Pendidikan & Kesehatan

Rapor SD dan SMP di Jember Diserahkan pada 20 Juni

Kepala Dinas Pendidikan Jember Edi Budi Susilo

Jember (beritajatim.com) – Para siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan menerima rapor pada 20 Juni 2020. Setelah itu mereka akan memasuki masa libur semester genap pada 22 Juni hingga 11 Juli 2020.

“Tangga 13 Juli sesuai kalender akademik nasional dan provinsi adalah pemberlakuan tahun ajaran baru 2020-2021. Tentu saja dengan catatan tak ada kebijakan lain terkait Covid ini,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jember Edi Budi Susilo, Kamis (4/6/2020).

Kepala sekolah dan guru sedang merekapitulasi hasil proses belajar jarak jauh. Belum semua sekolah tuntas menyelesaikan. Namun yang jelas kelulusan SMP diumumkan pada 5 Juni dan pada 15 Juni pengumuman kelulusan siswa sekolah dasar. Dispendik Jember terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar tak ada kekurangan ijazah dan SKHU (Surat Keterangan Hasil Ujian). “Petunjuk teknis dan bimbingan teknis pengisian ijazah sudah kami berikan,” kata Edi.

Edi telah menerbitkan surat edaran untuk petunjuk teknis tata cara pengisian rapor, ijazah, hingga kelulusan. “Kami sudah beri rincian petunjuk teknis yang dilakukan kepala sekolah dan guru. Misalnya, kelas 1 sampai 5 SD, di surat edaran tersebut telah kami beri panduan kriteria kenaikan kelas: ujian akhir semester kenaikan kelas dapat dilakukan dalam bentuk portofolio nilai semester ganji dan genap, serta prestasi yang telah diperoleh sebelumnya dalam bentuk penugasan, tes daring atau dalam bentuk assessment jarak jauh lainnya dengan ketentuan kompetensi inti menyangkut sikap dan tingkah laku bernilai baik,” katanya.

“Memang rasanya sakit, guru-guru saya selama proses tiga bulan terakhir kami berkunjung ke sekolah dan rumah-rumah keluhannya macam-macam. Anak-anak mengeluh bosan. ‘Kami tetap melaksanakan tugas-tugas yang ada. Tapi keluhan kami bukan masalah belajarnya, tapi kadang mama marah karena kuotanya minta lagi minta lagi’,” kata Edi.

Begitu juga dengan orang tua. Menurut Edi, orang tua merasakan pagi sampai malam mendampingi anak-anak belajar di rumah. “Jadi ini fenomena yang hampir menyeluruh. Di desa agak berbeda persoalannya. Kami mencoba ke Kecamatan Jelbuk. Di sana, kami tidak bisa mendapatkan kondisi ideal, karena di beberapa titik tertentu tidak ada sinyal (ponsel). Akhirnya kami minta ke guru-guru pinggiran agar mencoba pola lain, memberi tugas-tugas yang melatih anak-anak agar ada tanggung jawab,” katanya. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar