesantren.

Namun, pertimbangan soal waktu kapan santri akan mulai masuk pesantren, masih akan terus dievaluasi dengan melihat perkembangan situasi. “Kami juga akan siapkan Puskestren sebagai tempat perawatan kesehatan. Saat santri sudah kembali ke pondok, akan diberlakukan aturan-aturan ketat, untuk memenuhi protokol kesehatan,” ujar pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Rabu (17/6/2020).

Menurut Gus Kikin, tidak semua santri yang direncanakan kembali ke pondok. Tapi hanya santri kelas akhir, baik dari jenjang MTs/SMP maupun MA/SMA, dengan jumlah total 976 orang. “Kebijakan khusus juga akan diberlakukan untuk santri yang berada di daerah seperti Surabaya dan Sidoarjo,” sambung putra ahli falak ternama, KH Mahfudz Anwar ini.

Berdasarkan data yang ada, sebagian besar santri Tebuireng memang dari Jawa Timur. Jumlahnya mencapai 59,8% dari total 3.881 santri mukim. Disusul Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Kalimantan Timur.

Untuk itu, lanjut Gus Kikin, Tebuireng terus melakukan kajian dan evaluasi karena kondisi di lapangan yang dinamis. “Setelah datang, santri akan kita isolasi 14 hari di tempat khusus yang telah disediakan. Yakni di gedung Universitas Hasyim Asy’ari dan Ma’had Aly. Setelah 10 hari isolasi, akan kami adakan rapid test,” ungkap penerus KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) ini.

Walisantri yang mengantar, lanjut Gus Kikin, hanya sampai di parkir Kawasan Makam Gus Dur dan tidak diperkenankan memasuki area Pesantren Tebuireng. “Nanti masuknya lewat pintu di belakang pondok. Jadi nanti santri masuk tidak didampingi walisantri,” tambah Gus Kikin.

Posko cek point yang ada di gerbang pondok pesantren Tebuireng Jombang, Selasa (16/6/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]
Gus Kikin juga mengatakan bahwa menyongsong kebijakan normal baru, Tebuireng tengah bersiap-siap dengan membentuk Gugus Tugas Pesantren Tangguh guna memastikan kesiapan seluruh elemen dalam memenuhi protokol kesehatan. Dalam kaitan itu, Pesantren Tebuireng memastikan faktor kesehatan dan keselamatan santri akan menjadi pertimbangan utama.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Pesantren Tebuireng Nur Hidayat mengklarifikasi pemberitaan yang menyebutkan bahwa kegiatan belajar mengajar di Pesantren Tebuireng dimulai pada 20 Juni 2020. “Tanggal itu merujuk pada kalender akademik yang telah disusun sejak setengah tahun lalu. Jauh sebelum pemerintah mengumumkan adanya kasus infeksi Covid-19 di Indonesia,” jelasnya.

Jadi, kata Hidayat, jadwal itu sama dengan pemerintah mengumumkan awal tahun ajaran baru dimulai pada 13 Juli 2020. “Soal apakah proses pembelajarannya secara tatap muka atau daring, belum diputuskan. Prioritas kami, sesuai arahan pengasuh, adalah menyiapkan segala hal untuk memastikan kesehatan dan keselamatan santri terjaga,” imbuh pria kelahiran Mojokerto ini.

Saat ini, Gugus Tugas Pesantren Tebuireng sedang melakukan asesmen dan evaluasi terkait kesiapan seluruh elemen dalam upaya memenuhi protokol kesehatan. “Mulai dari sarana pembelajaran, kapasitas asrama, pengelolaan jasa boga, hingga aspek sanitasi dan fasilitas kesehatan. Adapun kapan jadwal santri akan kembali ke pesantren, akan diinformasikan lebih lanjut,” pungkasnya. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar