Pendidikan & Kesehatan

Kisah Seorang Penyintas

11 Januari, Hari yang Selalu Dikenang dalam Hidup Nina

Nina sedang memandu acara di Radio Suara Jombang FM, Rabu (9/6/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Sebelas Januari 2021 adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidup Nina Mutmainah (38) dan keluarganya. Pada hari itu, Nina menyambut pagi dengan senyum kemenangan. Perempuan berjilbab ini mengawali hari dengan semangat berlipat.

Ya, pada Senin 11 Januari 2021, Nina dan keluarga selesai menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumahnya, Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur. Nina menjalani isoman selama 14 hari bersama sang suami, Nuruddin al Ashfihani (37), serta adik kandungnya, Anik Nurqomariah (28).

Selama itulah dia mengurung diri guna membatasi aktifitas. Selama itu pula, Nina harus berpisah dengan tiga buah hatinya. Hari-hari yang panjang dan melelahkan. Hari-hari yang berat bertarung melawan Covid-19. Walhasil, isoman yang dilakukan Nina berbuah manis. Dia dan keluarganya akhirnya terbebas dari virus asal Wuhan, China, itu.

Gundah di Ujung Tahun
Lembaran kalender 2020 hampir paripurna. Hati Nina sedang gundah gulana. Itu karena sejak beberapa hari terakhir tubuh penyiar radio ini terasa meriang. Tulang-tulangnya seperti remuk. Kepalanya pusing bagai dihantam godam. Meski tidak demam tinggi, namun sangat menggangu ketika ibu tiga anak ini melakukan aktifitas.

Padahal, selama ini mobilitas Nina sangat tinggi. Maklum saja, selain sebagai penyiar di Radio Suara Jombang FM (SJ-FM), Nina juga kerap turun ke lapangan untuk melakukan reportase kegiatan Bupati/Wakil Bupati Jombang. SJFM merupakan radio milik Pemkab Jombang, tepatnya di bawah naungan Dinas Kominfo (Komunikasi dan Informasi).

Gejala meriang yang dirasakan Nina tak kunjung membaik. Bahkan puncaknya pada Minggu (27/12/2020) malam, indera penciumannya tak bisa merasakan apa-apa. Berkali-kali dirinya menggosokkan minyak kayu putih di ujung hidung. Namun tetap saja bau harum minyak tersebut tak tercium. Mie instan yang aromanya menggoda selera, juga tidak tercium oleh Nina.

Ternyata Nina tak sendiri. Meski tidak tinggal serumah, adik kandungnya juga merasakan gejala serupa. Nina memang sempat bertemu dengan sang adik di rumah orangtuanya, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. “Kami sempat berkumpul. Saya dan adik-adik,” katanya.

Senin pagi, Nina izin tidak masuk kantor. Dia menyadari ada yang tidak beres dalam tubuhnya. Ada kecurigaan bahwa dirinya sudah terinfeksi Covid-19. Dari situ, dia diberi surat pengantar oleh kantornya untuk melakukan tes swab PCR (polymerase chain reaction) di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Ploso, Jombang.

Karena indikasi terpapar Covid-19 sangat kuat, Nina tak berani mengajak siapa-siapa saat ke rumah sakit rujukan tersebut. Ibu tiga anak ini takut virus yang menyerang tubuhnya menular ke orang lain. Nina berangkat mengendarai sepeda motor sendirian, membelah jalanan menuju rumah sakit pelat merah yang berjarak sekitar 12 kilometer dari kawasan Jombang Kota.

Aroma obat di RSUD Ploso menyambut kedatangan Nina. Dia kemudian mendaftar dengan menyodorkan surat pengantar. Tim medis berseragam APD (alat pelindung diri) lengkap melakukan pemeriksaan. Termasuk mengambil sampel lendir tenggorakan dan hidung untuk tes swab PCR. Namun hasil tes tersebut tidak bisa langsung diketahui. Harus menunggu beberapa hari.

“Sembari menunggu hasil tes swab, dokter meminta saya agar melakukan isolasi mandiri di rumah. Karena saya termasuk OTG (orang tanpa gejala). Saya juga diberi nomer telepon dokter untuk konsultasi selama isolasi. Juga dibekali obat dan sejumlah vitamin,” kata perempuan yang pernah kuliah di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang ini.

Sementara adik kandung Nina yang bernama Anik Nurqomariah juga melakukan hal serupa. Anik tes swab antigen di RSK (Rumah Sakit Kristen) Mojowarno. Hal itu berbeda dengan Nuruddin, suami Nina, meski merasakan gelaja yang sama, bapak tiga anak ini tidak melakukan tes. Namun demikian, tiga orang ini menjalani isoman secara bersamaan.

Keputusan itu cukup berat. Dengan isolasi tersebut Nina harus berpisah dengan tiga anaknya, Akmaliadzatul Ilmi (10), Husai Aqil (7), serta Widad Aiman Raihani (5). Beberapa hari menjalani isolasi, hasil tes PCR pun keluar. Nina terkonfirmasi positif Covid-19. Setali tiga uang dengan sang adik.

“Virus ini tidak kasat mata. Saya tidah tahu tertular di mana, tertular dari siapa, bahkan saya menulari siapa juga tidak tahu. Selama isolasi, anak-anak saya titipkan di rumahnya tantenya, di Desa Banjardowo, Jombang. Ini sangat berat. Saya harus berpisah dengan anak-anak selama 14 hari,” katanya mengenang, Rabu (9/6/2021).

Mendongeng Virtual

Nina siaran di Radio Suara Jombang FM, Rabu (9/6/2021)

Malam terus merayap di bulan Januari yang basah. Hujan turun hampir tiap hari. Nina, Nuruddin, serta Anik belum bisa tidur. Nina kemudian mengambil ponselnya. Memencet nomor yang ada layar alat komunikasi tersebut. Dia hendak meninabobokan anak-anaknya melalui sambungan video atau VC (video call).

Dari layar ponsel itulah muncul tiga anak-anak yang masih polos secara bergantian. Dengan penuh keceriaan mereka menceritakan aktifitas yang dilakukan selama sehari. Kepada sang bunda, mereka mengatakan kalau habis minum susu, siangnya makan tahu kress, sate ayam, jagung bakar, atau menyantap pedasnya mi Korean spicy chicken. Semua diceritakan oleh tiga anak itu dengan gayanya masing-masing. Mengalir penuh keceriaan, diselingi derai tawa.

Suatu malam, di hari yang lain, si anak pertama, Akmaliadzatul Ilmi (10), tiba-tiba rewel. Dia mengeluh tidak bisa tidur. Padahal, Ilmi sudah membaca buku beberapa halaman, lalu ditutup dengan merapal doa. Namun hingga doa dibaca berkali-kali, anak pertama dari tiga bersaudara ini tetap tak bisa memejamkan mata.

Lewat telepon VC itu Ilmi melapor kepada sang bunda. Dia menangis. Jadilah malam itu, Nina membacakan buku untuk anaknya lewat panggilan video agar Ilmi berhenti menangis. Sementara Nina membaca buku, Ilmi menyimaknya. Namun, saat Nina hendak mengakhiri baca buku lewat VC itu, tangis Ilmi kembali pecah. “Jadi saya membaca buku cerita lewat video call. Agar anak saya bisa tidur,” ujarnya.

Begitulah selama seminggu awal Nina dan keluarga menjalani isolasi. Dia harus melakukan pentas drama sebelum tidur guna menghibur anak-anaknya. Nina mengatakan, membaca buku sebelum tidur memang sudah menjadi kebiasaan anak-anaknya.

Oleh Nina, mereka digiring masuk kamar pada pukul 21.00 WIB. Sebagai pengantar tidur, Nina membacakan buku cerita untuk adik-adik Ilmi. Sedangkan Ilmi sendiri, karena sudah bisa membaca, dia membawa buku untuk dibaca. Itulah kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

“Anak-anak tidak mau tidur sebelum dibacakan buku. Nah, ketika harus berpisah, mereka harus adaptasi dengan kebiasaan baru. Maski begitu, selama berpisah dengan saya, mereka baik-baik saja. Syukur tiada terhingga, karena tante dan om-nya begitu sigap, mampu menggantikan peran kami sebagai orangtuanya. Sandang, pangan, papan, semuanya dicukupi dengan sangat layak,” ungkapnya.

Sembako Datang Tak Diundang
Matahari belum muncul dari ufuk timur ketika Nina melangkahkan kakinya ke ruang dapur. Dia menyalakan kompor gas. Sekali ceklek, kompor itu menyala. Namun api yang muncul kurang bergairah, menyala malas-malasan, warnanya tak lagi biru. Itu sebagai penanda bahwa gas di dalam tabung sudah sekarat. Nina harus membeli gas yang baru agar api menyala biru.

Namun untuk membeli sendiri ke toko tetangga tidak mungkin. Karena Nina masih dalam tahap isolasi. Dia tidak boleh keluar rumah. Ibu tiga anak ini kemudian membuka pintu rumah untuk melihat situasi. Namun alangkah kagetnya Nina, karena di depan pintu tersebut menumpuk berbagai macam sembako lengkap dengan aneka sayuran. Ada juga tabung elpiji di antara tumpukan sembako itu. Nina bertanya-tanya dalam hati, siapa malaikat yang mengirimkan sembako sepagi itu.

“Ternyata sembako itu kiriman dari guru-guru teman suami saya. Semua bersolidaritas. Ada juga teman-teman lain yang mengirimkan uang lewat transfer. Banyak yang membantu. Tentu saja, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih. Semoga kebaikan mereka semua dibalas yang lebih banyak oleh Gusti Allah,” kata Nina ketika ditemui di studio SJFM Jombang.

Nina menambahkan, tetangga sekitar rumah juga memberikan perhatian lebih kepadanya. Semisal seorang ibu muda yang akrab disapa Mbak Chariroh. Ketika Chariroh ke pasar, Nina menitip uang untuk belanja kebutuhan. Setelah ibu muda tersebut pulang dari pasar, aneka kebutuhan dapur itu diletakkan di depan rumah Nina.

Tentu saja, serah terima uang dan belanjaan itu tidak dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Nina sangat berhati-hati dan mematuhi protokol kesehatan. Agar virus yang menginfeksi dirinya tidak menular ke orang lain. Uang yang diserahkan untuk belanja tersebut disemprot menggunakan cairan antikuman.

Perhatian dan solidaritas sosial juga datang dari teman-teman dan kerabat Nina. Lewat pesan WA (WhatsApp) mereka meminta meminta shareloc (berbagi lokasi). Tak berselama lama, datang kiriman makanan, madu, suplemen, obat, air mineral satu galon, buah, dan lain-lain ke rumah Nina. “Termasuk juga kekuatan doa dari teman-teman. Semuanya sungguh luar biasa. Semuanya bisa menguatkan saya selama isolasi,” sambungnya.

Bagaimana dengan kebutuhan obat dan vitamin? Nina mengungkapkan, untuk kebutuhan obat dan vitamin, Nina meminta tolong adik-adiknya untuk membeli ke apotek. Lagi-lagi, semua dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. Tidak bersentuhan langsung.

Selain minum obat dan vitamin sesuai anjuran dokter, selama isolasi Nina dan keluarganya juga berusaha tetap memelihara kegembiraan. Karena kegembiran itulah yang menjadi salah satu faktor meningkatkan imunitas tubuh.

Nina mengisi masa isolasi dengan nonton video patchwork (menyulam) dan craft (kerajinan). Bahkan ketika ada waktu, dia mempraktikkan secara langsung. Selain itu juga mengisi hari-hari isolasi dengan membersihkan rumah, mencabuti rumput, serta memanen daun singkong untuk dimasak.

Sedangkan sang adik, mencari kegembiraan dengan menikmati video-video lucu lewat ponselnya, kemudian melakukan VC dengan teman-temannya, serta keponakan. Anik juga masih sempat menjadi moderator dalam sebuah webinar.

“Kalau suami saya menikmatinya dengan cara mencermati komentar para netizen di media sosial. Tentu komentar yang lucu dan bikin ngakak. Dia juga masih melakukan hobinya mencari padanan lagu India yang nadanya sama dengan lagu dangdut, lalu dibikin kuis,” kata Nina berkisah.

Covid-19 Bukan Aib
Meski jarum jam seakan malas berputar, pergantian hari bergerak seperti siput, namun Nina dan keluarganya mampu bertahan selama 14 hari untuk menjalani isolasi. Selama itu mereka terus berkomunikasi dengan dokter RSUD Ploso. Keluarga ini mendapat arahan medis.

Walhasil, 11 Januari 2021, seluruh keluarga ini berhasil memenangkan pertempuran melawan ganasnya Covid-19. Nina dan adiknya tidak lagi merasakan meriang, pegal-pegal, diare, serta gejalan klinis lainnya. Indera penciuman mereka juga sudah normal. Bisa mencium bau khas minyak kayu putih, bau terasi goreng, serta bisa mencium bumbu mie instan yang menggugah selera.

Masa isolasi pun selesai. Sesuai aturan, Nina tidak melakukan tes PCR lagi. Namun dia hanya melaporkan ke puskesmas setempat bahwa masa isolasi sudah selesai. Kemudian Nina mendapatkan selembar surat keterangan tentang selesainya masa isolasi tersebut.

“Sebenarnya pada hari ke-10 isolasi, kondisi saya sudah membaik. Begitu juga dengan adik. Kalau suami saya sepertinya masuk OTG (orang tanpa gejala). Karena dari awal tidak merasakan gejala klinis,” ungkapnya.

Nina tak henti berucap syukur. Selama menjalani isolasi, dia dan keluarga banyak mendapatkan pelajaran berharga. Tentang kebersamaan, kerjasama, kepedulian, kasih sayang, juga tentang gotong royong. Dan yang tidak kalah penting adalah pelajaran tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Nina juga berpesan bahwa Covid-19 bukanlah aib. Oleh sebab itu, ketika seseorang merasakan gejala-gejala yang mengarah ke virus korona, segera memeriksakan diri ke rumah sakit rujukan. Tidak perlu malu dan takut. Karena, lanjut Nina, virus tersebut tidak terlihat. Hanya bisa diketahui melalui uji laboratorium.

“Saya sendiri tidak tahu tahu terinfeksi dari mana, tertular dari siapa. Padahal selama ini saya selalu mengenakan masker, juga mencuci tangan pakai sabun. Tapi mungkin juga saya lengah, sehingga saya tidak sadar kalau tertular,” kata Nina.

“Oleh sebab itu jangan sampai kendor dalam menerapkan prokes. Karena hal tersebut adalah kunci memutus rantai penyebaran Covid-19. Memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta mengurangi mobilitas,” pungkasnya berpesan. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar