Pendidikan & Kesehatan

228 Siswa dan Guru MIN 1 Malang Diduga Terjangkit Carrier Difteri

Suasana MIN 1 Kota Malang.

Malang (beritajatim.com) – Madarasah Ibtidayah Negeri (MIN) 1 Malang meliburkan seluruh siswanya selama satu pekan lebih. Keputusan ini menyusul dugaan, sebanyak 228 siswa dan guru di sekolah ini terjangkit carrier difteri atau pembawa kuman difteri.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, bahwa awal mula ditemukannya kasus carrier bermula dari seorang siswa polisi kecil yang menderita sakit. Siswa itu kemudian melakukan uji labolatorium dan diduga membawa kuman difteri.

Setelah itu, sepuluh siswa kelompok dari polisi kecil juga dilakukan pemeriksaan labolatorium. Hasilnya, sepuluh siswa itu juga membawa kuman difteri. Takut menyebar, pihak sekolah akhirnya melakukan tes kepada seluruh siswa dan guru. Barulah diketahui sebanyak 228 jiwa terjangkit carrier.

“Carrier itu pembawa kuman difteri yang bisa jadi menular. Jadi awalnya itu ada salah satu siswa yang memang sakit, hasil lab terkena carrier. Karena khawatir menular semua siswa diperiksa dan hasilnya carrier. Sehingga di sini sebenarnya tidak ada yang difteri,” papar Sutiaji, Jumat, (25/10/2019).

Sutiaji mengungkapkan, data dari Dinas Kesehatan Kota Malang, wilayahnya terbebas dari kasus difteri. Dia menegaskan warga luar atau wisatawan untuk tidak takut berkunjung ke Kota Malang. Sebab, kasus yang ada di MIN 1 Kota Malang adalah carrier bukan difteri.

“Status Kota Malang sesuai dinas kesehatan aman tidak ada yang terkena difteri. Tidak perlu takut masuk ke Kota Malang. Paling penting adalah imunisasi. Sesungguhnya kita harus waspada karena harus ada imunisasi 7 kali bila tidak imunisasi dikhawatirkan mudah terserah penyakit,” ujar Sutiaji.

Sementara itu, Kepala MIN 1 Malang, Suyanto mengatakan atas temuan ini sekolah meliburkan siswa dan guru. Tujuanya supaya mereka terlebih dahulu sembuh sebelum beraktivitas kembali di lingkungan sekolah. Pihaknya pun telah menggandeng instansi terkait dalam pemeriksaan swab dan pemberian obat kepada siswa dan guru.

“228 itu carrier, jadi tidak ada yang difteri. Pengobatan tujuh hari. Setelah tujuh hari itu, baru swab lagi. Terakhir kita sudah sampaikan ke orang tua, dan mereka kami berikan obat,” ucap Suyanto

Suyanto mengungkapkan jumlah sebanyak itu berdasarkan swab yang dilakukan oleh pihak sekolah. Dia memastikan setelah melakukan swab dan pemberian obat seluruh siswa dan guru yang awalnya diduga membawa kuman telah dinyatakan negatif.

“Kemarin sudah swab mandiri, dan sudah negatif termasuk guru. Bakteri itu, saya sudah konsultasikan, 2 sampai 3 hari sejak profilaksis kecil kemungkinannya untuk menularkan, bakteri sudah lemah. Namun perlu dituntaskan sampai tujuh hari,” tandasnya. (luc/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar