Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

21 Ekor Sapi di Kawedanan Magetan Terjangkit PMK?

Sapi milik salah seorang peternak di Desa Sugihrejo, Kawedanan, Magetan yang dilaporkan sakit flu, Sabtu (14/5/2022)

Magetan (beritajatim.com) – Sebanyak 21 ekor sapi milik salah satu peternak di Desa Sugihrejo, Kawedanan, Magetan dilaporkan sakit pada Jumat (13/5/2022). Sapi-sapi tersebut mengalami flu dan kejang. Tujuh diantaranya mengalami kuku coplok.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan Nur Haryani membenarkan hal tersebut dan sudah menerjunkan tim untuk melakukan pemeriksaan di lokasi usai mendapatkan laporan dari pendataan kepolisian yang terlibat. Sapi milik peternak penggemukan sapi itu seluruhnya sudah diperiksa kesehatannya. Namun, tak bisa langsung diketahui hasil pengecekan sampel di laboratorium.

“Sampel kami ambil kemarin tapi sampai saat ini masih harus menunggu hasilnya. Dari pantauan paramedis kami, berangsur kondisi sapi sudah membaik hari ini,” kata Nur Haryani, Sabtu (14/5/2022)

Dia mengungkapkan kalau timnya sudah menyarankan peternak agar tak memasukkan atau mengeluarkan sapi untuk keperluan apapun selama masih ada yang sakit. Imbauan itu dijalankan dan membuat kondisi sapi sudah membaik. Meski dirinya tetap harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kondisi sapi.

Sapi-sapi dengan kondisi membaik ini punasih beberapa. Dia belum menerangkan secara rinci sapi mana saja yang sudah membaik, apakah sapi yang mengalami flu dan kejang-kejang ataukah sapi yang sempat mengalami kuku coplok atau lepas.

Selain di Sugihrejo, dia mengaku sempat mendapatkan laporan kalau ada sapi sakit di Desa Kiringan, Takeran, Magetan. Namun, setelah diperiksa mendalam bukan terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Sapi itu terjangkit penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF) atau demam tiga hari pada sapi. “Gejala BEF dan PMK hampir sama. Namun, PMK ada lepuhan di kuku dan mulut. Juga demamnya lebih tinggi,” kata Nur.

Dia mengungkapkan jika penyakit BEF tak sebahaya penyakit kuku dan mulut karena bisa diobati dengan mudah. Namun, beda cerita kalau ada penyakit penyerta yang lain. Dia mengharap jika ada ternak yang sakit, peternak segera menghubungi dinas peternakan guna pengecekan dan penanganan yang lebih dini sebelum penyakit menyebar.

“Sementara kali fokuskan pemeriksaan di pasar hewan. Untuk di tingkat peternak, jika belum ada laporan sakit atau terindikasi terjangkit PMK, kami mengharap peternak untuk memberikan vitamin dan melakukan penyemprotan kandang secara mandiri,” katanya. [fiq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar