Pendidikan & Kesehatan

154 Guru Besar se-ASEAN Legitimasi Bahasa Indonesia Melayu Jadi Bahasa Ilmiah Internasional

Surabaya (beritajatim.com) – Bertepatan dengan semangat Sumpah Pemuda dan menyongsong Hari Pahlawan, sebanyak 154 Guru Besar Bahasa Indonesia se ASEAN dari 31 Universitas hadir untuk menyongsong Bahasa Indonesia Melayu yang lebih legitimasi.

Kegiatan ini dikemas dalam tajuk Pertemuan Guru Besar ‘Bahasa Indonesia Melayu Sebagai Bahasa Ilmiah Internasional’ dan digagas oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebagai pioneer, Selasa (5/10/2019) di Hotel Golden Tulip Surabaya.

Rektor Unesa, Prof. Nur Hasan M Kes mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan momentum menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah internasional juga menjaga marwah Bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda.

“Ini momentum menjaga marwah bahasa kita untuk go internasional termasuk untuk pengimplementasian sumpah pemuda,” ujarnya Rektor Unesa tersebut.

Unesa pun sebagai tuan rumah acara yang sekaligus salah satu pioneer penggagas Bahasa Indonesia Melayu harus menjadi bahasa ilmiah internasional tengah mengusahkan segala cara untuk mendukung cita cita tersebut, diantara lain membuka beasiswa seluas luasanya bagi mahasiswa dari Republik Ceko, Turki, dan negara-negara victoria yang ingin mempelajari Bahasa Indonesia.

“Kita siapkan beasiswa belajar Bahasa Indonesia bagi mereka (mahasiswa asing,red) dan bekerjasama dengan Duta Besarnya agar percepatan yang diharapkan dalam forum guru besar ini bisa tertangkap tidak hanya di Asia tetapi sudah di Eropa,” tambahnya.

Prof Drs. Koentjoro, MBSc, Ph.D selaku Dewan Pertimbangan DGBI, Universitas Gajah Mada (UGM) kegiatan ini sudah selayaknya diadakan untuk memajukan ilmu pengetahuan.

“Sekarang kita menyadari adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kita diantara para ilmuwan sudah selayaknya mengadakan dialog untuk memajukan keilmuan,” ujar Prof Koen.

Ia pun menuturkan pentingnya Bahasa Indonesia Melayu menjadi bahasa ilmiah internasional, menurutnya bahasa Melayu merupakan bahasa ibu di beberapa negara ASEAN, memiliki penutur yang kurang lebih sebanyak 301.000.000 penutur se ASEAN, menjadi bahasa nasional ke dua di beberapa negara, dan diminati banyak negara di dunia.

Terpenting lagi, banyak Calon Guru Besar Indonesia dan beberapa negara lainnya yang terkendala mendapat gelar profesor hanya karena kesulitan mentranslasi artikel ilmiahnya dalam Bahasa Inggris yang menjadi syarat dan standar indeks jurnal kualitas satu dunia seperti Scopus.

“Ini kan menjadi penghambat juga tidak fair, apakah kemudoan kita harus ahli dan menguasai Bahasa Inggris saat kualifikasi kepala dan kita tidak di bahasa Inggris. Misalnya kita pakar karawitan yang sulit memadankan disertasinya ke dalam Bahasa Inggris, kemudian jurnalnya tidak bisa terindeks Scopus,” tukasnya.

Hal seperti ini yang sedang diperjuangkan dalam forum Guru Besar ini, bahwasanya Bahasa Indonesia Melayu harus menjadi bahasa ilmiah internasional. Menurut Prof Koen, ini adalah langkah menolong calon Guru Besar Indonesia karena tidak semua bisa Bahasa Inggris yang memang bukan bahasa ibu.

“Saatnya Surabaya melalui Unesa dan Forum ini melahirkan Sumpah Ilmuwan menggunakan Bahasa Indonesia Melayu secara internasional,” ujarnya.

Selain merapatkan barisan dan visi misi para Guru Besar, penggagas pioneer kegiatan ini juga sedang mengusahakan pengakuan Bahasa Indonesia Melayu ke sejumlah lembaga terkait seperti Scopus dan yang sejenis yang berwenang memberikan penilaian kompetensi ilmiah, Kemendikbud dan DPR yang berwenang dalam pendidikan agar Bahasa Indonesia Melayu memiliki legitimasi yang lebih besar dan berpengaruh.

“Saat ini kita dengan membuat kelompok Guru Besar yang turun ke hilir untuk memastikan gerakan ini berhasil dan ditiru oleh lainnya. Untuk langkah stategis politis kedepannya, akan diadakan rapat kerja kembali di Universitas Riau membahas progres pada Maret mendatang,” terangnya.

Dengan demikian diharapkan, Bahasa Indonesia memiliki legitimasi dan menjadi kebanggaan bagi para penuturnya. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar