Pendidikan & Kesehatan

4 Indikasi Pasien Anak-anak Tertular Covid-19

Dokter Spesialis Anak RSUD Prof Dr Soekandar, dr Anggono Ratma AS, Sp.A. [foto : misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof Dr Soekandar menegaskan, ada empat indikasi pasien anak-anak bisa terpaparnya Covid-19. Yakni tanpa gejala, gejala abu-abu, gejala ringan dan gejala jelas yang pada umumnya seperti radang paru-paru.

Dokter Spesialis Anak RSUD Prof Dr Soekandar, dr Anggono Ratma AS, Sp.A mengatakan, tiga indikasi agak sulit diketahui jika tidak dilakukan uji swab atau melihat kontak dengan istilah kontak erat resiko tinggi. “Seperti bayi baru lahir dari ibu hamil yang sebelumnya sudah dinyatakan positif Covid-19,” ungkapnya, Rabu (8/7/2020).

Anak-anak sangat rentan sekali terjangkit covid -19. Karakter anak-anak memiliki ketakutan terhadap orang asing, hal tersebut merupakan tantangan terberat untuk bisa membuat anak-anak yang positif terpapar bisa koperatif menerapkan protokol kesehatan selama diisolasi di ruangan khusus isolasi anak.

“Penggunaan masker sendiri pada usia tertentu perlu diawasi, khususnya anak di bawah usia 2 tahun tidak dianjurkan karena sangat berisiko. Jadi supaya mereka bisa aman, tidak batuk, tidak bersin, kami harus bisa menyatu dengan mereka. Sebab penyebaran dropled menjadi salah satu cara penyebaran virus,” katanya.

RSUD Prof Dr Soekandar di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Apalagi, lanjut dr Anggono, jika pasien menangis dan beriak maka akan mengalami batuk dan batuk tersebut yang akan menyebarkan virusnya. Hal tersebut menjadi tantangan para dokter dan tenaga medis (nakes) si rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Kabupaten Mojokerto.

“Sehingga kita harus ekstra keras melakukan inisiatif cara pengawasan selama masa penyembuhan terhadap anak-anak. Terlebih psikologis yang dimiliki anak-anak tak seperti orang dewasa yang mudah untuk diarahkan dalam penerapan protokol kesehatan. Kita juga melakukan pemantauan terhadap mereka,” ujarnya.

Pemantauan dilakukan secara rutin, baik secara tatap muka atau langsung, maupun melalui video call. Fasilitas seperti berada di rumah sendiri pun disediakan, seperti pengadaan televisi, lemari es, pemanas air, dan kamar mandi dalam. Sehingga para pasien anak-anak akrab dengan suara dokter dan nakes.

“Mereka tidak ketakutan lagi dengan suara kita. Kita lakukan pendekatan seperti itu, akhirnya mereka bisa kooperatif. Bisa diajak mengobrol, diajari cuci tangan dan diajari cara mengontrol batuknya. Indikasi terbaru terpaparnya Covid-19 memiliki kemiripan dengan demam berdarah, yakni trombosit menurun, disertai diare,” jelasnya.

Penyebaran virus tersebut bisa terjadi melalui feses penderita, hanya saja pemberian pribiotik bisa dilakukan sebagai pencegahan. Sebab virus berada di feses juga selama 14 hari. Sehingga pemberian pribiotik rutin dilakukan untuk mengontrol fesesnya supaya virusnya tidak menyebar walau penelitian masih level 3 sampai 4.

“Para orang tua di luar sana bisa memahami kondisi saat ini yang tidak memungkinkan untuk anak-anak bisa berinteraksi bebas seperti sebelum pandemi terjadi. Solusi utama di rumah atau stay at home, buat anak-anak bahagia, hindari kontak dengan kehidupan di luar rumah bukan berarti dikurung,” tambahnya.

Jika punya kendaraan, tambah dr Anggono, bisa mengajak pasien anak-anak tersebut berkeliling-keliling. Tapi dengan catatan agar menghindari pasar dan kerumunan. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar