Pendidikan & Kesehatan

SMAM X Surabaya Siapkan Pembelajaran Tatap Muka

Surabaya (beritajatim.com) – Rencana Pembelajaran Tatap Muka (PTM) untuk sekolah di Surabaya mulai dilaksanakan pada Januari mendatang. Tentu saja di tengah pandemi Covid-19, PTM harus dilakukan sesuai dengan penerapan protokol kesehatan.

Untuk itu, sekolah-sekolah tengah berbenah dan mempersiapkan diri agar bisa meminimalisir risiko yang mungkin terjadi. Persipan tersebut juga terlihat di SMA Muhammadiyah X Surabaya. Sebagai simbolis akan dilaksanakannya PTM yang sudah berjalan dua minggu terakhir, pihak sekolah membentuk ‘Pelajar Tangguh’.

“Deklarasi pelajar tangguh ini bagian dari persiapan new normal. Di mana ada budaya baru di sekolah yang tidak sam seperti dulu. Deklarasi yang tertuang dalam ikrar peljar tangguh ini juga menandakan bahwa kita konsisten untuk memustus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujar Kepal SMAM X Surabaya, Sudarosman, Sabtu (5/12/2020).

Bahkan, lanjutnya, ia juga menyusun teknis pelaksanaan tatap muka. Salah satunya membuat jarak tiap kelasnya hingga 100 meter. Disamping membatasi jumlah siswa yang akan mengikuti PTM.

“Kami punya empat gedung terpisah. Setiap gedungnya hanya diisi satu kelas. Struktur baru juga kita bentuk jika siswa ada pelajar tangguh, kalau untuk sumber daya manusia (guru) ada tim psikologis. Jadi bisa ada 1 guru mapel dan 1 guru pengawas dari psikologi yang akan memantau siswa tiap kelasnya,” jabar dia.

Dikatakan Sudarosman, berbasis pada sekolah keberbakatan jadi pertimbangan utama dilaksanakan PTM disekolahnya. Apalagi, potensi atau keterampilan siswa tidak bisa dilakukan secara daring.

“Oleh karena itu, daring sudah kita siapkan seefektif mungkin. Karena masing-masing area gedung sudah disiapkan satu studio. Tidak akan banyak yang masuk. Maksimal 7 siswa setiap kelasnya akan ikut tatap muka efektif. Atau 2 minggu sekali siswa akan mengikuti kegiatan ini,” jawab dia.

Sementara itu, terkait akan dilaksanakannya PTM, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Surabaya berpendapat berbeda. Menurut Wakil Ketua Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) IDI Surabaya, dr. Meivy Isnoviana, saat ini Indonesia masih belum siap melakukan PTM.

Mengingat, pada November lalu ada peningkatan kasus sebaran Covid-19 yang berdampak pada penuhnya ruang perawatan rumah sakit. “Melihat situasi dan kondisi untuk saat ini kami tidak mengizinkan. Karena November kemarin ini ada peningkatan luar biasa sebagai imbas libur panjang. Jika dimungkinkan sekolah untuk melakukan PTM maka harus dilakukan dengan protokol kesehatan secara ketat,” ujar dia.

Namun, pihaknya mengkhawatirkan jika siswa abai dalam penggunaan masker. “Kalau kondisi sudah aman kita akan iyakan. Kalau kondisi masih seperti ini kita tidak izinkan,” kata dia.

Lebih lanjut, dr.Meivy mengingatkan agar masyarakat tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Minimal dengan penggunaan masker. Sebab, masyrakat sudah mulai abai dan bosan dengan grafik kasus yang tak melandai.

Karenanya ia menyarankan, sekolah harus mendesain jarak antar siswa. Tak hanya itu, keterlibatan pengawas sekolah dalm pelaksanaan PTM harus ada. “Guru-guru yang potensi risiko kita sarankan tidak mengajar. Kalau bisa satu guru dan satu pengawas harus ada setiap kelasnya,” pungkas dia. [adg/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar